Begini Warga Shalat Ied di Rumah. Ketum KKSS Imbau Agar Tetap Patuhi Protokol Kesehatan

0
630
Keluarga Ir.H.Syahrir Rahim Gani bersama Eda Abbas melakukan shlat Ied di rumahnya di Surabaya.

PINISI.co.id- Inilah mungkin kali pertama sejarah umat Islam di dunia, di mana banyak penduduk Bumi yang menunaikan sahalat Ied dan khutbah di rumah masing-masing, gegara pandemi Covid-19.

Tidak terkecuali warga Sulawesi Selatan di seluruh penjuru dunia, entah di Mesir, Korea Selatan, New York, Budapest, Sydney, Belanda, Paris, Tokyo, Cape Town, Doha, hingga Singapura.

Ketua Umum Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Muchlis Patahna sedari awal telah mengimbau kepada warga KKSS untuk tidak mudik ke kampung halaman, guna menahan laju penyebaran virus korona baru yang memapar seluruh provinsi di Indonesia.

Ini seturut imbauan pemerintah dan MUI yang mengajak masyarakat agar melakukan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1441 di rumah.

“Agar warga KKSS ikut aturan PSBB di daerah yang memberlakukan aturan tersebut, sebaliknya yang tidak PSBB, warga agar tetap mematuhi protokol kesehatan; disiplin untuk menjaga jarak, memakai masker, dan selalu mencuci tangan,” imbau Muchlis.

Shalat Ied di Rumah

Ketua KKSS Kalimantan Selatan Prof. Dr. Alim Bachri, kali ini menjadi imam dan khatib bagi keluarganya di Banjarmasin. “Makmun saya 12 orang, termasuk sejumlah mahasiswa yang tinggal di rumah,” tutur Bachri.

Untuk pertama kali Bachri tidak dapat mendekap kedua orangtuanya di Baraka, Enrekang, karena pelarangan mudik. Alhasil Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat ini melakukan Lebaran virtual dengan sanak keluarga di kampung. Lewat video, pun membagikan ucapan Idul Fitri  ke banyak orang.

Adapun Wakil Ketua Umum KKSS Ariefuddin Pangka menjadi khatib Idul Fitri di rumahnya yang lapang di Ciganjur, Jakarta Selatan, bersama istri, anak, mantu dan cucunya. Judul khutbahnya berbakti kepada orang tua, sementara putranya, Arfani memimpin shalat Ied.

Eda Abbas yang tinggal di Surabaya, jauh-jauh hari sudah merancang untuk berlebaran di Sungguminasa, namun belakangan batal karena pelarangan mudik. Anak dan cucunya yang tinggal di pelbagai kota yang semula ingin berlebaran di kota  Buaya itu juga urung sehingga semua tiket dibatalkan. Manalagi PSBB di Surabaya diperpanjang hingga 8 Juni.

 “Jadi kami shalat Ied di rumah dengan mantu dan cucu. Khatib dan imamnya tak lain adalah suami saya, Syahrir Rahim Gani,” kata Eda yang dikenal sebagai artis penyanyi lagu daerah dan keroncong di TVRI Makassar dekade 80-an, ini, kepada PINISI.co.id.

Sebelum-sebelumnya, bersama suami dan anaknya, Eda selalu mudik ke kampung. Apalagi suami dari Parepare sehingga sejalur mudiknya jika Lebaran tiba. Di Sungguminasa, agenda Eda cukup banyak. Mulai bersilaturahim bersama keluarga besarnya, selain menghelat reunian dan halal bihalal dengan teman-temannya dari SMP 1 Sungguminasa.

Demikian pula Any Dawi yang baru pertama Lebaran Idul Fitri di Bogor. Biasanya bersama suami yang juga sekampung, Any mudik ke kota Anging Mamiri, namun sekarang terasa berbeda atmosfirnya. “Suami yang jadi khatib dan imam shalat Ied di rumah,” ucap Any.

