Buku “Sumpah Pena” Membangunkan dari Tidur Panjang

0
524

Catatan Drs. M. Sabrie Mustamin

Banyak penulis yang melahirkan karya, tapi tidak semua penulis mampu melahirkan karya tulis yang memiliki energi magnit menarik pembaca untuk melumat karya-karya tulisnya. Hal ini disebabkan karena sebuah tulisan bukan hanya sekedar merangkai kata dan kalimat, tetapi sang penulis harus memahami bahwa setiap kata bermakna dan kalimat bertujuan.

Dengan memahami makna kata dan tujuan kalimat, tulisan yang lahir laksana memiliki roh di dalamnya yang selalu bergerak tak berwujud mempengaruhi pancaindra untuk menyelingkuhi karya itu sampai tuntas. Itulah sebabnya tidak jarang ada penulis meneteskan air mata ketika menggoreskan penanya karena pemahamannya yang mendalam terhadap makna kata dalam tulisannya. Begitu pula sering ada pembaca tiba-tiba sedih menangis, bahkan berteriak penuh semangat setelah membaca sebuah tulisan.

- Advertisement -

Satu diantara penulis itu adalah Pak Ruslan Ismail Mage (RIM) lewat karya spektakulernya buku “Sumpah Pena” yang berkolaborasi dengan Pak Kuspriyanto (Iyan). Buku ini terasa istimewa, karena sampai di tangan sehari jelang ulang tahun sang penulis Pak RIM 27 Juli 2021.

Karena itu, dengan apresiasi yang tinggi, saya mengucapkan selamat ulang tahun Pak RIM, semoga Allah SWT memberikan kita kesempatan untuk senantiasa mengungkapkan rahasia langit, agar sumpah pena terus memberikan informasi dari catatan kitab “Lauhulmahfuz” yang dalam Al-Qur’an disebut sebanyak 13 kali.

Buku “Sumpah Pena” yang sementara kubaca ini membangunkan dan menyadarkan kami dari tidur panjang selama ini, bahwa ada tugas yang dibebankan pencipta kepada kita untuk menjadi Khalifah sekaligus memakmurkan bumi. Bukankah kata hadits, “manusia yang terbaik bila memberikan manfaat bagi sesama.” Manusia yang berguna terbentuk dari proses pembelajaran terus menerus, yang dimulai dari tulis baca dan berhitung.

Pena atau Kalam adalah ciptaan Allah SWT yang tercipta jauh sebelum alam semesta yang diawali oleh terciptanya Arashi dengan “Kunpayakun.” Kemudian Kalam ditugaskan Allah SWT untuk menulis segala sesuatu sampai tintanya mengering. Ibnu Katsir mengungkapkan bahwa “Lauhulmahfuz” adalah tulisan Tuhan yang panjang dan luasnya seluas langit dan bumi.

Menulis dan membaca adalah perintah Allah SWT agar manusia dapat memahami hakikat penciptaananya. Al-Qur’an Surat Al-a’laq ayat 1-5 ini mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menulis dan membaca. Dalam hadits diterangkan dengan sangat jelas bahwa kebahagiaan hidup dunia dan akhirat hanya bisa diraih dengan ilmu pengetahuan.

Buku “Sumpah Pena” dengan apik menginformasikan kepada kita bagaimana malaikat Jibril menyuruh Nabi Muhammad Saw untuk membaca sebanyak lima kali. Hal ini juga memberikan pengertian bahwa membaca memerlukan proses, dan buku “Sumpah Pena” mengajarkan tidak ada kata terlambat untuk menulis dan membaca menuju keabadian sepanjang masa. Terima kasih bukunya Pak RIM. Luar biasa, teruslah berkarya untuk menginspirasi kehidupan. (Bumi Patampanua, 27 Juli 2021).

Penulis : Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kabupaten Kolaka Utara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here