Terkait Gelar Dr HC Syafruddin, Muchlis Patahna: Islam Damai Harus Dimulai Dari Indonesia

0
198
Ketua Umum KKSS Muchlis Patahna (tiga kiri) berpose bersama Dr.HC H.Syafruddin (empat kanan) dalam penganugerahan gelar doktor di Bandung kemarin.

PINISI.co.id- Dewan Kehormatan BPP KKSS Komjen (Purn) H Syafruddin, Kamis kemarin (15/10/2020) mendapat gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) bidang Ilmu Politik Hukum Hubungan Internasional Islam dari UIN Sunan Gunung Djati, Bandung,

Dalam penganugerahan gelar doktor kehormatan itu, Syafruddin membacakan orasi ilmiahnya bertajuk “Transformasi Paradigma Islam dalam Hubungan Internasional, menuju Tatanan Masyarakat Dunia yang Damai” di Gedung Anwar Musaddad UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Ketua Umum BPP KKSS Muchlis Pathana yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan selamat kepada mantan Wakapolri itu. “Apa yang dikatakan Pak Syaf dalam orasi ilmiahnya, menunjukkan tatanan dunia harus dibangun berlandaskan masyarakat yang damai,” kata Muchlis,

Ke depan, bagi Muchlis sendiri, tatanan masyarakat Islam yang damai  harus dimulai dari Asia Tenggara mengingat masyarakat di kawasan ini relatif damai khususnya Indonesia. Sebaliknya di Timur Tengah tidak bisa  diharapkan karena konflik yang berkepanjangan. “Indonesia sudah memberikan contoh bagaimana peradaban Islam dibangun dalam kedamaian. Karena itu, tokoh-tokoh Islam Indonesia harus tampil ke depan, apalagi Universitas Islam Indonesia yang tengah dibangun akan dijadikan pusat studi perdamaian,” tutur Muchlis.     

Sementara itu Rektor UI Sunan Gunung Djati Bandung Prof Dr H Mahmud Msi yang bertindak sebagai ketua promotor, menyebutkan, Syafruddin telah berdedikasi bagi bangsa dan negara. Berbagai jabatan yang pernah diembannya selalu berhubungan dengan pembangunan bangsa Indonesia. Dimulai dari kiprahnya di kepolisian, sebagai menteri kabinet kerja Presiden Joko Widodo, dan menjalankan organisaisi kemasyarakatan. Termasuk penyelesaian konflik di beberapa kawasan di Indonesia, beliau terjun langsung bersama H Jusuf Kalla dalam penyelesaian kasus Poso, Ambon, dan Aceh.

“Dari sisi pemikiran dan gagasan. Syafruddin memiliki kesinambungan dengan visi, misi, dan tagline UIN Sunan Gunung Djati Bandung yakni Wahyu Memandu Ilmu, yang mengambil jalur moderat dalam mengambil paradigma pengetahuan,” sebut Mahmud.

Adapun dari segi keagamaan dan beragama, Mahmud katakan, gagasan Syafruddin mengembangkan moderasi beragama. Bukan sekadar moderasi berislam, melainkan moderasi beragama, sehingga semua agama sama-sama mengembangkan pemahaman moderat dalam sikap keagamaannya.

Seperti diketahui kiprah Syafruddin diamanahi sebagai Wakil Ketua Umum dan sekaligus Ketua Harian Dewan Masjid Indonesia, sehingga moto beliau memakmurkan masjid dan dimakmurkan masjid. Masjid bagi UIN Sunan Gunung Djati Bandung bukan hanya sebagai tempat ibadah, ritual, tapi sebagai pusat gerakan ekonomi, keilmuan dan peradaban.

Kiprah diplomasi di dunia internasional. Komjen Syafruddin memiliki andil besar dalam proses perdamaian dan penyelesaian konflik di banyak kawasan negara-negara muslim,” kata Mahmud.

Selain itu, di organisasi internasional Islam, dia juga memiliki peran dan kiprah besar sehingga ia diamanahi oleh Liga Dunia Islam untuk memimpin pembangunan Museum Internasional Sejarah Nabi Muhammad SAW dan peradaban Islam. Hal ini pun sejalan dengan visi besar untuk berkontribusi dalam kajian sejarah dan peradaban Islam dunia. (Lip,Sol/Beritasatu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here