Kota Besar dan Krisis Orientasi Kehidupan

0
264

Kolom Arfendi Arif

Rasa resah atau risau adalah kenyataan yang sering ditemukan dalam kehidupan. Namun, keresahan yang dimaksud adalah yang timbul dengan alasan yang tidak jelas. Kalau seorang resah karena tidak punya uang untuk makan sehari-hari, untuk biaya anak sekolah, untuk berobat bagi keluarga yang mendetita penyakit tentu bisa diterima. Dan biasanya jalan keluar atau solusi untuk menghilangkannya dengan mudah dapat diketahui.

Tetapi ada keresahan yang sulit menjelaskannya dan juga sulit mencari jalan keluarnya. Seorang kenalan bercerita kepada saya betapa kehidupan yang dilaluinya setiap hari dengan perasaan gelisah dan resah yang tidak diketahui penyebabnya. Ia tidak pernah betah tinggal di rumah dan selalu berusaha keluar mencari kesibukan. Kalau ia tinggal di rumah pikirannya galau dan muncul hal-hal yang menakutkan. Padahal, dari segi materi kenalan tersebut kehidupannya mencukupi. Suaminya pekerja tetap dan punya gaji yang lumayan disamping memiliki bisnis sampingan dan memiliki puluhan kontrakan dan juga kendaraan. Namun demikian hal ini semua tidak membuat hidupnya tenang dan nyaman, selalu dihantui kegelisahan.

Kasus di atas hanyalah contoh saja dari problema masyarakat moderen kota besar yang mengalami krisis orientasi hidup. Dalam berita di mass media dan klinik kejiwaan permasalahan seperti ini sering ditemukan yang menunjukkan bahwa kota besar di tengah kemajuan kehidupan materil juga melahirkan manusia yang mengalami kegersangan rohaniah.

Kota besar dihuni manusia yang super sibuk mengejar kebutuhan materi, uang dan investasi. Karena tuntutan tersebut mereka semua harus bekerja keras tanpa kenal lelah dan waktu yang terasa kurang. Hidup di kota besar tidak hanya cukup sekedar untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan, tetapi harus lebih dari itu untuk memenuhi kebutuhan lain yang sifatnya mengangkat prestise sosial.

Kota metropoliran yang dibangun melalui kekuatan bisnis merangsang konsumtifisme masyarakat agar barang-barang dan produk laku keras. Trend dan kebutuhan masyarakat dibentuk dan ditentukan melalui iklan, reklame, dan slogan yang gencar sehingga manusia dipaksa untuk memilikinya. Maka, manusia yang maju dan dianggap moderen adalah jika mereka memiliki atribut yang bersifat prestise tersebut seperti memiliki rumah mewah, kendaraan super mahal, liburan keluar negeri, makan di restoran mahal, dan juga pergaulan di kalangan elit, baik pejabat maupun orang yang berstatus tinggi dalam masyarakat.

Tuntutan sosial untuk memenuhi harapan dan trend kehidupan tersebut menjadi dorongan manusia kota besar untuk memenuhinya. Terkadang perjuangan ini amat keras dengan mengerahkan segala kemampuan, baik dengan cara-cara yang wajar maupun dengan melewati batas norma,etika dan hukum seperti korupsi, cara kekerasan, kejahatan dan perbuatan kriminal.

Dengan demikian kehidupan dalam sebuah kota besar merupakan balentera dimana beragam penampilan dan citra diri manusia harus dibentuk untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan yang dinilai bergengsi tersebut.

Ternyata penampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan di kota besar bukan yang nenunjukkan kepribadian yang menekankan pada moralitas, integritas maupun kejujuran dengan prinsip-prinsip hidup yang dinilai luhur atau suci, melainkan yang diutamakan adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri agar bisa diterima, kepentingan bisa tercapai, walaupun untuk itu seseorang harus memiliki fleksibilitas dengan mengorbankan prinsip dan keyakinan yang dipegangnya.

