Seni Berbisnis JK dalam Pandangan Talcott Parsons

0
482
- Advertisement -

Kolom Hafid Abbas

Ada cerita menarik yang pernah diungkapkan oleh Jusuf Kalla (JK) ketika menerima kunjungan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz pada Maret 2017. Raja Salman degan bangga memperkenalkan diri sebagai penjaga dua masjid suci di Arab Saudi yakni Masjid Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) sejak 2010 dan mantan Wapres RI ke 10 dan ke 12, JK sempat menyampaikan ke Raja Salman kalau dirinya sebagai penjaga dan pemimpin 800 ribu masjid. Tentu saja Raja Salman kaget sehingga merekonfirmasi lagi ke penerjemahnya karena seperti tidak percaya, apakah 800 atau 800 ribu?

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sehingga tidak mengherankan jika saat ini terdapat hampir satu juta masjid di seluruh wilayah tanah air. Bahkan diperkirakan, di lingkungan kampus saja di semua perguruan tinggi terdapat ribuan masjid.

Sebagai bagian dari ikhtiar memakmurkan masjid, menjelang akhir tahun, pada 17 Desember 2022, bertempat di Kampus UNJ, Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) menyelenggarakan satu kajian ilmiah yang ditandai dengan Grand Launching buku yang berjudul “Seni Berbisnis Jusuf Kalla: Memadukan Spiritualitas, Profesionalitas dan Kearifan Lokal.” Pada peluncuran buku yang ditulis oleh Salim Rusli, dkk. ini menghadirkan dua orang pembahas yakni Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal) dan Didik J Rachbini (Rektor Universitas Paramadina).

Buku ini hadir untuk mengangkat kiat-kiat sukses JK membangun Kalla Group. Kesuksesan bisnis JK dan keluarganya ternyata bukan karena tuntutan duniawi semata. Di sana terdapat nilai-nilai spiritual yang menjadi pondasi sekaligus tujuan kesuksesan yang diwariskan dari sejak kepemimpinan ayahnya Haji Kalla. Dipadukan dengan nilai-nilai profesionalisme dan kebijaksanaan yang lahir dari kearifan budaya local Bugis-Makassar. Nilai-nilai itu dirawat oleh JK dalam menunaikan setiap lini kehidupan yang digelutinya.

- Advertisement -

Paradigma AGIL

Talcott Parsons adalah seorang professor Sosiologi pertama di Harvard University (1930) yang dinilai sebagai sosiolog paling berpengaruh di dunia pada abad ke-20. Teorinya banyak dirujuk untuk menilai maju mundurnya satu peradaban, satu bangsa, atau satu masyarakat. Teori ini dapat juga dipakai untuk menilai maju mundurnya satu perusahaan. Parsons berpandangan bahwa: “To survive or maintain equilibrium with respect to its environment, any system must to some degree adapt to that environment (adaptation), attain its goals (goal attainment), integrate its components (integration), and maintain its latent pattern (latency pattern maintenance), a sort of cultural template.” Pandangan ini dikenal dengan istilah Paradigma AGIL.

Dengan paradigma ini menarik dtelaah beragam rahasia dari segala kesuksesan Kalla Group dalam perjalanannya selama lebih tujuh dekade dan kesuksesan JK dalam mengemban tugas di pemerintahan, di politik, di dunia bisnis dan di masyarakat dan urusan kemanusiaan.

Pertama, kemampuan beradaptasi. JK sebagai seorang pebisnis yang memegang teguh prinsip-prinsip efisiensi, efektivitas, dan produktivitas terlihat begitu mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya dengan cepat.

Dalam setiap proses improvement yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas, JK selalu menggunakan tahapan-tahapan berikut: (1) Pahami permasalahan dengan jelas dan rinci, oleh semua pihak yang terlibat dengan upaya perbaikan itu. Bila perlu ubah terlebih dulu mindset semua pihak yang terlibat sehingga memiliki persepsi yang sama; (2) Cari dan kembangkan beberapa alternatif solusi yang mungkin dipilih; (3) Kumpulkan data dan informasi secara memadai yang terkait dengan semua alternatif yang ada; (4) Lakukan analisis secara kuantitatif dan evaluasi setiap alternatif berbasis pada data dan informasi yang ada, dengan menekankan keberpihakan kepada konsep “lebih murah, lebih cepat, dan lebih baik,” serta kemandirian, yaitu penggunaan sumber dana dan sumber daya yang dimiliki bangsa sendiri; (5) Pilih alternatif terbaik berdasarkan hasil analisis yang cermat dan akurat; (6) Laksanakan keputusan tersebut secara konsisten; dan (7) Catat data, informasi, dan proses pengambilan keputusan yang dijalankan. Kemudian monitor dan review pelaksanaan keputusan tersebut. Terakhir, jadikan data, informasi, dan hasil review tersebut sebagai lessons learned bagi keperluan pengambilan keputusan selanjutnya.

Dengan tahapan-tahapan itu, JK terlihat dapat beradaptasi dengan mudah pada beragam lini kehidupan yang digelutinya.

Dengan kemampuan itu, tidaklah mengherankan jika JK telah mendapat apresiasi dan penghargaan dari dunia akademik. Tercatat 14 gelar doktor kehormatan yang telah diterima JK termasuk dari luar negeri. Penghargaan gelar doktor kehormatan tersebut mencakup berbagai bidang keilmuan, baik dari bidang politik, ekonomi, birokrasi, pertahanan dan keamanan, kemanusiaan sampai dengan masalah perdamaian.

