Tragedi Tinombala Menyisakan Kenangan yang Mendalam

0
4097
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

TIDAK begitu saja bisa membangkitkan ingatan dan menceritakan musibah jatuhnya pesawat kecil di pegunungan Tinombala Sulteng lebih 40 tahun silam.

Pesawat kecil jenis twin otter memuat beberapa penumpang dari bandara Mutiara Palu menuju Tolitoli yang biasanya ditempuh kurang dari satu jam.

Di tengah penerbangan pesawat naas itu tak terkendali jatuh menabrak di hutan pepohonan pegunungan belantara Tinombala.

Ada yang meninggal di tempat, ada yang tetap dalam cabin pesawat menunggu mukjizat pertolongan.

- Advertisement -

Ada juga yang selamat berjalan menembus belantara hutan untuk mencari pertolongan.

Entah bagaimana ceritanya saya di Jakarta bisa ikut dalam tim produksi pembuatan film Operasi Tinombala tahun 1977 Bisa jadi karena saya punya banyak keluarga di Sulteng khususnya di Tolitoli dan Palu.

Ada hubungan baik dengan produser dan sutradaranya, Syarifuddin asal Kalimantan yang banyak kenal orang Bugis, entalah.

Hal ini seperti rahasia sama dengan misteri jatuhnya pesawat itu.

Keterlibatan saya di film tersebut mengenal salah satu korban yang menjadi pemeran dirinya, kalau tidak salah namanya Bu Ros.

Dengan film itu, saya ikut ke Tolitoli mengambil gambar bagaimana kesibukan Pemda dalam merespon berita itu.

Beberapa hari di Palu, meliput pemantauan di bandara Mutiara dan rumah sakit bagi korban yang terselamatkan.

Di Palu menginap di hotel Buana milik orang Bugis. Dari situ saya berkenalan dengan Dek Yuliana dan Ismawaty,
putri wartawan korban meninggal bersama berkeliling ke pantai Talise, ke Donggala menyeberang sungai yang tak berair, dan belum ada jembatannya.

Ongka Malino

Menempuh ke lokasi itu sehari semalam dengan jalan tanah berlumpur. Berhenti semalam di rumah penduduk yang apa adanya.

Sampai di pelataran lembah gunung Tinombala untuk merekam otensitas alam dan laku korban yang selamat sampai di areal lembah lalu dibawa ke Palu.

Gunung Burangrang Cimahi

LOKASI itu punya kemiripan dengan alam pegunungan Tinombala dan merupakan barak latihan militer untuk pasukan khusus, dekat dengan danau yang hawanya dingin, minyak gorengpun membeku.

Sebulan di lokasi membangun set runtuhan pesawat, interior cokpit pilot, cabin dan kursi penumpang. Di situlah direkam adegan para korban seperti apa yang disaksikan di film ini.

Saya jadi asisten kameraman kedua yang setiap shooting dari barak ke lokasi 3 kilometer seraya memanggul kamera Panavision layar lebar pertama di Indonesia. Beratnya sekitar 10 kg dengan kameraman Mr Lee dari Hongkong.

Apa yang perlu dimaknai dari film ini?

Lahirnya sebuah film tidak karena hanya punya uang, yang lebih utama karena memiliki kesadaran profesional untuk melahirkan karya film yang berkualitas, bukan seadanya, asal jadi.

Memanfaatkan peluang dengan tanggung moral berkarya untuk kebanggaan anak bangsa.

Legolego Ciliwunģ 29 Maret 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here