Lebih dulu, sang suami kursus kilat ihwal tatacara menjadi khatib dadakan. Sepenggal demi sepenggal ia lafalkan ayat-ayat suci untuk mengantar dan menutup ceramah singkatnya. Any berjamaah berempat dan mewajibkan khatib  apabila shalat Ied di rumah.  

Tahun ini Any tidak bisa berlebaran bersama orangtuanya yang masih hidup di Makassar. “Sedih tidak bisa pulang kampung, tapi mau apalagi,” kata Any yang sudah menyiapkan burasa, nasu lekku, dan rendang di rumahnya.    

Lazimnya jika pulang kampung, Any dan suami yang sesama ASN, bisa reunian dengan teman-teman seangkatannya di SMA 1 Sungguminasa.   

Belajar Khutbah 

Pengalaman unik lainnya dilakoni Andi Rusdi Galigo. Untuk kali pertama dalam hidupnya ia menjadi khatib sekaligus imam shalat Ied. “Kalau tidak ada korona mana mungkin saya bisa jadi khatib Lebaran,” katanya tertawa.

Rusdi, terdorong mempelajari khutbah dari Google. Karena dadakan, ia hanya menjumput sebagian ayat dan doa. Inti ceramahnya adalah berkah ramadhan di tengah pandemi. “Cuma saya belum bisa menerima undangan di tempat lain untuk berkhutbah,” tuturnya, lagi-lagi tertawa.

Tak ayal, Rusdi bersama istri berikut keluarganya tidak bisa mudik ke kampungnya di Bone karena pembatasan sosial. Mereka cukup bermaafmaafan  lewat video call saja.  

“Saya mengimani dan menceramahi 12 orang jamaah,” ujar Rusdi dari rumahnya di kawasan Jakarta Utara.

Tak kurang, Veta Arsyad yang selalu pulang kampung di Makassar, meski orangtuanya telah wafat, kali ini cukup berlebaran di Depok, di rumah barunya. Di situ, yang menjadi imam adalah putranya. Tanpa khutbah tersebab cuma berdua, sementara dua anak perempuannya berhalangan.

Di Bekasi, Abidin Beddu dan istrinya Yeane Cicilia Abidin, melakukan shalat Ied di rumahnya. “Yang ceramah dan imam suami sendiri. Makmumnya kami sekeluarga, termasuk tiga mantu, anak tujuh, cucu empat, ” ujar Yeane yang juga Ketua Ikatan Wanita Sulawesi Selatan Kota Bekasi ini.

Sebagaimana biasanya pasangan ini mudik ke kampung Beddu di Sidrap dan Yeane di Makassar. Biarpun kedua orangtua Beddu telah pulang ke Rahmatullah, mereka tetap ke Sidrap dan Makassar menjumpai handai taulan seraya menikmati kuliner dan mengenang nostalgia. “Kami lebih banyak di Makassar karena ibuku masih ada,” kata Yeane.

“Lebaran di Bekasi juga asyik, yang penting ada ji burasa sama kari ayam kampung,” ucap Yeane.

Berbeda dengan lainnya, keluarga Anwar Jibe, yang kerap berlebaran di Makassar, cukup di Depok kali ini. Anwar, lebih awal mempersiapkan materi ceramahnya sambil menghafal beberapa hadist dan lantunan ayat-ayat suci biar khutbahnya lebih berbobot.

Lebih dari itu, Anwar menggunakan mimbar seperti laiknya di masjid. Dengan fasih Anwar bisa membawakan ceramahnya dengan lancar di depan istri, mertua dan tiga anaknya.

“Pak Anwar serius. Sekitar tiga minggu dia sudah rajin mencari tema ceramah berikut doa-doanya,” kata Muly Massadiah, istri Anwar.

Muly berharap meski shalat Ied di rumah, namun tidak mengurangi hikmat Idul Fitri dalam meraih kemenangan. “Mohon maaf lahir batin; mari ki makang ketupat dan nasu lekku,” ajak Muly. [Lip]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here