Macca na Malempu’, Warani na Magetteng; Modal Utama Mewujudkan KKSS yang Tangguh dan Unggul

0
957
- Advertisement -

Kolom Zaenal Abidin

Penulis amat tertarik dengan tema Rapat Pleno Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPP KKSS), yang akan berlangsung, Ahad besok, 18 Desember 2022. Tema tersebut berbunyi, “Macca na Malempu’, Warani na Magetteng; Modal Utama Mewujudkan KKSS yang Tangguh dan Berkeunggulan.

Mengapa penulis tertarik? Sebab, acca, lempu’, warani, gentteng merupakan nilai utama yang terpelihara dari kebudayaan orang-orang Bugis. Nilai utama ini menunjukkan suatu keseimbangan dan harmonisasi kehidupan orang-orang Bugis.

A. Rahman Rahim dalam buku, Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis, terbitan Lembaga Penerbitan Unhas, 1985, menyebutkan ada enam nilai-nilai utama dalam kebudayaan Bugis. Keenam nilai tersebut, adalah: kejujuran, kecendekiaan, kepatutan, keteguhan, usaha, dan siri’.

Kejujuran (jujur), dalam bahas Bugis disebut lempu’. Menurut A. Rahman Rahim, kata jujur ini seringkali diartikan sebagai ikhlas, benar, baik dan adil. Jujur ialah perbuatan baik, pikiran benar, tingkah laku sopan lagi takut kepada Tuhan. Orang yang jujur dalam kesehariannya sering digelari To malempu’. Jujur ini sering dilawan katakan dengan culas, curang, dusta, khianat, seleweng, buruk, tipu, aniaya.

- Advertisement -

Di dalam buku Latoa: Antropologi Politik Orang Bugis, H.A. Mattulada mengatakan; “Kejujuran tak mudah dilaksanakan, hanya dengan cara membiasakan diri berbuat jujur, kejujuran itu dapat dihayati dengan sebaik-baiknya.” Jika orang jujur dan berbuat baik bagi sesama manusia, berarti ia berbuat baik bagi dirinya sendiri dan anak keturunannya kemudian. Sedangkan bila ia berbuat buruk dan culas, akan membawa akibat buruk pada diri sendiri dan anak keturunannya kemudian.

Kecendekiaan (acca). Cendekia ialah tidak sulit dilaksanakan, tidak ada pembicaraan yang sulit disambut dengan kata-kata yang baik dan lemah lembut serta percaya kepada sesamanya manusia. Orang yang memilki nilai acca sering disebut Toacca atau Tokenawanawa. Nilai kecendekian menurut kebudayaan Bugis letaknya selalu berpasangan dengan nilai kejujuran, keduanya saling mengisi. Karena itu, terdapat ungkapan, “jangan sampai engkau ketiadaan kecendekiaan dan kejujuran”.

Kepatutan (pantas, layak). Dalam bahasa Bugis disebut asitinajang, dari asal kata tinaja. Contoh asitinajang dalam kebudayaan Bugis, “duduki kedudukanmu, tempati tempatmu”. Mengambil sesuatu dari tempatnya dan meletakkan sesuatu pada tempatnya , termasuk perbuatan mappasitinaja. Dan, merusak tata tertib adaah kezaliman.

Banyak atau sedikit tidak dipersoalkan oleh sitinaja. Karena dalam kebudayaan Bugis terdapat ungkapan, “ambil yang sedikit jika yang sedikit itu mendatangkan kebaikan, dan tolak yang banyak apabila yang banyak itu mendatangkan kebinasaan.” Ini juga menjunjukan bahwa sifat tamak (ngoa), serakah (kella-kella) tertolak dalam kebudyaan Bugis.

Keteguhan (teguh), dalam kosa kata Bugis disebut getteng. Teguh dapat berarti tetap asas, setia pada keyakinan, atau kuat dan tangguh dalam pendirian, erat memegang sesuatu. Tociung (cendekiawan Luwu) berkata, ada empat perbuatan nilai keteguhan: (a) Tak mengingkari janji, (b) tak menghianati kesepakatan, (c) tak membatalkan keputusan, tak mengubah kesepakatan, (d) jika berbicara dan berbuat tak berhenti sebelum rampung.

