Lilin Kecil di Kampungku Telah Berproses Menjadi Matahari

0
360
- Advertisement -


Kolom Ruslan Ismail Mage*

Sebuah paket berbungkus plastik warna hitam datang kemarin hari Selasa (19/9) di Bumi Minangkabau tempatku menjadi pelayan mahasiswa. Paket yang dikirim dari kampungku Watansoppeng ini seketika membuatku terlempar kemasa awal Pandemi Covid-19 melanda dunia. Suatu masa kelam kehidupan sebagai makhluk sosial yang harus dibatasi pergerakannya keluar rumah oleh sebuah virus mematikan yang entah datangnya darimana. Hampir semua elemen kehidupan lumpuh tak bergerak, tidak terkecuali dunia pendidikan.

Sekolah dari semua tingkatan tutup, proses belajar mengajar dilaksanakan secara daring dari rumah dengan sistem online. Semua pola interaksi dan transaksi dilaksanakan secara digital yang bisa saja merampas nilai-nilai humanis manusia sebagai makhluk sosial. Tidak sedikit orang stres menghadapi suasana pergerakan yang tersekap dalam rumah masing-masing.

Dalam kondisi ketersekapan itulah, tiba-tiba aku teringat Bung Karno ketika lagi dipenjara oleh kompeni untuk membatasi pergerakannya membakar semangat juang rakyat menuntut kemerdekaan. Sang proklamator itu berkata, “Kalian kompeni bisa memenjarakan fisik Bung Karno, tetapi tidak bisa membatasi pergerakan gagasan dan pikirannya. Selama ada udara, selama itu gagasan dan pikiran Bung Karno akan menembus dinding penjara ini, lalu terbang bersemayam di dalam jiwa rakyatku”.

Terinspirasi dari itu, aku pun berkata, “Virus Covid-19 boleh membatasi pergerakan tubuhku, tetapi tidak bisa membatasi pergerakan gagasan dan pikiranku”. Sesaat kemudian, aku memghubungi sang kreator kang Iyan di Bandung untuk mengeksekusi konsep pendirian rumah jiwa di angkasa khusus untuk siswa-siswi bernama “Pena Anak Indonesia”.

- Advertisement -

Disebut rumah jiwa di angkasa, karena ratusan anak-anak (siswa SD, SMP, SMA, SMK, dan santri) bergabung senusantara yang tidak pernah bertemu fisik, tetapi jiwa mereka selalu menyatu di angkasa menyuarakan kebaikan lewat tulisan-tulisan inspiratif mereka. Dengan diasuh oleh para mentor profesional menulis di Bengkel Narasi Indonesia, para siswa terus diarahkan melahirkan tulisan. Jadi sejak kemunculannya di awal Pandemi Covid-19, Pena Anak Indonesia langsung menjadi panggung terbuka di angkasa untuk mementaskan 24 jam gagasan dan pikiran anak-anak senusantara.

Paket yang terbungkus plastik warna hitam itu adalah berisi buku kumpulan tulisan anak-anak Bumi Latemmamala Soppeng yang tergabung dalam komunitas menulis “Pena Anak Indonesia”. Aku membuka dan membacanya secara detail sambil membatin, “Terimakasih ya Allah ya Rabb, atas berkah dan ridho-Mu, lilin-lilin kecil yang kunyalakan dalam jiwa anak-anak di kampung halamanku hampir tiga tahun laku, kini telah berproses menjadi matahari kebaikan”. Sebelum butiran kristal menyeruak dan jatuh di sudut mata yang semakin menua, kututup buku elegan ini pelan-pelan lalu kusimpan dilaci jiwaku. Sahabat, tugas kita menjaga merawat, dan mengawal proses ini.

Pesan yang terkandung dalam nyala lilin-lilin kecil itu adalah, “Untuk memberi kontribusi pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di kampung halaman bisa dilakukan kapan dan dimana saja. Untuk peduli pemberdayaan SDM kampung kelahiran, tidak harus berada di kampung. Dari rantau aku terus menyalakan lilin inspiratif dalam jiwa anak-anak kampung kelahirannku Soppeng yang kurindukan dari jauh”. Aku jauh, aku akan datang, menyelami jiwa, menginspirasi hati, membakar semangat anak-anak Bumi Latemmamala”.

*Inspirator dan penggerak, founder Bengkel Narasi dan Pena Anak Indonesia*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here