Makassar Kota Budaya dan Niaga (World Class City)

0
1174

Oleh Fiam Mustamin

Doktor dokter Ulla Nuchrawaty Usman Nurdin,  bendahara umum Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan masa kepengurusan Prof Beddu Amang tiga periode tahun 1989 sd 1991 sebagai ketua umum, menyimpulkan dalam disertasinya, Makassar dalam era globalisasi dan teknologi menjadi World Class City (kota dunia).

Gagasan pandangan itu diuraikan menjadi beberapa kesimpulan dan saran dari disertasinya yang dipertahankan  dihadapan para guru besar pengujinya dengan judul: Studi Tentang Penerapan Kebijakan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Bidang Pendidikan di  Kota Makassar di almamater Universitas Negeri Makassar tanun 2009.

- Advertisement -

Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang menahan laju pertumbuhan dan pengembangan kota Makassar menuju yang dimaksud dengan World Class City/kota dunia.

Dari warisan sejarah akibat dari perang Makassar/Gowa  yang menghancurkan sejumlah monumen sejarah peradaban yang meruntuhkan benteng kebanggaan Sombaopu dari kolonial Belanda serta memecahbelah kekerabatan suku bangsa Bugis dan Mangkasara.

Terjadinya kekacauan paskah Kemerdekaan dari gerombolan  pemberontakan  gerilia Kahar Muzakkar yang membakar sejumlah pusat-pusat peradaban dari rumah rumah adat dan  Sao Raja di sejumlah daerah.

Lalu di era pembangunan yang ditafsirkan sebagai lambang kemajuan dan kemodernan untuk merombak dan meruntuhkan sejumlah bangunan tua peninggalan lama dari era Portugis dan Hindia Belanda yang digantikan dengan bangunan baru untuk perkantoran, mal, ruko dan sebagainya.

Di kota Makassar, kita tidak lagi bisa menyaksikan bangunan Grand Hotel di jalan  Ahmad Yani, sejumlah losmen penginapan, bioskop Istana dan Benteng serta kawasan yang tembus pandang ke pantai dan laut depan benteng Rotterdam.

Kota Budaya

Tidak banyak kota yang memiliki keunggulan karena warisan dan peninggalan bangunan yang menyimpan karya  peradabannya seperti kota Medan, Bukit Tinggi, Palembang, Bandung, Jakarta, Malang, Surabaya, Semarang dan Makassar sendiri. 

Warisan peradaban bersejarah itu dapat dilihat dari karya-karya besar misalnya ilmu tasauf khalwatiah dari Tuanta Salama Maulana Syech Yusuf, kecendekiaan dengan ilmu perbintangan dan bahasa dunia dan diplomasi dari Karaeng Patingaloang. Ilmu pelayaran dan tata perniagaan dari Ammana Gappa.

Kemudian warisan karya sastra terpanjang I Lagaligo tentang penciptaan bumi dan peradaban dari muasal nanusia.

Kesemua yang diutarakan itu hendaknya bisa menjadi kajian yang diaktualisasikan pada jaman kini dan  tidak hanya menjadi warisan bacaa pustaka belaka.

Saatnya warisan keunggulan keunggulan itu hendaknya menjadi studi khusus di Perguruan Tinggi dan naskah narasi untuk pergelaran seni berupa pentas panggung ataupun dengan media audio visual.

Kota Niaga 

Sejak Portugis menguasai perdagangan hasil bumi nusantara

khususnya rempah-rempah di bandar Makassar,  maka saat itu kota Makassar berkembang pesat dan menjadi perebutan kekuasaan penaklukkan oleh bangsa-bangsa asing kala itu untuk menguasai wilayah perdagangan potensial di bandar Makassar.

Kota Makassar ibukota propinsi Sulawesi Selatan dapat mengukuhkan diri dengan ciri dan potensinya  sebagai pusat pertumbuhan dan pengembangan budaya dan niaga di kawasan wilayah Indonesia Bagian Timur khususnya.

Penulis adalah budayawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here