Sepasang Roti Buaya dan Aneka Buah di Mantenan Betawi

0
97

Kolom Fiam Mustamin

LEBIH Seperempat abad saya sudah bermukim di Condet dari tahun 1992, tepatnya di Kampung Kramat, Jalan Ciliwung Ujung berdekatan dengan bantaran sungai Ciliwung.

Di kawasan itu bermakam ulama Al Hawi dan keturunannya dan dari negara Timur Tengah dan para datuk dari asal etnis Bugis Makassar.

Disebut etnis Bugis Makassar berdasarkan lontarak dengan ucapan bahasa yang yang berbeda tapi satu budaya/adat istiadat yang akan diuraikan dari tulisan itu.

Dato itu penyebutan di Betawi, Datuk dari tanah Bugis itu penamaan penghormatan kepada orang yang memiliki kearifan dan pengetahuan agama.

Leluhur orang Bugis Makassar dikenal memiliki warisan genetis kepanritaan/kecerdasan dan kewaranian/keberanian.

Mereka-mereka datuk itu berada di tanah Betawi sekitar tahun 1600 melakukan perjuangan perlawanan terhadap kolonial asing khususnya Belanda. Di sana disusun strategi peperangan.

Tersebut Dato Tonggara yang bermakam di kampung Makassar, Dato Merra, Giong dan Ibrahim di Batu Ampar Condet dan nama lain Pangeran Astawani turunan Dato Tonggara, Dato ; Basa, Sa ban dan Gelong.

Jejak Akulturasi Betawi dan Bugis

RUJUKAN Apa yang dapat kita ikuti dari jejak hubungan akulturasi itu.

Sekurang kurangnya kita bisa lihat dari budaya perkawinan dan kuliner misalnya.

Adat perkawinan Betawi kita temukan calon mempelai lelaki datang untuk menikah dengan bawaan sejumlah perangkat berupa aneka kue/sepasang roti buaya dan buah2an. Ada iring-iringan rebana dan musik tanjidor.

Di perjamuan itu terhidangkan Buras/ burasa yang bisa dicampur bersama dengan lontong sayur dan hidangan kue kue Bugis dan buah buahan seperti salak, dukuh, rambutan, mangga, pepaya dan jamblang yang sudah langka.

Musik tanjidor ini juga ditampilkan di acara pesta kawinan etnis Makassar.

Adapun roti buaya maknanya simbolik.

Orang Bugis Makassar di pedesaan banyak yang berumah dekat sungai. Di sungai, air adalah sumber penghidupan yang sangat dihormati.

Sungai tidak boleh dikotori dengan membuang limbah termasuk buang air besar dan air kecil/kencing, dan ini harus dijaga.

Buaya itu yang hidupnya di sungai, bagian dari makhluk yang menjaga kelestarian air di sungai.

Mitos Bugis Makassar mengenal ada buaya lahir kembaran dengan manusia yang mesti diperlakukan dengan memberi makan secara berkala dan sebagainya.

Selama seper empat abad bermukim di dekat bantaran sungai, saya suka berolah raga pagi seputar bantaran sungai.

Saya menikmati kabut dipermukaan air sungai dengan pepohonan dikiri kanan bantarannya.

Terlintas dalam bayangan, andaikan ada getek yang dimodifikasi sebagai cafe terapung yang digerakkan dengan motor dapat ditarik ke sepanjang sungai itu.

Kita berwisata sepanjang aliran sungai sembari mencicipi makanan dan kue khas Betawi dan di cafe itu, kita membicarakan peradaban Betawi yang perlu dipertahankan, jangan sampai tergerus oleh peradaban modern kota.

Di atas getek itu bisa ditampilkan musik Tanjdor, Orkes Tugu dan lagu-lagu khas Betawi yang dilantunkan oleh Benyamin Sueb dan Lilis Suryani.

Seperti mustahil rasanya ada suasana seperti itu di tengah perkotaan metropolis yang penuh dengan bangunan.

Saya menikmatinya itu, meskipun saya sering mengalami kebanjiran luapan air kali Ciluwung yang membawa air lumpur menggenangi tempat tinggal sampai ke plafon rumah.

Banjir berkala batas sepusar yang menghancurkan perabot terutama buku buku berharga yang dikumpulkan bertahap, tapi saya tetap bermukim di tempat itu dengan pemahaman bahwa air itu adalah berkah untuk kehidupan.

Bersyukur saya terundang oleh Sahabat Mansyur Amin, Sunda Kelapa Heritage untuk mengikuti forum Webinar Budaya yang bertopik Mengenal Jejak Kisah Keturunan Orang Bugis Makassar di Condet.

Forum ini namanya Ngopi Malam diprakarsai oleh Komunitas Padepokan Ciluwung/Ahmad Maulana (narasumber), Condet Heritage/ Dicky Arfansur (narasumber), Museum Kebaharian/ Aciel Noviansyah (moderator), Bugis Perantauan dan Mahasiswa IKAMI Sulsel.

Harapannya, forum itu menjadi Forum Budaya untuk Perekat Kebangsaan, Indonesia dari berbagai keberaganan suku bangsa dalam negara kesatuan Republik Indonesia.

Beranda Inspirasi Ciliwung 10 Oktober 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here