Sebagian Warga Makassar dan Gowa Tetap Cuek, di Tengah Menuju Puncak Wabah Covid-19

0
257
Petugas Satuan Tugas dari Pemkot Makassar mengawasi pengunjung sebuah mal di Makassar, Minggu 15 Juni. (Foto HUmas Pemkot Makassar).

PINISI.co.id- Melonjaknya kasus Covid-19 di Sulawesi Selatan oleh Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, dipandang sebagai kenaikan angka kurva seturut hasil analisa tim ahli dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). Pemprov Sulsel bersama tim ahli dari FKM dan sosialog kesehatan masyarakat sudah berkumpul untuk menganalisa trend kenaikan jumlah pasien positif Covid-19 di daerah ini.

Sampai Rabu (17/6/20) pagi, jumlah pasien positif Covid-19 di Sulawesi Selatan naik dari 2.936 pasien menjadi 3.110 pasien. Dilansir data web https://covid19.sulselprov.go.id (16/6/20) jumlah pasien positif naik dari 2.936 pasien menjadi 3.110 pasien. Artinya bertambah 174 pasien.

Distribusi per kabupaten/kota dari 174 pasien Covid-19 didapatkan dari Makassar 121 pasien, Gowa 21 pasien. Kedua daerah ini tertinggi di Sulsel.

- Advertisement -

Tingginya pasien Covid di Kota Makassar yang memang merupakan daerah episenter, antara lain, menurut dokter Nurhaini (bukan nama sebenarnya) lantaran sebagian warganya tidak disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan. “Sepanjang mereka atau keluarganya tidak terpapar Covid-19, mereka cuek saja,” ujar Nurhaini kepada PINISI.co.id, Rabu (17/6/20).

Kenalan Nurhaini, sepasang suami istri, kini tengah dirawat di Rumah Sakit Wahidin Makassar karena positif Covid-19. Sebelumnya bersama teman-temannya dari sebuah SMA terkenal di Makassar melakukan buka puasa bersama. “Pas Lebaran Idul Fitri mereka berkumpul lagi dengan keluarga besarnya,” kata Nurhaini yang menghitung ada 15 orang yang pernah berinteraksi dengan salah seorang pasien.

Sikap tak hirau dan melawan warga Makassar ini sempat heboh pada  pekan lalu tatkala di beberapa wilayah warga menolak tes cepat dan bahkan mengambil paksa jenazah Covid-19 di sejumlah rumah sakit di Kota Daeng ini.

Kabupaten Gowa, tetangga Makassar juga demikian. “Masyarakatnya kepala batu, seakan-akan tidak ada virus korona. Banyak yang tidak memakai masker serta mengabaikan protokol kesehatan,” ujar Siti Ida Nur.

Ida yang menjadi guru seni suara di sebuah SMP di Maros, terkadang merasa masygul melihat tingkah pola sejumlah warga di Sungguminasa, tempat tinggalnya. Sebagian masyarakat mengesampingkan protokol kesehatan. “Jalanan macet, toko-toko ramai dan orang berjejalan. Ada beberapa  warga yang memulai lagi arisan, padahal pandemi masih tinggi di Gowa. Bayangkan kalau arisan untuk menjaga jarak saja susahnya bukan main,” ucapnya.

Saat Ida menggunakan pete-pete (angkot), penumpang bersesakan tanpa jarak. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan dirinya yang menumpang angkot selagi ia mengajar dan mesti berpindah sampai empat kali angkutan kota sampai di tujuan. “Tidak sedikit penumpang yang masa bodoh, maskernya tidak dipakai,” kata Ida jengkel.

Puncak Wabah Akhir Juni

Sementara itu, Gubernur Nurdin Abdullah bersama tim kesehatan, sudah menganalisa bahwa prediksi puncak pandemi virus korona di Sulsel akan terjadi pada akhir Juni 2020, bahkan melewati. Tapi kalau Kota Makassar puncaknya minggu ketiga. Itu analisa dari tim kita,” ungkap Nurdin Abdullah, kepada media Jumat (12/06/20).

Dijelaskan, penyebab laju kurva begitu tinggi beberapa hari terakhir ini, karena rapid test dan PSC gencar dilakukan. Menurut Nurdin, langkah testing ini dianggap sangat efektif mendorong laju kurva Covid-19, dan dengan kecepatan penelusuran kontak saat ini diyakini dapat mengendalikan penularan. [ Lip ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here