Asyik, Kak Seto Bilang: Pendidikan di Rumah Masa New Normal Lebih Mandiri dan Kreatif

0
80
Dr.Seto Mulyadi alias Kak Seto. (Foto Republika).

PINISI.co.id– Pandemi Covid-19 mengakibatkan anak didik sekolah dari rumah diperpanjang hingga akhir tahun ini. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah menyiapkan skenario belajar dari rumah hingga akhir 2020. Hal itu sebagai antisipasi andai wabah Covid-19 masih belum berakhir di hingga ujung tahun.

Dalam belajar di rumah, Dr. Seto Mulyadi, yang akrab dipanggil Kak Seto, memberi pandangan bahwa hak dasar yang dimiliki anak adalah hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk dilindungi dan hak untuk berpartipasi. “Anak-anak memiliki kesenangan untuk belajar, senang bermain, senang bergerak, senang berpeluang, senang mencoba dan kreatif, dan senang melawan,” kata Kak Seto, dalam diskusi virtual yang digelar Departemen Kesehatan Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPP-KKSS) yang berkolaborasi dengan Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Literasi Sehat Indonesia (Lisan), Sabtu  (6/6/20). 

Menurut Kak Seto, dunia anak adalah dunia bermain sehingga jika terpaksa harus belajar di rumah saja, jangan terlepas dari nuansa gembira saat bermain. Kalau perlu juga melibatkan unsur R.T.-R.W. Namanya rukun tetangga, jadi harus juga rukun dalam menghadapi Covid-19 dalam berbagai kekompakan. Salah satu seksi perlindungan anak di tingkat R.T., dikenal SPARTA  (Seksi Perlindungan Anak Rukun Tetangga).

- Advertisement -

“Pendidikan karakter adalah inti dari pendidikan yaitu etika dan suasana penuh kasih sayang, maka stop kekerasan dalam dunia pendidikan jika terpaksa belajar di rumah. Belajar tidak harus dengan kekerasan. Kekerasan pada anak hanya akan merusak karakter anak. Impian anak adalah sekolah dan di rumah yang ramah anak. Dan hindari anak untuk menatap layar televisi dan gawai,” ujar Kak Seto.

Sekolah rumah, kata Kak Seto, merupakan proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh keluarga di rumah dan tempat-tempat lain dalam suasana gembira agar potensi unik dari setiap anak dapat berkembang optimal. Kelebihan sekolah di rumah bisa memberikan perhatian kepada anak, lebih mandiri, lebih kreatif, cocok pada anak berkebutuhan khusus, jauh dari pergaulan negatif, siap untuk kehidupan yang nyata dan kegiatan yang fleksibel.

“Kunci sukses menghadapi anak harus kreatif. Saat ini, saat terpaksa belum bisa sekolah, jangan dipaksa. Tahun ajaran baru, kurikulum baru bisa dimulai di pertengahan Juni,  tapi sekolah boleh tetap di rumah saja dulu. Pendidikan profesional bisa dilakukan dengan cara menyanyi, mendongeng, melawak, menceritakan tokoh, bermain sulap dan lainnya. Membuat suasana belajar yang menarik adalah salah satu cara agar anak nyaman di rumah,” jelasnya.

Dalam kesempaatn itu, Kak Seto menyempatkan untuk membawa lagu yang berjudul “Mendidik Dengan Cinta.”

Mendidik dengan Cinta

Semua anak merindukan

Kasih sayang kita

Mari terus mendidiknya

Penuh senyuman

Jangan mulai sekolah dulu

Bila belum aman

Mari mendidik anak tetap

Di rumah dulu

Mari mendidik anak dengan

Kekuatan CINTA.

Tahun Ajaran Baru di Era New Normal

Ketua Departemen Kesehatan BPP-KKSS dr. Zaenal Abidin mengingatkan, banyak anak-anak kita sudah bosan tinggal di rumah. Banyak yang sangat ingin kembali ke sekolah, namun, jika tanpa kepastian akan jaminan dan perlindungan dari risiko Covid-19, maka seharusnya pemerintah menghindari pembuatan kebijakan yang berisiko pada anak sekolah.

Karena itu, pakar Kebijakan Publik Dr. Chazali Situmorang, mengemukakan kebijakan tahun ajaran baru dalam new normal harus memberikan jaminan aman berupa keamanan anak-anak dan terbebas dari risiko transmisi virus di lingkungan sekolah, selain itu juga menjamin kesehatan dengan memenuhi konsumsi agar terjaga imunitas tubuh dan bagaimana aktivitas pendidikan di kehidupan normal dapat produktif sehingga dapat memenuhi target proses belajar mengajar itu harus dapat tercapai, supaya kualitas murid-murid itu tetap terjaga. Jangan karena Covid ini menyebabkan menurunnya mutu pendidikan.

Dari formulasi kebijakan New Normal harus berbeda dari aspek sosial, ekonomi dan perilaku sehat di masyarakat, dan yang menjadi tantangan adalah sanggupkah pemerintah membuat protokol di setiap satuan, misalnya pendidikan sehingga akan tetap mengikuti protokol dan syarat-syarat kesehatan yang telah ditentukan WHO.

Sebagai bentuk evaluasi dari penerapan kebijakan diperlukan parameter yang digunakan, manfaat dan implikasinya. Rekomendasi menurut pakar kebijakan publik terkait new normal dalam satuan pendidikan yaitu, untuk anak sekolah dasar harus lebih hati-hati dan kuat dalam proses pengawasannya.

Kemudian, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) agar digalakkan untuk pengawasan kesehatan setiap hari, pemberian makanan tambahan, gizi, dan vitamin, mengatur jumlah makanan tambahan, gizi, dan vitamin, mengatur jumlah murid setiap kelas dan memberlakukan batas maksimum perkelas.

“Sebaiknya guru dibekali dengan pengetahuan praktis tentang Covid-19 dan gejala klinisnya. Komunikasi lebih dimaksimalkan antara orang tua dengan guru terkait aktivitas masing-masing saat di sekolah maupun di rumah Adapun rekomendasi tersebut jika dilakukan masih sangat dibutuhkan kerjasama lintas sektoral agar tercipta sebuah lingkungan yang aman bagi anak,” kunci Situmorang. [Fen]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here