Kedua, adalah kemampuan menentukan tujuan yang hendak dicapai (goal attainment). Negeri ini patut mencatat dengan tinta emasnya atas segala terobosan yang telah dilakukan oleh JK pada era pemerintahannya baik sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian di era Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2000), Menko Kesra di era Presiden Megawati Soekarnoputri (2001-2004), Wakil Presiden RI ke-10 (2004-2009) berpasangan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Wakil Presiden RI ke-12 berpasangan dengan Presiden Joko Widodo (2014-2019).

Dengan peran itu, JK terlihat mewariskan beragam legacy, karya monumental bagi negeri ini, antara lain: telah berhasil mengkonversi penggunaan minyak tanah ke gas yang secara nyata telah dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, dan pada 2017 BI menyebutkan bahwa dengan konversi itu, negara telah berhemat Rp 197 triliun; telah mengharumkan nama bangsa dan mensejahterakan warga miskin NTT dengan mengantar terpilihnya Pulau Komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban warisan alam dunia dalam ajang pemilihan The New 7 World Wonders of Nature yang amat kompetitif di fora internasional (2013).

JK juga telah berhasil menghentikan dan menyelesaikan konflik bermotif agama di Ambon dan Poso melalui mekanisme kesepakatan Malino I dan Malino II, dan yang paling monumental adalah mewujudkan Aceh damai yang telah dilanda konflik selama tiga puluh tahun selama era Orde Baru dengan tidak kurang 50.000 korban jiwa baik dari unsur TNI, Polri, dan GAM maupun dari rakyat yang tidak berdosa atau rata-rata 4-5 orang meninggal sia-sia setiap hari selama 30 tahun. Jika dihitung sejak dicapainya kesepakatan damai 15 Agustus 2005 hingga hari ini 17 Desember 2022, kesepakatan itu telah menyelamatkan sekitar 31,025 jiwa, dan mencegah kerugian ekonomi yang tidak terbayangkan besarnya. Kosovo saja, dalam laporan NATO, meski jumlah penduduknya hanya 1,8 juta atau 1/3 dari jumlah penduduk Aceh tapi konfliknya membawa kerugian ekonomi negaranya sekitar 100 juta USD sehari atau sekitar Rp 1,5 trilun sehari.

JK dalam menunaikan pengabdiannya di pemerintahan atau di mana saja, ia terlihat dituntun oleh ikhtiar dan sasaran yang jelas yang hendak diwujudkan.

Ketiga, adalah kemampuan menyatukan beragam komponen yang berbeda secara harmonis (integration). Kemampuan mempersatukan itu terlihat diwarisi dari ayahnya Haji Kalla. Sebagai contoh, ketika mendirikan NV Hadji Kalla Trading Company pada tahun 1952 di Makassar, Haji Kalla terlihat amat inklusif. Bahkan Haji Kalla merekrut seorang Tionghoa yang pernah bekerja di perusahaan Belanda sebagai general manager, sementara para staf lain berasal dari putra putri setempat, Bone dan Makassar.

Dengan visi yang inklusif itu, dalam mengembangkan bisnis, JK berprinsip perusahaan haruslah bermanfaat bagi masyarakat. Semua jenis usaha harus dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Perusahaan harus menciptakan produk yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

Nilai-nilai inklusifitas ini diadopsi oleh JK dalam menunaikan semua pengabdiannya untuk memajukan perdamaian, kesejahteraan, dan kemanusiaan.

Keempat adalah kemampuan merawat dan mengamalkan nilai-nilai luhur yang diwarisi dari ayahnya yang dapat bersumber dari nilai-nilai kearifan lokal, nilai-nilai spiritual keagamaan, dan nilai-nilai modern dari peradaban maju atau nilai-nilai yang diperoleh dari pendidikan yang berkualitas.

K-A-L-L-A sendiri adalah satu akronim filosofis dari Kerja Adalah ibadah, Apresiasi pelanggan, Lebih cepat Lebih baik, dan Aktif bersama, adalah nilai-nilai universal yang telah dijadikan roh dalam menggeluti semua lini pengabdian JK.

Selain itu, terdapat pula sekian banyak prinsip-prinsip filosofis para saudagar Bugis-Makassar yang merupakan perpaduan nilai-nilai Islam dan budaya lokal yang tetap dipertahankan. Mulai dari tolong menolong satu sama lain (sipatuwo-sipatokkong), konsisten dan berani (istiqamah, warani na magetteng), bekerja keras dan telaten (matinulu na temangingi), kreatif dan pemurah (sugi nawanawa na sugi watakkale), hingga jujur dan amanah (malempu na riparennuangi).

Prinsip pertama adalah sipakatau-sipakalebbi-sipakainge (saling menghargai dan saling mengingatkan) sebagai subsub nilai “Apresiasi pada Pelanggan” dari Jalan Kalla. Sedangkan prinsip kedua adalah sipatuwo-sipatokkong sebagai sub nilai “Aktif Bersama” dari Jalan Kalla.

Terakhir, sebagai tambahan dari paradigma Parsons, dalam budaya Bugis dikenal tuturan: “tega sanre’ lopimmu kosikotu taro sengereng.” Secara bebas, kalimat itu diartikan: “di manapun perahumu berlabuh, di situlah anda mewariskan kebaikan yang akan dikenang abadi.”

Semoga buku ini akan memberi nilai tambah bagi pemajuan dan pencerdasan kehidupan bangsa kini dan ke depan.

Penulis, Ketua Senat UNJ dan Dewan Pakar KKSS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here