Aksi Amal Covid-19 Warga KKSS: Dari Urunan Hingga Melego Mobil Mewah

0
1144
dr.Muhammad Iqbal Idrus (kiri) bersama buruh cuci di Kota Bekasi mendapat bingkisan karena terdampak virus korona baru. Sembako dari Iqbal ini dibagikan juga kepada kam duafa yang ada di daerah pengangga ibu kota tersebut. .

PINISI.co.id- Biarpun di tengah impitan pandemi virus korona baru yang mematikan, banyak orang Indonesia menunjukkan welas asih dalam sikap kedermawanan. Rasa kesetiakawanan ditampilkan dalam laku membantu sesama hingga menjadi sukarelawan tanpa pamrih.

Perkara menderma, orang Indonesia memang menempati posisi paling atas di dunia, sebagaimana laporan Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index, 2018. Skor Indonesia untuk membantu orang lain sebesar 46 persen, berdonasi materi 78 persen, dan melakukan kegiatan sukarelawan 53 persen.

Sebelum Presiden Jokowi menganjurkan gotong royong untuk saling berbagi dalam kondisi sulit selama wabah Covid-19, berbagai komunitas dan kewargaan sudah bergerak lebih dulu untuk saling membantu tanpa menunggu santunan pemerintah.

Komunitas warga Bugis Makassar, Mandar dan Toraja yang terhimpun dalam organisasi Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) juga mengambil peran sosialnya  untuk berempati kepada sesama. Selain sebagai kelembagaan yang resmi mendonasikan buat korban terdampak Covid-19, warga KKSS dalam kapasitas pribadi juga berlaku serupa.   

Di Bekasi misalnya, meski KKSS setempat telah melakukan aksi kemanusiaan, namun tidak sedikit warganya secara personal bermurah hati menyalurkan kebutuhan pokok kepada warga yang rentan miskin akibat Covid-19.

Adalah Muhamamd Iqbal Idrus, seorang dokter yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat, menaruh simpati kepada masyarakat lapis bawah yang terkena langsung semenjak pembatasan sosial diberlakukan. Iqbal mengajak koleganya, sesama dokter atau rekan komunitasnya mengulurkan tangan. Dengan mobil pribadi, Iqbal penuhi sembako lalu menyambangi warga satu-satu di rumahnya, entah tukang sapu, pemulung, buruh cuci untuk dibagikan paket sembako berisi beras, kecap, susu, mi instan, tepung terigu dan minyak goreng.

Di kepala Iqbal sudah terekam titik-titik kaum duafa yang hendak dikunjungi, termasuk warga yang menetap di sisian rel kereta komuter Bekasi-Jakarta.

“Saya kumpulkan dana, belanja sendiri dan bagi sendiri. Saya sudah dua kali berbagi sembako, pertama 181 paket dan kedua 50 paket. Gelombang berikutnya menunggu donasi,” kata pria asal Makassar ini kepada PINISI.coid.

Padahal, Iqbal juga merasakan dampak sosial dari wabah ini. Betapa tidak. Di klinik tempat prakteknya, tidak sedikit pasiennya yang sulit membayar jasa dokter, sementara obat-obat juga langka di pasaran. “Karena itu di rumah, saya sudah menyiapkan bahan kebutuhan pokok selama beberapa bulan ke depan. Saya sudah membayangkan hidup seperti sebelum tahun 1965,” ujarnya risau.

Sejurus dengan Iqbal, Aca Hasanuddin, sutradara yang dikenal dengan sinetron Penjual Bubur Naik Haji ini, menyisihkan rejekinya untuk berbagi kepada warga kurang mampu di sekitar tempat tinggalnya di Kota Bekasi. Pria asal Soppeng ini membagikan dari rumah ke rumah sambil menjaga jarak fisik saat ia mengangsurkan bingkisan.

Di Denpasar, Jaenal Tayeb sampai melego mobil milik putrinya, Karina Tayeb yang bekerja di Australia. Karina sepakat mobilnya dijual untuk disumbangkan kepada warga yang terbelit ekonomi gegara virus asal Wuhan tersebut. Hasil penjualan mobil Fortuner itu dibelanjakan 20 ton beras dan bahan kebutuhan pokok lainnya untuk disebar kepada 400 Kepala Keluarga di Kabupaten Badung, Bali.

