Suka Duka Jadi Relawan Masa Pandemi. Ikuti Pengalaman Warga KKSS

0
1845
SuZu, sukarelawan dari Satgas Tugas Covid Sulawesi Selatan tengah menyemprotkan cairan disinfektan ke sebuah rumah warga di Makassar untuk memutus wabah Covid-19.

PINISI.co.id- Wabah virus korona yang membekap semua lini kehidupan secara bersamaan mengakibatkan banyak warga masyarakat yang terdampak langsung, entah jadi korban PHK, mendadak jatuh miskin, hingga kehilangan pendapatan.

Beruntung orang Indonesia memiliki modal sosial yang diwujudkan dalam sikap sukarelawan untuk membantu sesama yang sedang dirundung musibah.

Di lingkungan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) tidak sedikit warga dan pengurusnya menjadi sukarelawan. Kalau tidak jadi penghubung, mengurus donasi, memasok logistik, hingga sebagai pelayan sosial masyarakat untuk berbela rasa.

Andi Megawati misalnya menjadi pegiat sosial sejak remaja. Di KKSS,  wanita yang biasa dianggil Andi Mega ini kerap menjadi relawan sejak dulu. Ia senang berbagi dan karena itu hobi pada kegiatan sosial di KKSS dan di organisasi lainnya.

Pada 3 dan 6 Mei, Anggota Tanggap Bencana KKSS ini menyuruk ke kampung-kampung kumuh di Kalibaru, Cilincing, Tanjung Priuk – semua di Jakarta Utara —  di mana simpul-simpul warga KKSS diberi bantuan sosial. Paket sembako sebanyak 50 paket dari Kementerian Sosial ia salurkan ke warga  Bugis Makassar;  mulai buruh pengupas kerang, pemilah ikan teri, pemulung, buruh pelabuhan, hingga janda dan kaum duafa lainnya.

“Banyak warga KKSS di Jakarta Utara yang hidupnya sulit. Akibat pandemi, ada yang kena PHK, kehilangan nafkah harian. Ada warga yang numpang di tanah kosong, itu semua kita berikan sembako,” katanya miris.

Andi Mega merasa terenyuh bercampur senang apabila bingkisan itu sudah sampai di tangan yang berhak. “Meski kecil tapi sudah bisa menyambung hidup bagi si penerima,” ucapnya kepada PINISI.co.id.

Tak kurang sigap, SuZu menjadi sukarelawan di Satuan Satgas Covid-19 di Makassar sejak Maret, tak lama setelah vrus korona mewabah di Indonesia.  SuZu, yang bernama asli Sufiani Zulkifli ini, sejak mahasiswa sudah kadung menjadi sukarelawan. Di Palu, saat bencana likuifaksi dan tsunami menerjang Sulawesi Tangah pada 2018 lalu, gadis manis ini jadi utusan BPP KKSS selama sebulan menjadi sukarelawan. Siang malam SuZu meladeni warga yang tinggal di pengungsian.

Kini sebagai relawan Covid-19, SuZu bertugas membuat bilik sterilisasi di rumah sakit,  dan pasar umum, pengadaan cuci tangan di setiap pasar dan terminal dan tempat-tempat umum lainnya, memberikan madu kepada tenaga medis di semua rumah sakit rujukan Covid  di Makassar. 

“Kami juga melakukan penyemprotan disinfektan ke rumah warga. Adapun Jumat Berbagi, kita membagikan nasi dos ke masyarakat yang terkena Covid 19, atau mengedukasi kemasyarakat terkait cara cuci tangan yang baik dan selalu memakai masker,” jelas SuZu.

Saat bulan puasa ini, aktifis perempuan NU ini membagikan menu buka puasa ke warga rentan seperti pengojek daring, pemulung.  “Yang dibagi sembako beras, minyak goreng, mie instan, gula pasir ke warga yang kurang mampu  yang tidak dapat bantuan dari pemerintah,” katanya menambahkan.

Meski SuZu di posko mulai masuk pukul 7 pagi dan baru pukul 12 malam pulang ke rumah, namun Kabid Pemberdayaan Perempuan KNPI Sulsel itu merasa bahagia lantaran sudah dapat berbagi tenaga.  “Saya jadi relawan karena panggilan kemanusiaan, dan ikhlas tanpa gaji,” ungkapnya terus terang.

Hal sama dilakoni Egy Massadiah. Mantan  Humas  KKSS periode Beddu Amang ini, adalah staf ahli Kepala Satgas Covid-19 Letjen Doni Monardo. Selama masa pandemi, Egy tak pernah menginjak rumahnya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. “Saya siap siaga selam 24 jam untuk melakukan tugas kemanusiaan,” kata Egy.

Sudah hampir dua bulan Egy ngendon di Graha BNPB di Jalan Pramuka, Jakarta Timur. Hal ini kata Egy, demi optimalisasi kerja Gugus Tugas yang masa kerjanya mungkin diperpanjang berhubung wabah belum berakhir. Di tengah kesibukannya, aktor teater dan mantan jurnalis ini masih sempat menuangkan buah pikirannya lewat tulisan yang disebar ke berbagai media, termasuk PINISI.co.id.

Relawan Hidroponik

Lain lagi kisah Sufiany Nasrullah. Menjadi sukarelawan sudah dilakoni sejak ia duduk di bangku kuliah di Jakarta. Perempuan yang biasa disapa Uphy ini, sekarang terjebak di kampungnya di Pinrang. Apa pasal? Sewaktu ia mudik pada Januari, kala itu belum ada penularan pandemi Covid-19 di Indonesia. Celakanya, saat hendak balik lagi ke Jakarta, tempatnya bekerja sebagai wirausahawan sosial, Uphy tak dibolehkan pulang karena pembatasan sosial berskala besar diberlakukan di Makassar dan Jakarta.

Terkurung di kampung berminggu-minggu, naluri relawannya membuncah. Kebetulan ia membawa bibit sayuran dari Surabaya. Tanpa pikir panjang, ia memodali untuk membuat pertanian hidroponik yang dipelajari secara otodidak. Dengan bekal pipa paralon sebagai penghubung tanaman dan media air sebagai sumber makanan tumbuhan, Uphy berbudidaya tanaman.

Uphy menanam segala macam sayuran hijau seperti kangkung, selada, sawi dengan masa panen kurang sebulan. “Sayuran ini saya bagi ke tetangga yang terdampak pandemi,” kata Uphy yang pernah menjadi sukarelawan KKSS sewaktu bencana gempa bumi dan banjir melanda Sumbawa, Banten, Makassar, Jakarta  dan Palu.  

Ahli trauma healing bidang kebencanaan ini, juga mengajar sejumlah pemuda pegangguran dan ibu rumah tangga di kampung untuk bertani secara hidroponik.”Biayanya murah dan cuma butuh lahan sempit,” ucap Uphy yang merasa hepi lantaran sudah bisa berbagi di masa sulit ini. [Lip]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here