Wanita Aktivis Bugis Makassar yang Saya Kenal

0
801
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

DI Ulang tahun ke 45 paguyuban kemasyarakatan pembinan sosial dan  budaya Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan/KKSS yang didirikan 12 November 1976 saya mengingat pernah  berinteraksi dengan sejumlah Wanita Aktivis Sulawesi Selatan.

Wanita Aktivis ini adalah mereka sebagai tokoh pergerakan di organisasi politik dan kemasyarakatan yang juga memiliki  obsesi dan wawasan pemikiran dalam kehidupan sosial bermasyakat berbangsa dan bernegara.

Saya sebut sejumlah nama yang pernah beriteraksi di KKSS selama 15 tahun dari era kepemimpinan Andi Oddek  satu priode, Beddu Amang tiga periode dan Muhammad Taha satu periode.

Mulai dari yang saya kenal sejak di Makassar di komunitas Dewan Kesenian Makassar tahun 1970 an.

- Advertisement -

Mereka itu adalah Marwah Daud/pakar komunikasi dan eks anggota DPR RI,  Ulla Nuchrawaty Usman/eks sekjen KKSS,  Institut Lembang Sembilan dan Pengerak/pelestari kesenian/ pertunjukan tradisional Sendra Tari Balet Ramayana Amphi Theater open stage yang telan berlangsung selama 43 tahun di Puriwisata Yogyakarta.

Dengan dedikasi itu mendapat penghargaan Muri pertama di dunia. Serta pendidikan sekolah uggulan di Makassar, Ulfah Hermanto/eks  anggota DPR RI.

Berlanjut di kepengurusan  KKSS era kepemimpinan Andi Oddek tahun 1984 hingga Beddu Amang dari tahun 1990 hungga tahun 2000.

Di Jakarta kemudian hadir Andi Tenrisau Sepada/seniwati pencipta tari,  Mubha Kahar Muang/eks anggota DPR RI dan penulis artikel esai tentang kehidupan sosial budaya dan pemerintahan di beberapa negara sahabat,
Musdah Mulia/guru besar, aktivis internasional pemerhati  kesetaraan gender dan penegakan hak asasi manusia, penulis buku Ensiklopedia Muslimah Reformis,
Wasimah Arland, penerjun wanita pertama dari Sulsel dan Ilham Noer Putri/ Wakil Ketua Umum yang membidangi
Pemberdayaan Perempuan.

Periode berikutnya dalam kepemimpinan Muhammad Taha aktif dalam kepengurusan dan kegiatan organisasi antara lain Jumrana Salikki dan Wahidah Laomo yang saat ini masing-masing sebagai Wakil Ketua Umum penggerak kegiatan organisasi.

Andi Nurhiyari/Ketua Umum IWSS yang baru terpilih, Mutia Hafid/ Ketua Komisi I DPR RI, Lily Sarulapa/Anggota DPD RI.

Kemudian hadir Andi Waty 0ddek, generasi penerus titisan pendiri KKSS.

Di luar itu tentu banyak SDM wanita bergenetis keturunan Bugis Makassar ( Mandar dan Toraja ) yang
unggul seperti Syamsiah Ahmad, Nafsiah Mboi, Erna Witular/eks menteri, A. Yuli Paris Kadir/anggota DPR RI serta kader profesional di perguruan tinggi di Makassar dan seluruh wilayah KKSS di dalam dan luar negeri.

Apa yang Perlu Dilakukan

PERTANYAAN itu untuk menjawab bagaimana memberdayakan potensi dari para wanita aktivis itu.

Selain dari literatur dan publikasi yang dapat dibaca publik,  diperlukan juga adanya dialog yang berkesinambungan untuk menampilkan gagasan pemikiran para wanita srikandi pilihan itu.

Misalnya dengan bentuk forum webinar dan sarasehan di momentum seperti HUT KKSS bulan November, Pengorbanan 40.000 jiwa di bulan Desember, Hari Kartini di bulan April, HUT Kemerdekaan 17 Agustus dan seterusnya.

Sebagai ilustrasi bahwa jauh sebelum Kemerdekaan, sudah hadir seorang Datu/ Raja Wanita Pertama ke 4 di  Kerajaan Soppeng di abad ke 13.

Datu Soppeng menerapkan sistem demokrasi pembagian kekuasaan, eksekutif diberikan kepada putera sulungnya Lawadeng sebagai Arung Bila dan kekuasaan legislatif diberikan kepada putera bungsunya Lamakkanenga sebagai raja Soppeng ke 5.

Tahun 1666-1669 sudah tampil di arena peperangan,  1 Fatimah Dg Takonto Karaeng Campagaya usia 17 tahun putri Sultan Hasanuddin ikut berperang melawan VOC Belanda ( Perang Makassar ).

Besse Langelo raja Sinjai selama 2 tahun (1817/ 1819 ) berperang melawan Belanda.

Kemudian I Tenri Awaru Besse Kajuara raja ke 28 Bone  berperang selama satu tahun/ 1859 dengan taktik perang bergerilya yang merepotkan Belanda.

Dikenal juga Opu Daeng Risaju dari Luwu, Marradia Ibu Depu dari Mandar dan Pancai Tana Bunga Walie dari Enrekang, mereka  berperang habis habisan sampai titik darah terakhir mengusir penjajah untuk Kemerdekaan.

Lalu apa kemudian pengabdian yang diposisikan untuk para wanita pilihan/ unggulan tanah Bugis Makassar itu dari berbagai bidang potensinya dalam kepemimpinan bangsa saat ini.

Apakah dalam posisi pasif menunggu atau bangkit merebut peluang dengan perjuangan diplomasi politik ataupun dengan kompetensi profesionalnya

Hanya dua hal itu pilihannya.

Beranda Inspirasi Ciliwung 13 November 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here