Islam di AS, Agama Damai Bukan Agama Teror

0
684
- Advertisement -

Serangan Nine Eleven yang mengguncang dunia (Bagian 7)

Kolom Imam Shamsi Ali

Di Islamic Center Washington DC, didampingi oleh beberapa tokoh Muslim Amerika, Presiden Bush menyampaikan pidato singkatnya. Walaupun singkat, pidato itu menjadi viral karena memang semua media nasional maupun internasional meliputnya.

Berbeda antara pidato Bush di Ground Zero sehari sebelumnya dan pidatonya di Islamic Center DC. Di Ground Zero Presiden Bush menyampaikan deklarasi perang: “The world will hear us. And the people who knocked down these buildings will hear us soon” (dunia akan mendengar kita. Dan orang-orang yang meruntuhkan gedung-gedung ini akan mendegar kita dalam waktu dekat).

Pidato inilah yang kemudian dibuktikan dengan serangan ke Afghanistan, dan juga ke Irak di belakang hari. Artinya pidato yang disampaikan Bush di Ground zero itu merupakan pidato balas dendam. Dendam yang di kemudian hari menghancurkan Irak.

- Advertisement -

Sementara pidatonya di Islamic Center DC lebih banyak ditujukan untuk menetralisir keadaan atau kebencian dan kekerasan kepada Komunitas Muslim di Amerika yang semakin memburuk saat itu.

Saya salah seorang yang menjadi saksi keadaan itu. Beberapa kali saya diajak hadir oleh Kepolisian New York bersama Imam E. Pasha menengok korban kekerasan. Kejadian terbanyak ketika itu ada di Brooklyn, di mana ada kantong-kantong Komunitas Muslim etnis Arab.

Memang serangan dan kekerasan pada umumnya dialami oleh Muslim keturunan Timur Tengah dan Desi (Asia Selatan). Kata Desi adalah kata populer bagi Muslim IPB (Indian Pakistan Bangladesh). Kedua Komunitas Muslim inilah yang paling sering mendapat serangan.

Saya kira bukan saja karena 9/11. Tapi memang Islam di Amerika lebih identik dengan Timur Tengah dan Asia Selatan. Sebagian mengidentikkan dengan Afrika, khususnya Afro Amerika.

Hanya saja karena mereka yang dituduh sebagai pelaku 9/11 mayoritasnya Timur Tengah, dan Asia Selatan identik dengan perang Afghan, maka asosiasi Islam dengan mereka menjadi sangat kental dan dominan.

Kembali ke Bush di Islamic Center di Washington DC. Dengan mimik wajah yang agak serius, Bush memulai pidatonya: “Thank you all for your hospitality… we just had a wide range discussion on a variety of issues….etc”.

Intinya pada kesempatan itu Presiden Bush menyampaikan bahwa sebagaimana warga Amerika yang lain, Komunitas Muslim juga sedih, marah dan mengutuk peristiwa yang menimpa Amerika.

Hal yang sangat diapresiasi dari pidato Bush adalah penegasan bahwa serangan 9/11 bertentangan dengan “Islamic Principles” (prinsip-prinsip Islam). Islam adalah agama damai. Dan orang-orang yang menyerang 9/11 adalah teroris dan mereka tidak mewakili Islam.

Saya benar-benar bersyukur bahwa apa yang saya sampaikan kepadanya sehari sebelumnya di kota New York disampaikan dengan baik, jelas dan tegas di Islamic Center. Bahkan Presiden Bush menambahkan: “and we want the American people to know this”. (Kita ingin warga Amerika tahu ini..bahwa Islam bukan agama teror).

Bahkan lebih jauh Bush mengakui serangan-serangan dan ketakutan Komunitas Muslim saat itu. Bush menambahkan: “Mereka tahu keluar rumah, ke pasar. Takut hidup normal seperti warga Amerika lainnya. Wanita-wanita yang menutup Kepala takut diganggu dan diserang”.

Lalu Bush menambahkan lagi: “Kejadian ini (serangan kepada Muslim) tidak menggambarkan Amerika yang saya kenal” (This is not the America that I know).

Dengan pidato singkat Bush itu saya dan Komunitas Muslim bisa lega bahwa Presiden Amerika mengakui jika Islam memang adalah agama damai. Bahkan menyampaikan secara terbuka ke publik jika serangan 9/11 tidak mewakili Islam dan orang-orang Islam.

