Uang Jajan 25 Perak (Bagian Satu)

0
387
- Advertisement -

PINISI.co.id- Sekkang adalah salah satu desa di Kecamatan Mario Riwawo Kabupaten Soppeng. Berdekatan dengan Sungai Mario yang merupakan salah satu hulu Sungai Walenae. Dulunya desa ini terpencil dan tidak dikenal, namun seorang raja anonim diberikan gelar sebagai Arung Sekkang (Raja Sekkang) membuat desa ini mulai banyak dikenal orang. Di desa itulah, pada tahun 1964 lahir seorang anak lelaki dari orang tua sederhana yang bekerja sebagai petani.

Anak lelaki itu terus bertumbuh di rumah kebun dalam damai dengan segala keterbatasan ekonomi orang tuanya. Memasuki tahun 1970-an, bersama kedua orang tuanya ia berpindah ke daerah Pabbolong yang jaraknya sekitar 4 km dari desa kelahirannya.

Setahun berikutnya 1971, anak lelaki tersebut bersama empat saudara dan sepupunya didaftarkan masuk sekolah di SD Negeri 135 Salebbo. Setiap hari mereka bersama-sama menyusuri jalan tanah liat di kebun menuju sekolah. Tidak jarang kalau musim hujan mereka tidak pakai alas kaki ke sekolah karena jalan terlalu becek dan berair. Seiring berjalannya waktu keempat saudara sepupu itu ternyata tidak sanggup melanjutkan sekolah karena terkendala masalah ekonomi.

Namun satu diantatanya, yaitu anak lelaki tersebut bersikeras melanjutkan sekolahnya dengan segala keterbatasan. Semangatnya bersekolah mengalahkan kemiskinan orang tuanya. Ia tidak akan nenyerah oleh keadaan. Dalam serba kekurangan ia terus memupuk semangatnya dengan modal usaha, ikhtiar, doa dan tawaqal.

Walau sendiri, ia setiap hari bangun pagi buta mempersiapkan diri berangkat ke sekolah tanpa sarapan melewati jalan gado-gado (campur batu, tanah liat, becek, lumpur). Baginya realitas hidup itu adalah irama alam yang melagukan simponi kedamaian yang menghibur semangat dan cita-citanya. Suatu waktu dibekali uang jajan 25 perak, tetapi lupa membelanjakannya karena kebiasaan tidak jajan.

- Advertisement -

Ketika ibunya mencuci pakain sekolahnya masih melihat uang 25 perak itu. Ibunya lalu nanya kenapa tidak belanja uang jajannya nak? Ia menjawab lupa dan tidak sadar kalau ada uang dikantongnya, karena kebiasaan tidak pernah diberi uang jajan. Jangankan uang jajan, membeli sepatu saja pakai ke sekolah sudah sangat beruntung. (RIM : Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here