Layak Jadi Pahlawan, Andi Mattalatta adalah Pejuang Kemerdekaan, Pendiri Tentara dan Bapak Olahraga

0
4002

Tahun 2020 ini Andi Mattalatta genap berusia 100 tahun.

PINISI.co.id. Remaja itu bernama Andi Mattalatta, menggebrak meja di depan Presiden Soekarno di Istana Yogya. Ia tersinggung saat ditanya Soekarno, “Apa siap untuk merdeka?”

“Saya tidak  datang ke sini, kalau tidak siap  merdeka,” jawab Mattalatta dengan lantang sembari kupingnya  memerah. 

Begitulah karakter Mayjen TNI (Pur) Andi Mattalatta yang sejak muda dikenal lugas tanpa tedeng aling-aling. Ia pejuang kemerdekaan tanpa pamrih, tak pernah kenal rasa takut, kendati dalam keadaan mencekam pada setiap peperangan.

Dalam perang gerilya di Yogya, Mattalatta terkenal lincah, cerdik mengecoh musuh. Teristimewa, ia menguasai bela diri, menggenapi kepiawaiannya menembak dengan jitu. Memang putra-putra Sulsel terkenal gagah berani dalam Serangan 1 Maret 1949 di Yogya. Dan Mattalatta-lah sang penyelamat istri Jenderal Nasution.

Tak heran jika Sri Sultan Hamengku Buwono IX, kerap mengajak Mattalatta berdiskusi dan meminta pendapatnya di masa perjuangan. Tak kurang, Panglima Jenderal Soedirman mengakui ketangguhannya dalam medan laga.

Karena itu, Mattalatta merintis Tentara Republik Indonesia (TRI) dan merupakan panglima dan pendiri Kodam Hasanuddin yang pertama di Sulawesi. Sejarah hidupnya mewarnai kelahiran TNI/TRI di Jawa dan Sulsel.

Sukses di Jawa, Mattalatta berhasil menumpas pergolakan lokal seperti Negara Indonesia Timur, memimpin Gerakan Operasi Militer (GOM) menggulung Republik Maluku Selatan (RMS). Selanjutnya ia berperan penting dalam menekuk pemberontakan Andi Azis, selain meredam bekas tentara gerakan Kahar Muzakkar, berikut aksi Usman Balo yang hendak mengacau Sulsel.

Tapi seiring waktu, Mattalatta agaknya memendam kekecewaan karena merasa perjuangannya terabaikan.

“Orang pusat melakukan taktik defide et empera. Mereka hanya mau kenal kita, selama kita masih berguna bagi mereka. Kalau kita sudah melaksanakan keamanan, dan kita mulai membangun, mereka akan berdatangan menggeser kita dari posisi dengan berbagai macam alasan,” kisah Mattalatta, dalam memoarnya, Meniti Siri’ dan Harga Diri.

Penggalan cerita ini hanya sedikit dari heroisme Mattalatta. Yang pasti pria kelahiran Barru, 1 September 1920  dan  wafat di Makassar, pada 16 Oktober 2004 itu, telah mengorbanan jiwa raga untuk membela negara.

Tak diragukan, jika Mattalatta layak untuk menjadi pahlawan nasional. Sekalipun tanpa menyandang predikat nasional pun, Mattalatta adalah pahlawan tulen dan pejuang sejati.

Maklum, prosedur usulan gelar pahlawan nasional dibuat berjenjang. Sebuah tim akan mengevaluasi nama-nama yang diusulkan, dari tingkat daerah hingga pusat.  Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan yang memberi pertimbangan kepada presiden, untuk menerima atau menolak usulan tersebut.

Tokoh Olahaga

Selain sebagai tokoh pejuang, Mattalatta adalah tokoh olahraga Indonesia terutama dalam olahraga renang, ski air dan tinju. Ia merupakan perintis ski air di Indonesia dan salah satu pendiri KONI.

Di bidang olahraga, Mattalatta sudah menunjukkan kehebatannya sejak 1932, ketika ia menyisihkan atlet-atlet keturunan Belanda dalam renang gaya dada memperebutkan piala Ratu Wilhelmina der Nederlanden van Oranje Nassau di Makassar. Pasa usia 15, Mattalatta menjadi petinju yang mengawali prestasi pada kelas bulu (55 kg) dengan meng-KO petinju Batavia, Kid Usman, kelas ringan (60 kg). Ia juga menjadi pelatih dibeberapa klub atlet karena kemahirannya dalam olahraga-olahraga tersebut.

Pada 1952, Mattalatta memprakarsai pembangunan Stadion Mattoanging, Makassar dan tokoh penyelenggara Pekan Olahraga Nasional IV di kota ini.

Dijuluki atlet serba komplet, karena ia menguasai tinju, silat, kuntao, jujitsu, karate berkuda, lari, lompat indah, senam, renang, terbang layang dan layang gantung. Meraih sederet prestasi olahraga perairan: ski air, jumping boat, dan jet ski.  Ia merupakan orang Asia pertama dan satu-satunya yang masuk “Hall of Fame” dari International Waterski & Wakeboard Federation (IWWF).

Tak banyak yang tahu, kalau Mattalatta punya peran untuk menjadikan tentara Jenderal M. Jusuf, yang kelak menjadi Panglima TNI, salah satu Panglima ABRI yang dicintai rakyat setelah Soedirman — dan menikahkannya dengan gadis Yogya.

Alhasil, perjuangan Mattalatta melawan penjajah dan membasmi pemberontak, termasuk sejumlah pemberontakan di Indonesia Timur, membuat namanya disegani para tantara pejuang kemerdekaan. Sosoknya yang merakyat, dan anak seorang raja di Barru ini, mencintai pasukannya melebihi cintanya pada diri sendiri.  Semua itu dia lakukan semata-mata demi kemerdekaan dan keutuhan bangsanya, seperti yang kita rasakan saat ini. [Alif we Onggang]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here