Saya Tidak Memilik Diam, Saya Memilih Bersuara

0
115

Kolom Ruslan Ismail Mage

“Kalau mayoritas rakyat membisu, mahasiswa memilih jalan sunyi, aktivis hanya mampu menggerutu, orang terdidik menjadi bagian dari propaganda politik, pihak kampus tidak turun gunung, dan pers/media tengkurap, lalu kepada siapa nasib daerah dan bangsa ini bergantung”.
 
Kutipan di atas lahir dari kegelisahan saya sebagai akademisi dan inspirator lima tahun terakhir ini yang melihat perkembangan demokrasi bangsa cendrung semakin bergeser dari nilai-niai dasar demokrasi yang harus mengedepankan keadilan, kejujuran, dan kebenaran dalam pengelolaan bangsa besar bernama Indonesia.
 
Pernyataan Robert A. Dahll yang mengatakan, “Warga negara yang diam merupakan warga yang sempura bagi penguasa otoriter, dan menjadi bencana bagi demokrasi” selalu mengusik dan menghentak jiwaku.

Benar hidup adalah pilihan, diam membisu atau bersuara dengan data dan fakta. Sebagai akademisi ilmu politik, saya tidak memilih diam, tetapi memilih terus bersuara melalui tulisan dan buku-buku karyaku.
 
Terlebih saya meyakini kalau politik itu adalah “Pertarungan gagasan”. Jadi saya memilih memberi kontribusi gagasan atau pikiran kepada pembangunan demokrasi bangsa.

- Advertisement -

Tentu ada setuju dan tidak setuju gagasan atau pikiran saya, tetapi itulah demokrasi sesungguhnya. Pendapat boleh berbeda, sikap, status, cita-cita, bahasa, suku, dan agama sekali pun boleh berbeda, tetapi tetap satu Indonesia yang selamanya membutuhkan gagasan pencerahan.

Ketika hampir semua elemen bangsa memilih diam tengkurap, mata penaku akan selalu muncul kepermukaan. Karena kalau ada yang harus disalahkan dengan rusaknya suatu bangsa, yang paling pantas disalahkan adalah kaum terdidik yang hanya diam membisu melihat rakyat selalu dibodohi, dibohongi dan diadu domba.

Penulis : Akademisi Ilmu Politik, Founder Sipil Institute

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here