“Teroris adalah teroris dan tidak mewakili agama, bahkan sesungguhnya tidak beragama”. Slogan ini menjadi sangat popular di kemudian hari.

Kembali ke kota New York, pada hari yang sama ketika Bush berada di Islamic Center saya kembali diundang untuk membaca doa dalam acara “memorial service” di sebuah taman dekat ground zero.

Setelah peristiwa 9/11 acara-acara doa ini begitu laris. Saya sendiri seringkali hanya hadir membacakan Surah Al-Fatihah dan terjemahan. Saya sangat menahan diri dari memberikan statemen. Khawatir sensitif dan justeru memperkeruh keadaan.

Satu peristiwa yang juga saya tidak lupakan adalah pada hari Senin, atau 7 hari Setelah kejadian 9/11 Walikota New York kembali mengundang para tokoh agama untuk secara khusus melakukan doa dan pertemuan di City Hall (kantor walikota).

Saat itulah pertama untuk pertama kalinya saya mulai kenalan dengan beberapa tokoh agama, termasuk dari Komunitas Yahudi. Salah satu tokoh agama yang sempat kenalan dengan saya saat itu adalah Cardinal Egan, Pemimpin tertinggi Katolik New York.

Sejujurnya ada kekhawatiran yang besar untuk kenalan dengan tokoh-tokoh Yahudi. Selain karena saya juga masih sangat curiga dengan iktikad mereka terhadap Umat ini. Sebuah perasaan tidak aman di sekitar mereka.

Sebaliknya mereka juga saya kira tidak ingin kenalan, bahkan dalam benak saya mereka pasti benci kepada orang-orang Islam.

Saya memang sering menyendiri atau paling tidak mendampingi Imam Pasha. Selain karena saya baru di kota New York, juga ada kekhawatiran untuk berbicara. Khawatir Inggris saya salah. Atau juga khawtir menyampaikan sesuatu yang sensitif.

Tiba-tiba saja salah seorang Rabi Yahudi mendekati saya dan salaman. Sambil tersenyum dia mengenalkan diri: “Hi, how are you. I am Joe”.

Saya tentu balas senyuman itu dan merespon: “Hi, I am Shamsi”.

Rupanya perkenalan singkat itu menjadi pintu awal dari komunikasi intens dan Dialog yang terjadi antara Komunitas Muslim dan Yahudi di kemudian hari. Joe sendiri adalah Executive Presiden Board of Rabbis (Majlis Para Pendeta Yahudi) kota New York.

Belakangan baru saya sadar ternyata Board of Rabbis ini adalah salah satu organisasi Yahudi terkuat dunia. Karena ternyata memang New York adalah kota Yahudi terkuat dunia. Di sinilah para Pebisnis Yahudi tinggal dan membantu menguatkan negara Yahudi di Timur Tengah.

Beberapa kali saya diundang oleh Board of Rabbis ini dalam acara yang disebut “Congressional Breakfast” (makan Pagi bersama anggota Kongress). Pada acara itu saya bisa “merasakan kekuatan” (sensing the power) yang mereka miliki. Semua anggota Kongress pasti akan menyampaikan dukunganya kepada pihak yang didukung oleh Yahudia itu.

Sehingga pada perjalanannya, ketika kami telah melakukan Dialog dengan Komunitas Yahudi, dua hal penting yang ada di benak saya. Pertama, Belajar strategi untuk membangun kedekatan dengan pihak-pihak pengambil kebijakan di negara ini.

Dan tentunya yang kedua, karena diakui atau tidak, Yahudi memilki suara yang didengarkan. Suara inilah yang ingin kita pakai dalam membela Komunitas Muslim di Amerika. Suara mereka didengar oleh politisi dan media. Sehingga ketika mereka bersuara membela Islam, suara mereka akan lebih didengar ketimbang suara kami sendiri.

Demikianlah hari-hari berlalu di Minggu pertama dan kedua pasca 9/11 itu. Berbagai tantangan kami hadapi dan alami. Tapi sekaligus membuka pintu-pintu dan peluang untuk semakin menancapkan kaki di bumi Amerika.

Sehingga memang benar bahwa pada setiap tantangan ada peluang. Dan pada setiap kesulitan ada kemudahan. “Inna ma’al yusri yusra”.

