Fiam Mustamin, Eksekutif Pertama KKSS

0
97
Fiam Mustamin (kanan) bersama pimpinan KKSS.

PINISI.co.id — Jangan mengaku pernah ke Makassar jika belum pernah makan pisang epek di pantai Losari.

Jangan mengaku aktivis KKSS jika belum mengenal sosok Fiam Mustamin.

Saya bersyukur dapat mengenal salah satu senior saya di Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPP KKSS), Pak Fiam Mustamin.

Sabtu, 5 Oktober 2019, saya berhasil mewawancarai Pak Fiam. Mengupas sekilas profil dan kesannya mengenai corak kepemimpinan empat Ketua Umum BPP KKSS, sejak era Prof. Dr. Ir. Beddu Amang, alm Mohammad Taha, Hasanuddin Massaile, dan Mayjen TNI (Purn)  Abdul Rivai.

Fiam lahir di daerah pegunungan Sering Watanlipue, Kecamatan Donri-Donri Kabupsten Soppeng,  Sulawesi Selatan (Sulsel), 1 Januari 1954. Fiam adalah anak pertama dari lima bersaudara dari pasangan almarhum La Fiabang bin La Bandung dan I Mappe Binti La Matolling.

Fiam menyelesaikan sekolah dasar di desa Tajuncu dan Leeoreng,  SMPN-1-nya di kota Watasoppeng, SMA Ampera dan SMA Kristen di Jalan Batu Putih Makassar. Kuliah di Universitas Ibnu Chaldun Jurusan Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sinematografi di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang kini bernama IKJ — Taman Ismail Jakarta.

Usia 20 tahun, ia nekat berhijrah (merantau) ke Jakarta, akhir tahun 1974 dengan kapal laut barang dengan berbekal  “dus surat rekomendasi” untuk kuliah dan kerja dari  Dewan Kesenian Makassar, pimpinan alm Rahman Arge dan Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) pimpinan alm Ramiz Parenrengi.

Hidupnya dimulai di Jalan Gunung Sahari Nomor 4, Jakarta Pusat, di rumah M. Yunus, seorang tentara asal Makassar. 

Selama hidup di Jakarta, dari Jalan Gunung Sahari, Fiam berpindah-pindah hingga menikah dan menetap hingga hari ini, tinggal di kawasan Condet, Jakarta Timur.

Fiam pernah tinggal di kantor Persatuan Bioskop Seluruh Indonesia pimpinan Muh Johan Tjasmadi Jalan Bungur Besar  dan di Jalan Bluntas, Salemba Jakarta Pusat, ketika itu hidupnya dari menulis di sejumlah surat kabar Jakarta dan Pedoman Rakyat Makassar. Ia kemudian bekerja di Perusahaan Pembuatan Film dan sempat  bekerja sebagai kru produksi film antara lain Di Ujung Badik, Sanrego, Senja di Pantai Losari, Cinta Pertama, Tragedi  Tinombala dan lain lain. 

Mengenal KKSS

Fiam mulai mengenal dan masuk pengurus di Departemen Seni Budaya bersama Abd Muin Ahmad, Luther Barung, dan Andi Tenrisau Sapada BPP KKSS era Andi Oddek di tahun 1980-an, berkantor di Jalan Sungai Musi, Jakarta Pusat, kantor Achmad Pawennei, Sekretaris Jenderal BPP KKSS ketika itu.

Di empat pengganti Andi Oddek adalah Mayjen Muslim Massewa, Beddu Amang, Mohammad Taha, dan Mayjen Abdul Rivai, Fiam selalu masuk menjadi pengurus dan aktif di BPP KKSS. Fiam ikut merasakan suka-duka pengurus harian BPP KKSS yang bepindah-pindah kantor, dari Jalan Sungai Musi ke Cilamaya, Cideng, Jakarta Pusat; Jalan Buncit Raya, Mampang, Jakarta Selatan; Panti Asuhan Jalan Otista, Jakarta Timur; Gedung Bank Bumi Daya (BBD) Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat; dan terakhir di Jalan Bendungan Hilir, Nmor 94-A Jakarta Pusat.

Kesan

Fiam melihat setiap Ketua Umum KKSS, memiliki gaya khas, Andi Oddek misalnya mememiliki kharisma, tegas, disegani, dan dihormati oleh warga perantau. Muslim Massewa, hanya 6 bulan, tidak lama karena tidak mendapat ijin dari Panglina TNI ketika itu. Beddu Amang dinilainya berusaha merangkul semua potensi perantau, setiap pejabat eselon 1 dan Anggota DPR RI yang baru dilantik asal Sulsel, didata dan dijamu, termasuk diberi pin penghargaan. 

Banyak kegiatan di era Pak Beddu karena banyak sumber dana dari warga KKSS. Kemudian, di era Mohammad Taha, dengan gaya saudagar, banyak pengusaha pribumi dan Tionghoa dilibatkan. Terakhir, era Abdul Rivai, gaya militer, penuh disiplin dan terlalu percaya diri.

[M. Saleh Mude]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here