Bagai Angin yang Berembus, Aspar Paturusi Terus Berpuisi

0
929
- Advertisement -

PINISI.co.id- Berbeda orang kantoran yang mengenal kata pensiun, seniman, sebaliknya tak pernah purnakarya. Ia terus menorehkan buah karya, bahkan jika ia telah tiada sekalipun, karya-karyanya terus hidup, lantaran masih, selalu dan tetap dibaca orang. Sajak-sajak Chairil Anwar (1922-1949) drama-drama Shakespeare (1564-1616) atau lukisan Van Gogh (1853-1890) hingga kini masih terus dinikmati di Indonesia dan penjuru dunia.

Begitu pula, Aspar, yang bernama panjang Andi Sofyan Paturusi, praktis saban hari menggugah dan membangunkan kesadaran kita lewat sajak-sajaknya, baik yang lawas maupun yang terbaru.

Bagi pria kelahiran Bulukumba, 10 April 1943 ini, usia senja tidak lantas membuat orang mati rasa. Kemuliaan orang jika ia senantiasa memproduksi kebaikan, meski hanya selarik puisi.    

Dalam dunia seni berlaku diktum, hidup itu singkat seni itu abadi.   

Puisi di bawah ini berjudul ‘Deklamasi’ dan foto diri Aspar yang membawakan sajak saat  usianya 29 tahun, pada ujung 1972. Foto ini pernah dimuat di harian Kompas, Januari 1973 mendampingi tulisan tentang aktivitas Aspar saat itu.

- Advertisement -

Dunia kesenian di Makassar terutama pada dekade 70-an banyak melahirkan seniman beken, antara lain Aspar Paturusi.   

Deklamasi

Aku berdeklamasi

buatmu satu puisi

begitu dulu kami

semua kata dihapal

sama sekali

Lomba deklamasi

selalu ramai

peserta banyak sekali

di kota kami

minat bersastra tinggi

remaja putra dan putri

Usia delapan belas

lalu sembilan belas

dua tahun berturut

juara satu kurebut

Alhamdulillah

aku kuat menghapal

satu kata pun tak salah

puisi wajib dan pilihan dihapal mati

hampir dua ratus peserta

bertarung sepenuh hati

Sepuluh lolos ke final

enam di antaranya sahabat kental

kami latihan bersama

tak ada tehnik rahasia

aku percaya diri

tenang tampil berdiri

aku siap bertarung

aku harus menang

Begitu gigih hafal puisi

masih ingat sampai hari ini

lima puluh tujuh tahun kemudian

Namun usia tak bisa dilawan

tentu ada yang berkurang

tapi cinta puisi tak hilang

Jakarta, 21 September 2018

(Lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here