Jatuh Cinta Sama Bibir Pantai Lacaria (Catatan Sipil Institut : HUT ke-17 Kolut)

0
1631
- Advertisement -


Kolom Ruslan Ismail Mage

Pagi cerah langit Jakarta 23 November 2018 lalu menjadi saksi perjalanan udara Sipil Institute lebih dua jam dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Dari bandara perjalanan inspiratif ini langsung naik mobil tiga jam menuju Cabenge Soppeng. Besok pukul tujuh pagi langsung naik mobil lagi tiga jam menuju pelabuhan penyeberangan di Siwa daerah Wajo. Tepat habis shalat Jumat penumpang beranjak naik kapal untuk menempuh tiga jam perjalanan laut menuju Kabupaten Kolaka Utara. Perjalanan panjang yang melelahkan lewat udara, darat, dan laut kurang lebih 12 jam.

Namun rasa lelah itu seketika sirna ketika turun dari kapal di Pelabuhan Tobaku yang begitu sejuk. Hatiku terasa damai disambut lambaian daun-daun hijau sehijau jiwaku yang bertasbih mengucapkan syukur bisa menginjakkan kaki di Bumi Patampanua Kolaka Utara. Hembusan angin sepoi-sepoi seakan menjabat tanganku sambil berbisik selamat datang di Bumi Patampanua yang damai dengan sejuta pesona.

Dalam mobil menuju butik Wihda aku membatin mengagumi pemandangan di sekeliling. Sungai-sungai terus bernyanyi bersahutan dengan siulan burung-burung yang terbang rendah menyambut kedatanganku. Rasa kagum bertambah ketika melewati jalan tol disambut dengan senyum bibir pantai Lacaria yang seksi lurus memanjang menuju pusat kota Lasusua. Sambil menyusuri pantai yang asri, mataku tergoda pada bangunan gedung perpustakaan yang berasitek perahu menghadap ke laut lepas, seakan sang nahkoda berteriak, “ayooo generasi muda Bumi Patampanua pemilik masa depan, mari kita segera berlayar mengarungi lautan ilmu tak bertepi untuk menjemput masa depan gilang gemilang”.

Sehari, dua hari, tiga hari berkeliling kota Lasusua membuatku takjub melihat penataan kotanya yang sangat visioner. Sudah lebih satu dasawarsa Sipil Institut keliling kota di negeri ini menginspirasi ribuan anak negeri, tapi belum pernah melihat daerah kabupatan hasil pemekaran 17 tahun lalu, sevisioner dan seindah Kolut. Usia kota yang begitu muda tapi penataan kotanya melampaui ruang dan waktu 50 tahun ke depan.

- Advertisement -

Kabupaten Kolaka Utara yang luasnya 3.391 km2 dengan struktur daerah berbukit memanjang dari Utara ke Selatan, plus jilatan bibir seksi pantai Lasusua dan pantai Lacaria sungguh penuh pesona yang membangkitkan gairah jurnalistikku.

Dalam pengembaraan literasiku tentang Kolut, kutemukan jawaban kalau sang arsitek penataan kota yang samgat visioner ini adalah seorang pemimpin sejati yang tegas namun selalu dirindukan rakyatnya bernama bapak Rusda Mahmud (Bupati dua periode) yang membangun Kolut dengan hati, yang kemudian dilanjutkan oleh bupati sekarang bapak Nurrahman Umar dengan visi menjadikan Kolut sebagai masyarakat madani yang mandiri.

Selama empat hari mengeksplor dari sudut ke sudut Bumi Patampanua, kekagumanku semakin memuncak melihat keindahan alamnya dan keramahtamahan warganya. Dalam lamunanku sambil makan pisang goreng di pinggir pantai Lasusua, aku menangadah ke langit yang penuh bintang. Seketika teringat kisah sekelompok burung yang terbang di atas langit biru mengangkasa. Ketika berada di langit Indonesia, kelompok burung itu bertasbih ke Tuhan, “sungguh kuasa Engkau ya Allah, memindahkan Surgamu ke negeri ini”. Aku pun lagi-lagi mebatin, mungkin Kolut salah satu kepingan Surga itu.

Aku pun harus balik ke kotaku. Pagi itu dengan hembusan angin lembut mengiringi perjalananku pulang menuju pelabuhan Tobaku untuk melanjutkan petualangan inspiratif ini ke kota lain. Dalam mobil lagi-lagi aku membuang pandanganku ke kiri menyaksikan birunya laut sebiru hatiku. Sesekali merasakan hembusan angin pantai mengantar gelombang-gelombang kecil ke pinggir menjilat bibir pantai. Selamat tinggal Bumi Patampanua, baru empat hari aku menyelamimu, tapi jujur aku “Suda Jatuh Cinta sama Bibir Seksi Pantai Lacaria”.

Sebulan bersamamu aku pasti mengandung untuk melahirkan buku “Perahu Cinta Sawerigading” setebal 300 halaman. Lain kali Sipil Institut akan datang melakukan riset tentang pohon kayu “walenrennge” yang dibikin perahu Sawerigading dalam memburu cinta We Cudaiq ke negeri Cina. (Selamat HUT ke-17 Kolut yang telah didesain menjadi kota metropolis oleh bapak Rusda Mahmud yang dilanjutkan oleh bupati sekarang bapak Nurrahman Umar, semoga jaya selalu dan damai tiada akhir (Jakarta, 7 Januari 2021)

Penulis : Akademisi, Inspirator dan Penggerak, Faonder Sipil Institute

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here