Loper Koran The Jakarta Times Memperluas Wawasan

0
84

Oleh Fiam Mustamin

Bermukim dan bersekolah di kota  Makassar seperti halnya sebuah perjalanan  kehidupan yang mengalir begitu saja apa adanya.

Tak ada target dan cita-cita yang muluk-muluk dengan menyadari  keadaan diri; siapakah diriku yang bukan siapa- siapa kayak syair lagu Gelas-Gelas Kaca, ciptaan  Rinto Harahap yang dinyanyikan oleh artis  Nia Daniati yang melankolis itu. 

Yang ada dalam pikiran saat itu bagaimana bisa sekolah dan mencari rejeki dari upah  jasa  kebaikan dalam membantu orang (saro mase).

Di sekolah lanjutan atas swasta Kristen sore itu penulis berteman dengan orang dari berbagai etnis yang tidak tertampung di sekolah negeri ataupun terlambat mendaftar di sekolah pemerintah.

Dua teman karib penulis saat itu yaitu Baso Makatang, adik sepupu Sjamsuddin Daeng Mangawing konglomerat dan Konsulat  Swiss dari Turatea yang rumahnya di jalan Karunrung.

Teman karib ini kemudian sama sama aktif di teater Dewan Kesenian Makassar.

Sahabat yang satu ini adalah Mahmuddin,  adik ipar Rusdy Akib yang bermukim di jalan Emy Saelan bertetangga dengan Mayjen Abdul Asis Bustam Jalan Soetomo.

Koran Berbahasa Inggris Pertama

Rusdy Akib ini alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Hasanudin, sohib dekat dengan Muh Jusuf Kalla (JK) yang sama-sama  pengurus KAHMI dan PSM Makassar.

Rusdy memiliki jaringan luas sebagai aktivis mendapat kepercayaan sebagai agen tunggal koran berbahasa Inggris itu. Dan sahabat Muhmuddin sebagi lopernya ke semua langganan yang ada sekitar 100 orang penting semacam elit kota Makassar  saat itu.

Mahmuddin sering mengajak penulis ke rumahnya dan memperkenalkan dengan anggota kekuarga besarnya dari Parepare dan Sidrap. 

Rusdy Akib putra tokoh agama di Sulsel beristrikan Darsiah Saerang yang disapa dengan Cia, ditemuinya sebagai duta AFS dI USA bersama Tanri Abeng.

Sekali dua kali berboncengan sepeda menjemput koran di kantor  Garuda lalu berkeliling kota mengantarkan koran itu sampai larut malam yang esoknya dari subuh meneruskan yang masih tersisa terutama dari ujung ke ujung kota dan ke perkantoran.

Koran harus segera diantarkan dan sampai ke pelanggan karena pengiriman terlambat 2 sampai 3 hari dari Jakarta.

Seterusnya penulis yang diberi amanah untuk melanjutkan pengedaran dan penagihan di awal bulan. 

Bukan Sekadar Loper

Mengantarkan dan menagih koran sebuah pekerjaan yang menyenangkan dapat mengenali sejumlah tokoh masyakat di bidangnya; birokrat pemerintahan,  militer, akademisi, seniman, budayawan, wartawan serta kalangan usaha.

Begitu membanggakan apabila dapat menemui dan berdialog dengan pelanggan.

Dari situ penulis tiada merasa lelah. Dari koran yang diantar itu sebelumnya penulis perlu mengeluarkan kamus untuk mengartikan hal-hal hal yang menarik perhatian dari   pemberitaan itu.

Di ruang teras kamar tamu Rusdy Akib, penulis menganggapnya sebagai pustaka bacaan dari sejumlah literatur. Terkadang di teras itu pula digelar pembicaraan penting dari sejumlah tokoh-tokoh KAHMI dan PSM yang semua itu diam-diam  menjadi perhatian penulis. 

Dari semua yang pernah  terdengar dan terserap dalam memori bahwa penulis sangat mensyukuri dari pengalaman itu menjadi referensi yang memandu dalam kiprah kehidupan saat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here