Gula Aren, Kemiri, Kluek dan Pangi. Sumber Penghidupan

0
852

Kolom Fiam Mustamin

EMPAT jenis tumbuhan ini; gula aren dari kanau, kemiri, kluwek dan pangi merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat Soppeng khususnya.

Tanaman itu  tumbuh di daratan tinggi pegunungan termasuk tanaman keras. Tanaman ini tidak tahu persisnya kapan ditanam yang usianya mungkin ratusan tahun yang tak ada musimnya dan terus disemai/panen untuk keperluan konsumsi keluarga dan dijual sebagai pencaharian dari hasil bumi.

- Advertisement -

Bila akan kembali ke kampung menuju Soppeng, saya memilih tiga jalur  perjalanan dari Makassar melewati pegunungan Camba, Maros, Lamuru atau Bulu Dua Gattareng dan jalur pantai ke pegunungan Lawowoi Parepare.

Di tiga jalur ini saya dapat menyaksikan tumbuhan tersebut di sisi kanan kiri jalan dan hamparan hutan.

Kemungkinan terbuka jalur lain menuju Soppeng manakala jalan tembus yang sudah dirintis dari Malimping ke Takalasi, Barru yang tersisa sekitar 25 kilometer. 

Bila jalan itu terhubung akan memperpendek jarak tempuh sekitar 45 menit.

Kemanfaatan lain dari itu akan terbukanya  kawasan itu menjadi jalur angkutan hasil hutan, lahan perkebunan dan jalur pariwisata dari puncak gunung Bulu Dua, Sidrap, Enrekang ke Tana Toraja.

Para perantau orang Soppeng ada menyimpan  hasil bumi gula merah/aren, kluwek/kaluak dan pangi.

Kontemplasi di Alam Raya

SETIAP kali akan  ke kampung terutama di bulan ramadhan untuk menyaksikan suasana  masyakarat yang berduyun-duyun  menuju masjid untuk shalat magrib, buka puasa bersama dan berlebaran. 

Saya berdoa semoga dalam perjalanannya dapat menyaksikan tumbuhnya padi yang sedang berbuah/menguning, tersedianya makanan dan kue kue khas kampung di warung. 

Ketika mobil mulai menanjak mamasuki pegunungan kawasan Bulu Dua saya membuka semua kaca pintu mobil untuk menyerap udara bersih.

Saya terdiam tafakur memandang  sunyi, mendengar bebunyian hewan hutan nyiu.. nyiu.. nyiu… menatap pohon-pohon di sekitar yang berdiri tegak yang dalam batin seperti sedang bertegur salam.

Betapa mencekam suasana ini menjadi flas back/kilas balik  mengingat kampung di pegunungan, orang tua dan handai taulan yang telah tiada seolah mereka hadir dalam bayanganku.

Beberapa saat kemudian sampai di puncak pegunungan Bulu Dua yang  berselimut kabut dan      menghidupkan lampu mobil untuk melihat jalan sekian meter. 

Dari situ menurun dan menyinggahi warung melepas kerinduan dengan makanan di kampung, ada tuak aren manis. jagung rebus pulut, madu/wani, gula kelapa dalam tempurung/sonri namanya. Ada panganan khas lemper yang diasap (gogose) dan telur asin/ kannasa tello.

Sepanjang perjalanan dari desa Cennae, Takkalala dan Lajoa di kiri kanan areal persawahan dengan padi yang sedang matang menunggu hari dipanen. 

Sampai ke kota perbukitan yang sejuk Watansoppeng yang dipenuhi oleh burung kelelawar yang bergelantungan di pohon asem mengeluarkan bunyi seolah kata penyambutan kepada setiap tamu;  selamat datang/poleki mae silesureng.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here