Di Minggu kedua pasca serangan 9/11 kota New York kembali menggelar acara besar Secara nasional. Apa acara itu? Dan apa saja yang terjadi?

Hari-hari berlalu di kota New York, bahkan di Amerika dan dunia umumnya, semua didominasi oleh peristiwa 9/11. Di berbagai kota di Amerika diadakan berbagai doa khusus untuk para korban dan keluarganya. Hampir 24 jam berita TV dan media lainnya juga didominasi oleh serangan 9/11.

Di kalangan masyarakat Indonesia di New York ada dua tiga orang yang bekerja di gedung WTC sebagai pelayan di restoran Windows of the World. Sebuah restoran yang terletak di lantai teratas gedung WTC. Salah satunya adalah Bambang Priatno, orang Indonesia keturunan Jawa beristerikan orang Amerika putih.

Dari beliaulah saya banyak mendapat cerita tentang keadaan gedung WTC yang sesungguhnya. Saya sendiri belum pernah mengunjungi gedung itu. Apalagi naik ke atasnya. Saya memang malas berkunjung ke tempat-tempat yang umumnya dikunjungi banyak orang.

Menurut Pak Bambang, yang juga aktifis masjid Al-Hikmah di kota New York ketika itu, gedung WTC itu sangat luar biasa. Dirancang sedemikian kuat, dengan pengamanan gedung yang juga luar biasa. Hampir semua perusahaan-perusahaan terkenal dunia memiliki kantor di gedung itu.

Wajar saja jika kantor-kantor Perwakilan bank-bank Indonesia seperti BI, BNI, BRI, BDN, dan lain-lain, semuanya berkantor di sekitaran gedung itu.

Realita itu pula yang kemudian menjadikan adanya teori konspirasi bahwa yang merancang peristiwa 9/11 itu adalah Yahudi. Karena menurut mereka yang berpikiran demikian, pada saat kejadian itu tak seorangpun Yahudi yang masuk kantor.

Tapi benarkah demikian? Benarkah bahwa tidak ada Yahudi yang masuk kantor dan karenanya tidak ada yang yang menjadi korban?

Menurut pak Bambang memang tidak banyak Yahudi yang meninggal di serangan WTC tersebut. Padahal banyak sekali dari kalangan mereka yang bekerja di gedung WTC. Namun menurutnya lagi hal itu dikarenakan rata-rata Yahudi yang bekerja di gedung WTC adalah profesional dan memiliki jabatan tinggi.

Karena itu, menurutnya beliau, orang-orang Yahudi rata-rata belum masuk di saat kejadian. Karena mereka adalah pegawai atasan yang datang ke kantor tidak selalu di awal waktu.

Selain itu, tuduhan bahwa tidak ada Yahudi yang meninggal di kejadian tersebut juga tidak akurat. Kenyataannya ada beberapa orang Yahudi juga menjadi korban.

Pada saat yang sama, di Minggu kedua setelah 9/11, di kota New York kembali akan diadakan sebuah perhelatan besar. Acara untuk mengenang serangan 9/11 sekaligus doa bagi korban dan Amerika. Acara yang dirancang oleh pemerintah kota New York dan negara bagian New York ini berskala nasional.

Acara tersebut dikenal dengan “National Prayer for America” atau berdoa secara nasional untuk Amerika. Rencananya akan dilangsungkan di lapangan Yankee stadium pada tanggalkan 23 September 2001. Yankee sendiri adalah nama baseball club di kota New York.

Dua hari sebelum acara itu saya kembali mendapat telpon dari kantor Walikota New York. “Imam, the Mayor office invites you to represent the Muslim community at the national prayer for Amerika….” (kota mengundang anda untuk mewakili komunitas Muslim di acara nasional untuk Amerika). Demikian panggilan telpon itu mengawali percakapan.

“Thank you. Such an honor to join the City” (terima kasih. Sebuah kehormatan untuk saya hadir dalam acara kota), jawab saya.

Tapi saya menyambung percakapan itu lagi: “Do we have to recite a prayer?” (Apakah harus berdoa?).

“No. You can chose to offer invocation, or recite verses from the Holy Book, or just deliver a statement” (Tidak harus. Anda bisa memilih berdoa, membaca Kitab Suci, atau menyampaikan statemen). Demikian dari kantor Walikota New York.