Usaha (kerja keras), dalam kosa kata Bugis disebut reso. Usaha merupakan nilai kebudayaan yang sangat memberikan rasa positif untuk melakukan kerja keras. Usaha akan mendapatkan hasil yang maksimal. Usaha atau kerja keras merupakan perjuangan yang tidak sia-sia. Usaha yang sungguh-sungguh mendapatkan balasan yang sesuai. Ajjama tongeng-tongeng, yaitu bekerja dengan penuh semangat dan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaannya. Resopa Temmangingi Napolei Pammase Dewata. itu artinya usaha yang sungguh-sungguh akan membuahkan hasil yang maksimal.

Rasa malu (malu, harga diri), dalam kosa kata Bugis disebut siri’. Siri’ merupakan nilai yang harus melekat pada diri orang Bugis. Karena itu sering terdengar ungkapan “siri’ na pesse” atau “siri na pacce.” Prinsip ini mengajarkan agar ia selalu menjunjung tinggi siri atau rasa malu. Malu jika melakukan perbuatan yang tidak baik, yang tidak sesuai dengan norma yang ada. Baik itu norma agama, norma adat dan kesopanan, maupun norma hukum yang berlaku di lingkungan tempat ia berada. Bagi orang Bugis, kehidlangan rasa malu atau harga diri maka hilanglah segalanya.

Siri’ sering disejajarkan dengan akal pikiran karena tidak timbul dari kemarahan dan kesewenang-wenangan. Siri’ dapat ditutupi atau lenyap karena adanya keinginan yang berlebih-lebihan, didorong oleh kerakusan.

Sementara pesse atau pacce merupakan sikap yang dapat merasakan penderitaan antar sesama manusia. Nilai pesse akan memunculkan rasa solidaritas atau rasa tolong menolong untuk saling membantu. Apabila orang lain merasakan penderitaan maka kita wajib menolongnya. Seseorang akan malu jika tidak menolong sesamanya jika mengalami musibah, kelaparan atau sakit.

Beberapa sumber lain juga memasukkan nilai keberanian (berani). Berani dalam kosa kata Bugis disebut warani. Berani merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Berani akan membuat seseorang bertanggung jawab atas perbuatannya. Berani menghadapi segala tantangan, tidak gentar menghadapi lawan.

Untuk mencapai keberhasilan reso atau kerja keras memang sangat dibutuhkan adanya sikap berani sangat dibutuhkan sebagai pemicu dan penggeraknya. Berani adalah sikap yang siap menghadapi segala resiko. Berani memegang tanggung jawab, tidak meningggalkan pekerjaan sebelum pekerjaan itu selesai. Juga berani mengambil keputusan dan tindakan, tanpa diliputi keraguan.

Kembali kepada tema rapat pleno yang menjadi judul tulisan ini. Sejatinya kepandaian itu memang wajib dipasangkan kejujuran. Begitu pula keberanian perlu beriringan dengan sikap teguh pendirian agar tetap konsisten dan tidak mudah terombang-ambing.

Acca, warani, reso, lempu, tinaja, getteng, dan siri’, sebetulnya merupakan satu kesatuan nilai yang harus dimiliki setiap orang. Bila seseorang memiliki kepandaian, keberanian, berhasil karena kerja kerasnya, namun ia tidak memiliki kejujuran, rasa malu, kepatutan, serta keteguhan pendirian, tentu berpotensi membahayakan umat manusia, KKSS, dan bahkan bangsa Indonesia sendiri.

Demikian pula sebaliknya, hanya bermodal kejujuran, rasa malu, kepatutan, dan keteguhan, namun bodoh, malas, peragu, penakut, tentu tidak akan memberi banyak manfaat bagi dirinya, KKSS, dan bangsa inii. Karena itu, dengan perpaduan nilai-nilai budaya tersebut diyakini mampu membawa warga KKSS kepada keseimbangan dan harmonisasi, sebagai manusia paripurna.

Dengan menjadikan warga KKSS sebagai manusia paripurna, maka tentu secara otomatis akan menjadi manusia tangguh dan unggul, yang pada gilirinnya kemudian akan menjadikan KKSS dan Indonesia sebagai bangsa tangguh dan berkeunggulan. Wallahu a’lam bishawab.

Penulis, Ketua Departemen Kesehatan BPP KKSS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here