Penampilan seorang dalam berinteraksi pada masyarakat moderen harus direkayasa untuk meyakinkan dan menyenangkan para kolega,teman bisnis, bos perusahaan dan lainnya, demi tujuan bisa tercapai. Seseorang dengan begitu harus tampil dengan wajah yang dipoles, dibuat-buat layaknya topeng,semuanya demi meraih maksud dan tujuan, karena itu ia rela menyenangkan hati orang lain. Padahal, ia  sendiri ridak menghendaki hal tersebut. Komunikasi dan interaksi antar personal dengan begitu dipenuhi kepalsuan dan kepura-puraan. Namun demikian, konsekuensinya  manusia kehilangan kesejatian dan keauthentikan dirinya.

Seperti dikatakan Dr. Fuad Hasan dalam desertasinya Kita dan Kami Suatu Analisa Kebersamaan (Jakarta, Bulan Bintang, 74) menyatakan kegoyahan norma-norma dalam masyarakat moderen menimbulkan adanya deel-participaties dan deel-identiteit, yaitu manusia tampil tidak dengan identitas yang sempurna, karena tuntutan penyesuain diri dan kompromistis. Semuanya ini demi mencapai target kehidupan yang dituntut masyarakat moderen atau trend sosial yang selalu berkembang dan tidak pernah tetap.

Karena itulah dalam masyarakat moderen hubungan menjadi formal dan kaku, tidak ada kesejatian dan keotentikan. Manusia moderen kehilangan sentuhan hati yang bersifat human atau kemanusiawian. Dengan demikian bisa dipahami kalau masyarakat moderen diliputi rasa terasing, kecemasan, kebosanan, psikomatik dan lainnya.

Upaya untuk mengatasi hal di atas selama ini dilakukan dengan pendekatan yang bersifat temporer dan sementara. Masyarakat moderen mengatasinya dengan cara mencari kesenangan dalam bentuk hiburan, rekreasi, olahraga, mengembangkan hobbi, membentuk komunitas dan lainnya. Tetapi, pendekatan ini tidak bersifat mendalam dan tuntas, mungkin untuk sesaat bisa melupakan penderitaan dan kehampaan batin, namun pada waktunya ia akan muncul dan nerasakan kegelisahan kembali.

Pendekatan yang radikal untuk mengatasi hal ini adalah dengan metode yang bersifat filosofis dan mendasar. Yaitu manusia melakukan evaluasi tentang makna dan tujuan hidupnya. Pertama, bahwa kehidupan manusia di dunia tidak kekal dan abadi.Kenyataannya, bahwa manusia dalam hidup ini bertumbuh dari muda beranjak tua, lemah dan berakhir dengan kematian.

Dengan demikian sebuah hidup yang singkat harus diisi dengan hal-hal yang bermakna. Spritualitas menjadi penting dalam hidup ini karena disitulah ditemukan kehidupan yang memiliki arti bukan hanya dalam konteks kekinian, tapi juga setelah kehidupan nyata ini berakhir. Spritualitas atau transcendence yakni keyakinan bahwa ada zat yang lebih tinggi selain manusia ini, yaitu Allah sebagaimana diajarkan dalam agama merupakan harapan satu-satunya manusia dalam menemukan ketenangan hidup. Dengan keyakinan ini maka hidup manusia bisa tenang dan mengisinya dengan amal kebajikan.

Cinta kepada Allah memotivasi manusia untuk berkarya sebagaimana Allah berkarya mewujudjan kehidupan ini dengan penuh keberlimpahan rahmat-Nya. Maka hari-hari manusia tidak lagi mengalami kesendirian, keterasingan dan kecemasan. Sebab, dengan keyakinan tersebut ia akan penuh gairah mengisi kehidupan ini untuk mencari ridha-Nya. Dan, ridha itu ada dalam kasih sayang yang dibangun sesama manusia dengan berbuat amal kebajikan yang dapat menolong dan meringankan sesama umat manusia. Dan, disitu terdapat kebahagiaan karena ternyata hidup ini sangat bermakna.

Penulis, peminat masalah agama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here