Di manakah Perempuan Tanah Bugis yang Patriotik Pemberani dan Malebbi Itu

0
771

Kolom Fiam Mustamin

Prof Dr Nurhayati Rahman, Guru Besar Sastra Universitas Hasanuddin mengatakan bahwa Gender Dalam Prospektif Budaya di Sulawesi Selatan tidak dibatasi oleh jenis kelamin, tapi sejauh mana perempuan itu memiliki kompetensi/kemampuam untuk berkiprah di ranah publik/ masyarakat yang setara dengan kaum lelaki.

Guru besar ini saya sudah kenal cukup lama dan mendapatkan sejumlah karya bukunya antara lain yang monumental La Galigo Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia yang diterbitkan oleh Pusat Studi La Galigo Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora Pusat Kegiatan Penelitian Universitas Hasanuddin Juni 2003.

- Advertisement -

Buku itu sebagai referensi bacaan yang tergolong klasik/purba dalam Peradaban Manusia Bugis khususnya.

Bukunya menguraikan Empat Bagian penting yaitu ; 1.Dicengkeram La Galigo 2. Pengembaraan Tradisi Lisan La Galigo di Nusantara 3. Teks La Galigo dalam Kepungan Makna dan Interpretasi dan 4. Dunia dalam La Galigo dan Realitas Masyakat Kekinian.

Buku ini boleh saya sebut sebagai Kitab Peradaban dalam 531 halaman yang ditulis/disunting oleh tiga orang ; Nurhayati Rahman, Andi Hukma dan Idwar Anwar.

Kembali ke judul diatas siapakah Perempuan Bugis yang Pariotiik Pemberani dan Malebbi/Malabbiti itu.

Patriotik diartikan tidak sebatas perjuangan pergerakan untuk kemedekasn dengan melawan.penjajahan Belanda, melainkan juga yang tampil sebagai pemimpin Datuk/Raja Perempuan pada jaman jauh sebelum kemerdekaan.

Tersebut misalnya Datu/ Raja perempuan dl Soppeng yang ke 35 Sitti Zaenab (1895 -1940) dan Datu/Raja Soppeng yang ke empat We Takkewanua (1408-1438).

Adapun perempuan yang mengukir sejarah peradaban dan. Perjuangan Pergerakan Kemerdekaan di Sulawesi Selatan, antara lain:

  1. Ratu Siti Aisya We Tenriolo, raja di Tanette Barru (tahun 1855 sd 1910) penggiat pendidikan dan sastera yang menterjemahkan La Galgo dengan pesan pesan kearifan dan kepemipinan .
  2. Besse Kajuara menggantikan posisi suaminya jadi raja di Bone. Terkenal dengan taktik perang gerilyanya usai menyerang lari masuk hutan. Membalik bendera Belanda menjadi Merah Putih pada semua perahu yang berlayar di perairan wilayah Bone.Melepaskan kuda kuda tunggangan serdadu Belanda membuat Belanda tak berdaya.
  3. Opu Daeng Risadju, bangsawan Luwu dengan kondisi buta tuli atas penyiksaan Belanda terus melakukan peperangan melawan Belanda.
  4. Pancai Tana Bunga Walie raja dari Enrekang,
  5. I. Fatimah Daeng Takontu srikandi, pemimpin pasukan laskar
    Balira Gowa putri Sultan Hasanuddin bersama saudaranya Karaeng Galesong melanjutkan peperangan bersama Pangeran Diponegoro di Jawa, bersama Sultan Tirtaysa di Banten dan peperangan di Kalimantan.
  6. Emmy Saelan meledakkan granat ditangannya untuk mati bersama beberapa pasukan yg perlu ditelusuri dan bicarakan.

Perempuan perempuan Bugis ini mewarisi genetik keberanian dan kecakapan.

Bisa dikatakan memadukan empat gen yaitu ; warani na magetteng/ berani dan teguh, maccai na mampu/ cerdas dan jujur.

Potensi wsrisan genetik ini hendanya menjadi ruh sumber kekuatan yang diimplementasikan dalam kehidupan moderrn sekarang ini.

Perempuan Kini

MASA kini bukan lagi masa perjuangan fisik angkat senjata, tapi perjuangan gender untuk bersama mengisi kemerdekaan dan bersama berkiprah di arena publik/ masyarakat.

Tentu tuntutannya adanya kompetensi dengan penguasaan Imu pengetahuan dan teknologi.

Peluang kesetaraan itu terbuka di area pemerintahan, politik, profesi, dunia usaha dan lain lain.

Perempuan dengan apapun posisi jabatan sosialnya tidak boleh kehilangan jati diri nilai-nilai yang membuat iya agung dan terhormat/termuliakan karena prilaku/ tabiat kesantunannya.

Itulah yang disebut dalam terminologi Bugis Makassar ; Malebbi/ Malabbiri.

Ukuran nilai Perempuan Malebbi itu tidak
disetarakan dengan nilai mahar, doi menre/panaik atau sompa.

Beranda Inspirasi Ciliwung 30 November 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here