Ahli Epidemiologi Ridwan Amiruddin: Mengkhawatirkan Pengambilan Paksa Jenazah dan Penolakan Tes Cepat di Makassar

0
981
Sebuah lorong di Kota Makassar yang menolak tes cepat Covid-19.
- Advertisement -

PINISI.co.id- Seminggu terakhir, sebagian warga Makassar menolak rapid test masal  di tengah upaya pemerintah menekan penyebaran virus korona baru. Lebih-lebih Makassar merupakan episenter penyebaran Covid-19. Tak kalah gawatnya, fenomena pengambilan paksa jenazah bersatus pasien terus terjadi meski terbukti memunculkan kluster penularan Covid-19. Upaya pengambilan jenazah sudah kesekian kali terjadi, terakhir di RSKD Dadi Makassar, Rabu (10/6/20).

Hingga kini masih marak warga yang memasang spanduk bertuliskan menolak rapid test masal. Warga juga memblokade pintu masuk permukiman pendudukan menggunakan kayu. Padahal tes cepat sedang gencar dilakukan tim Gugus Tugas Covid-19 Sulsel, terutama di kawasan zona merah di Kota Daeng itu.

Menurut pakar  epidemiologi Unhas, Prof. dr. Ridwan Amiruddin, penolakan tes cepat dan pengambilan paksa jenazah PDP mengkhawatirkan di tengah penanganan pandemi, terlebih jumlah kasus positif di Sulsel terus meningkat.

Saat ini, kata Ridwan, Sulsel berperang melawan Covid-19 di Makassar sebagai episentrumnya, selain Kabupaten Maros dan Gowa dan Luwu Timur.

Penambahan kasus positif di Sulsel menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga Kamis (11/6/20)  jumlah pasien positif sebanyak 2.524 kasus.

- Advertisement -

Dosen Sosiologi Unhas Rahmat Muhammad mengatakan, aksi penolakan di Makassar tentu tidak terjadi begitu saja. Menurutnya, ada kegalauan yang dihadapi masyarakat dari ketidakpastian informasi yang mereka terima.

“Sebenarnya menolak itu tidak terjadi begitu saja, itulah keputusan yang diambil oleh masyarakat atas kegalauan yang dihadapi dari ketidakpastian info yang mereka terima,” ujar Rahmat seperti dikutip Kompas.com, Jumat (12/6/20). [Man, Kompas (12/6)]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here