Dualisme Kepengurusan IKAMI Sulsel Sisakan Problem Konstitusional

0
1105
Ir. Ramli Kadir, mantan Ketua IKAMI Sulsel Bandung, dan mantan Wakil Ketum IKAMI.

PINISI.co.id- Tahun baru tampaknya masih menyisakan soal dalam kepengurusan Pengurus Besar Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Sulawesi Selatan (PB-IKAMI Sulsel) terbelah menjadi dua kubu. Besarnya konflik interes dan egosentrisme ditengarai menjadi penyebab IKAMI yang mengayomi mahasiswa dan pelajar asal Sulsel di rantau menjadi dua faksi. Ini bisa menjadi preseden buruk pada masa datang menyusul sejumlah Badan Otonom dan Pilar KKSS juga terpilah jadi dua.  

Seperti diketahui, Musyawarah Nasional (Munas) PB IKAMI berakhir dengan polemik atas terpilihnya Zulfikar Wisnu dari IKAMI Cabang Bandung, Jawa Barat secara aklamasi, 26 Desember 2019 di Cileungsi-Bogor. Ia didapuk secara aklamasi dengan 27 dari 51 Cabang yang mengikuti Munas.

Menurut mantan pengurus PB IKAMI Sulsel Saleh Mude, IKAMI kini terbelah menjadi dua faksi pasca-Munas, pendukung yang telah memilih Zulfikar dan yang walk out di Munas, menentang Zulfikar. Faksi terakhir memilih hijrah dan bertahan di Markas IKAMI, Jalan Talang, Jakarta Pusat.

Sebagian peserta memprotes keterpilihan Zulfikar lantaran dinilai tidak demokratis.

Terkait itu, mantan Ketua PB IKAMI Wahidah Laomo bersama Saleh Mude mencari informasi tentang hasil Munas. Simpulnya,  kedua senior IKAMI ini berharap agar kedua kubu bersatu. “Kubu Talang tidak meminta dukungan dan kami juga tidak tepat jika mau medukung salah satu kubu,” tutur Saleh Mude.

Belakangan, Munas IKAMI berlanjut di Jakarta dan telah menasbihkan Rahmat Al Kafi sebagai Ketua Umum IKAMI Sulsel. Munas Dihadiri 29 cabang penuh IKAMI Sulsel dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Dari Munas yang berlangsung muncul kandidat Rahmat Al Kafi yang merupakan kader dari IKAMI Cabang Malang dan Darwis Embong Bulan yang merupakan kader dari IKAMI Cabang Jakarta. Keputusan Munas berdasarkan suara forum,” ujar Presidium Sidang I Munas IKAMI Sulsel XVIII, Wiranto Embong Bulan usai menutup Munas IKAMI Sulsel XVIII di Jakarta, Minggu (29/12/2019).

 “Kelanjutan Munas IKAMI di Jakarta ini berlangsung dengan konstitusional, karena Munas yang sebelumnya berlangsung di Cileungsi, Bogor itu memang banyak sekali yang menabrak aturan. Yang pertama, tidak sah karena kandidat yang dipilih secara sepihak saat di Munas itu ialah kader partai. Yang kedua, yang memimpin persidangan pada saat itu bukan presidium sidang, tapi yang memimpin persidangan ialah steering committee (SC), dan dengan palu sidang yang berbeda,” bebernya.

Namun, Amir Wata, salah seorang calon Ketua IKAMI yang kalah, menganggap bahwa ada dualisme di IKAMI. “Yang Munas Bogor terpilih Zulfikar,  dan Munas Jakarta yang terpilih Kahfi,” ujarnya.

Ramli Kadir, Ketua IKAMI Bandung 1992-1994, merasa prihatin atas dualisme yang menimpa IKAMI Sulsel. “IKAMI harus solid dan tidak membiarkan bibit-bibit perpecahan,” kata Wakil Ketua Umum IKAMI Sulsel 1995-1998 ini, kepada PINISI.co.id.   

Menurut Dewan Pakar KKSS yang juga alumni ITB ini, KKSS tidak mengenal istilah dualisme, sehingga apapun perbedaan yang terjadi selalu berujung pada kebersamaan. “Jadi seharusnya memang tidak ada tanding-tandingan,” tegasnya. [Lip]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here