Tapi kantor Walikota mengingatkan: “For statement you can only deliver 1.5 minutes maximum” (untuk statemen anda hanya bisa menyampaikan maksimal 1.5 menit saja).

Setelah saya pertimbangkan tiga pilihan itu, saya memutuskan untuk membaca Kitab Suci. Tentu bagi kita adalah Al-Quran. Saat itu saya merasa bahwa membaca doa hanya akan repetitive (terulang-ulang) karena doa para tokoh agama pastinya akan sama. Walau tentunya memakai bahasa/ekspresi yang berbeda.

Selain saya juga memutuskan tidak membaca doa karena saat itu saya cukup galau untuk menentukan konten doa saya. Suasan kejiwaan saya kurang mendukung untuk itu. Bahwa di saat-saat kita diserang, diintimidasi, bahkan dilihat tidak loyal kepada negara ini, bahkan dianggap musuh kini diminta mendoakan Amerika.

Saya tentu ingin mendapat masukan dari Imam yang saya anggap dekat dengan walikota. Yaitu Imam E. Pasha dari Masjid Malcom X di Harlem. Setelah saya mendiskusikan dengan beliau tentang keikut sertaan saya, beliau setuju jika saya membaca Kitab Suci atau Al-Quran saja.

Rupanya untuk acara besar itu, memang hanya ada dua Imam yang diundang mewakili komunitas Muslim. Saya sendiri dan Imam Pasha. Kamipun sepakat agar beliau menyampaikan statemen singkat atas nama Komunitas Muslim di acara yang disiarkan ke seluruh dunia itu.

Sehari sebelum acara saya diundang Imam Pasha untuk bertemu di kantor masjidnya di kawasan Harlem. Masjid Malcom X adalah masjid yang bersejarah, terbangun dengan kubah besar berwarna hijau. Sejak serangan 9/11 masjid ini dijaga ketat, baik oleh Kepolisian New York, maupun oleh jamaah masjid sendiri dari kalangan Afro Amerika.

Pertemuan saya dengan Imam Pasha kali ini untuk membahas konten statemen yang akan dia sampaikan. Sekaligus menentukan ayat-ayat Al-Quran yang akan saya bacakan di lapangan Yankee keesokan harinya.

Di saat itu barulah saya tahu bahwa acara itu adalah acara besar dan penting. Selain pemerintah kota New York, juga akan hadir tokoh-tokoh nasional, termasuk mantan Presiden Bill Clinton yang baru saja digantikan oleh Presiden Bush. Juga hadir isterinya Hillary yang saat itu telah terpilih menjadi Senator mewakili New York State.

Kami kemudian memutuskan untuk membaca pilihan ayat-ayat dari tiga tempat dalam Al-Quran. Ketiga pilihan itu bukan tidak punya makna. Justeru pertimbangan utama adakah karena kita memanh ingin bahwa bacaan itu bukan sekedar membaca Al-Quran. Tapi yang terpenting adalah menyampaikan pesan-pesan jelas kepada masyarakat Amerika ketika itu.

Karenanya kami memutuskan untuk membacakan tiga pilihan tempat dari Al-Quran: 1. Surah Al-Hujurat (surah ke 49) ayat nomor 13 (tiga belas). 2. Surah An-Nisa (surah ke 4) ayat 135. Dan 3. Surah An-Nashr (surah ke 110) seluruhnya.

Dan agar makna dan pesannya sampai ke masyarakat Amerika dan dunia, kita memutuskan untuk mengusulkan ke kantor Walikota agar ada seseorang yang mendampingi saya dan menterjemahkan ayat-ayat yang akan saya baca. Dan kantor Walikota pun setuju dengan usulan kita.

Kita memilih seorang wanita yang berjilbab dari kalangan Afro Amerika. Pilihan wanita berjilbab itu juga bukan tanpa makna. Tapi menyampaikan pesan bahwa wanit Islam itu dapat tampil di publik dengan identitas keislamannya. Bukan seperti yang dipersepsikan selama ini bahwa wanita Muslimah itu selalu berada di balik pintun rumah.

Bagaimana suasan acara di esok harinya? Siapa saja yang hadir dan tentunya pesan-pesan apa saja yang ingin kami sampaikan dalam acara itu? (Bersambung…)

New York, 25 September 2020

Imam/Direktur Jamaica Muslim Center &Presiden Nusantara Foundation

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here