Zaenal Abidin: Krisis Air Bersih Dapat Menimbulkan Bencana Baru

0
299

PINISI.co.id- Air merupakan salah satu sumber kehidupan mutlak bagi semua makhluk hidup, terutama manusia. Sekali pun sangat dibutuhkan, air sering pula menyebabkan musibah.

Dalam kedaan apa pun manusia pasti butuh air bersih. Dalam bencana karena air sekalipun, manusia butuh air. Apakah itu bencana salinasi air, air bah, tsunami, genangan air, banjir, semua butuh air bersih. Bencana kekeringan apalagi. Bencana alam lain juga sama, seperti gempa bumi, gunung meletus. Bencana non alam seperti pandemi Covid-19 dan bencana sosial seperti konflik dan perang, juga butuh air bersih.  

Hal itu dikatakan Ketua Departemen Kesehatan BPP KKSS Zaenal Abidin yang mengantar Webinar bertajuk “Bencana: Air Bersih yang Sering Dilupakan”, yang dihelat Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Departemen Kesehatan KKSS, Bakornas Lembaga Kesehatan (LKMI-HMI), dan www.sadargizi.com, Jum’at, (19/3/21).

- Advertisement -

Nara sumber Dr. dr. Lucky Tjahjono, M.Kes, Ketua Emergency Medical Team/EMT-IDI,dr. Sarbini Abdul Murad, Ketua Presidium MER-C, Dr. Ir. Rusnandi Garsadi, M.Sc, dari LAPI-ITB yang juga penemu teknologi Micro Hydraulic Water Treatment.Penanggap dr. Ahmad Kadarsyah, M.Sc, dari Yayasan IKRA Padjadjaran, Kol. (Purn. TNI AL.) Hasnah C., S.E., M.M, Ketua KKSS Peduli/Pemerhati Bencana) dan Hasanuddin, S.IP., M.AP, dari Literasi Sehat Indonesia/Pengajar Universitas Bhayangkara Jakarta Raya.

Dipandu Ns. Sarifudin, M.Sc., Webinar berlangsung menarik yang menekankan betapa pentingnya air sebagai penyangga kehidupan.

Ambil misal, dalam kebencanaan yang sering melanda Indonesia, tenaga medis dan relawan bila kekurangan air bersih ia tidak mampu bekerja menolong korban bencana. Kekurangan air bersih di lokasi bencana dipastikan akan makin memperparah kondisi bencana. Orang yang sebelumnya selamat dan sehat dapat jatuh sakit. Tenaga kesehatan dan relawan pun bisa jatuh sakit akibatnya. Karena itu kekurangan atau ketiadaan air bersih di daerah bencana berpotensi menjadi bencana baru.

“Dalam penyaluran bantuan bencana, yang selalu mendapat perhatian utama adalah alat kesehatan, obat-obatan, pakaian layak pakai, dan makanan. Ketersediaan air bersih kadang dilupakan. Untuk sekadar minum biasanya masih ada. Namun perlu diketahui bahwa kebutuhan air bersih di lokasi bencana bukan hanya untuk minum. Air bersih dibutuhkan untuk keperluan water, sanitation and hygiene (WASH). Masyarakat perlu cuci tangan, mandi, cuci pakaian, cuci peralatan makan,” ungkap Zaenal.

Karena vitalnya air bersih pada saat bencana, sehingga sumber-sumber air bersih sering diperebutkan. Tidak jarang sumber air bersih ini menjadi sumber ketegangan dan konflik baru. Jadi, tidak dapat dipungkiri bila kelak bencana yang menyebabkan krisis air kemudian berlanjut menjadi bencana sosial berupa konflik dan perang.

Apalagi, kata Zaenal, sudah sering diberitakan krisis air dapat mengakibatkan terjadinya ketegangan antar wilayah dan antar negara. Misalnya, yang intens terjadi di Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Persaingan yang termasuk sengit di antara negara-negara bagian lembah sungai di perairan: Nil Afrika, Amu Darya di Asia Tengah, dan Tigris-Euftrat di Timur Tengah.

Ketegangan-ketegangan seperti di atas,  dipandang Zaenal,  bila tidak diselesaikan dengan baik dapat saja memicu terjadi perang yang sesungguhnya. Perang karena memperebutkan penguasaan sumber air bersih.

“Jadi kita tidak boleh membiarkan terjadinya krisis air bersih pada setiap momen bencana. Bencana apa pun itu. Krisis air bersih dapat saja menimbulkan bencana baru yang lebih besar. Karena itu, kita perlu selalu memikirkan terpenuhinya kebutuhan air bersih pada sesiap bencana, baik pada masa tanggap darurat maupun pada saat tanggap darurat. selesai. Tentu ini merupakan tantangan bagi manajemen kebencanaan kita, apalagi negeri kita terkenal sebagai “gudangnya” bencana,” katanya.

Dicontohkan Kerajaan kuno Sumeria di  Mesopotamia Selatan meski sangat subur karena air, namun, di balik kesuburan itu terjadi bencana lingkungan karena Salinasi air. Bencana air bah juga pernah menimpa umat Nabi Nuh, yang juga keturunan bangsa Sumeria.

 “Di kawasan Mesopotamia Selatan ini pernah bermukim keturunan Nabi Adam dari garis keturunan anaknya, yang Qabil. Di sini pula lahir dan bermukin keturunan Nabi Adam  As., dari garis keturunan putra istimewanya yang bijaksanan, lembut hati dan berilmu, bernama Syits. Syits adalah ayah Nabi Idris. Nabi Nuh sendiri adalah cucu Nabi Idris dari anak Nabi Idris bernama Lamiik. Bahkan bila kita telusuri kisah Nabi Ibrahim dan ponakannya Nabi Luth keduanya berasal dari wilayah tersebut. Dalam buku “Ibrahim Bapak Semua Agama,” disebutkan bahwa Nabi Ibrahim adalah keturuan ke-10 dari Nabi Nuh, As., dari anaknya yang bernama Syam, berasal dari kawasan ini, Babilonia, Mesopotamia Selatan,” ujar Zaenal.

Disebutkan, bangsa Sumeria memang lebih dahulu mengenal peradababan. Tentu tidak lepas dari pengaruh Nabi Idris sebelum hijrah ke Mesir. Nabi Idris sangat mencitai ilmu dan senang belajar, sama seperti kakeknya. Tidak heran ia diberi nama Idris, dari kata “darasa”, yang berarti belajar atau pembelajar. Idris, kemanpun pergi, ia selalu membawa “sahifah” peninggalan nenek moyangnya yang berisikan ajaran Nabi Adam. Dari Idris-lah bangsa Sumeria pertama kali mengenal baca tulis. Idris pula yang tergerak berkreasi membuat pena agar teman-temanya dapat belajar menulis. Karena itu, Idris dikenal sebagi orang pertama yang menemukan pena. Setelah menemukan pena Idris mulai menciptakan tulisan yang bisa mereka pahami. Tulisan ini kelak yang berkembang huruf Hieroglif yang disebut juga hurufpaku atau pahatan suci. (Aco)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here