“Kami juga membagi ribuan paket sembako di Bali, Lombok, Banyuangi dan Makassar,” kata pebisnis wisata ini.

Dua mobil mewah lainnya milik Ketua KKSS Bali itu menyusul dijual buat penambahan modal pelaku ekonomi kecil yang terdampak virus korona di pulau Dewata itu. Tak kurang Rp 2 miliar ia rogoh dari koceknya untuk didermakan ke warga yang didera virus yang berjuluk seribu wajah ini.

Sementara di Depok, Nadjmah Sadollah Daeng Kanang, rasa ibanya terusik saat wabah berimbas pada warga di sekitar lingkungan tempat  tinggalnya di Depok, Jawa Barat. Panggilan nurani mendorong Nadjmah mengulurkan 40 paket beras kepada pemulung, tukang becak, dan warga rentan miskin di kawasan Depok Timur. Meskipun KKSS Depok sebenarnya secara kelembagaan sudah mendistribuskan bantuan kebutuhan pokok kepada warga terdampak pada awal April.

Di pedalaman Depok lainnya, di Rangkapan Jaya Baru, dua warga KKSS yang bertetangga urunan untuk membeli kebutuhan pokok kemudian disebarkan ke tetangga-tetangganya terutama kepada pekerja informal dan harian. “Kita bagi-bagi kodong ke pembantu rumah tangga, janda, ojek, marbot masjid, dan tukang sampah,” kata perempuan paruh baya ini dengan logat Bugisnya yang kental.  

Adapun di Gorontalo, Jaenal Mappe membagikan donasi dan APD, kepada warga dan rumah sakit, baik secara pribadi, atau atas nama perusahaan maupun selaku paguyuban KKSS, di mana Jaenal adalah ketua.

Di Jakarta, Musdalifah Pangka, pembina penghuni sekitar 12 ribu warga apartemen di Kalibata City, Jakarta Selatan, menginisiasi menyumbang 2.000 paket kebutuhan pokok kepada sekuriti, tenaga kebesihan, panti asuhan, pengemudi ojek, dan warga sekitar apartemen yang paling ramai di Ibu Kota itu. Paket berisi beras 5 kg, telur ayam satu kg, minyak goreng, terigu dan gula pasir dibagi pada Rabu, (22/4/20).

 “Kita berbagi kepada warga yang lagi sulit hidupnya,” kata Musdalifah, yang juga Ketua KKSS Jawa Tengah.

Demikian pula Syamsul Zakaria, dengan mobilnya ia menyusuri sudut-sudut Ibu Kota, mendatangi warga menyapa sekaligus memberikan bingkisan sembako, dan masker. Di simpul-simpul warga KKSS berada, ia membagikan paket yang cukup meringankan ekonomi keluarga. Sedangkan selaku Ketua KKSS DKI, Syamsul yang dikenal sebagai pengacara telah mendisrtibusikan ke sejumah warga umum yang terimbas pandemi, Sabtu dan Minggu, (24-25/4/20).

Tak kalah haru, pengusaha asal Sidrap H. Mashur Ilyas, yang tinggal di Jakarta pada Minggu (26/4/20), dengan mengunakan mobilnya berbagi 1.500 nasi kotak buat bekal buka puasa kepada pemulung, pengojek online, asongan, maupun orang-orang yang sedang ditemui di jalan.

Lebih awal, dua pegiat sosial Jumrana Salikki dan dr. Zaenal Abidin — keduanya pengurus BPP KKSS, secara pribadi berempati kepada penduduk yang bertempat tinggal di sekitar kantor KKSS, Jalan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Warga masyarakat yang rentan miskin di daerah itu disumbang beras, telur dalam puluhan paket sepekan sebelum Ramadhan.

“Berbagi tidak membuat kita miskin,” kata Jumrana.

Tentu di pojok-pojok lain, di tengah wabah Covid 19 masih banyak warga KKSS dengan ikhlas menyisihkan sebagian rejekinya untuk menolong sesama tanpa publikasi.[Lip

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here