Pembangunan Ekonomi Berdimensi Ramah Alam

0
78

Kolom H.M. Amir Uskara

Pembangunan ekonomi yang mengeksploitasi sumberdaya alam (SDA) niscaya akan merusak habitat manusia. Ini terjadi karena kemampuan alam untuk memenuhi kepuasan hidup “homo econonicus” sangat terbatas. Pinjam istilah bapak spiritual dan tokoh nasional India, Mahatma Gandhi, alam mampu untuk memenuhi kebutuhan manusia T
tapi alam tidak mampu memenuhi keserakahan manusia.

Homo economicus — sebuah istilah untuk manusia sebagai aktor ekonomi yang diperkenalkan pertama kali oleh John Stuart Mill di abad ke-19 — salah satu ciri pokoknya, adalah “tidak pernah merasa puas”. Jika sebuah tujuan manusia tercapai, niscaya akan muncul tujuan lain yang lebih besar. Manusia tidak pernah merasa puas dalam mencapai tujuan hidupnya. Sampai “kepuasan” itu sendiri merenggut hidupnya (mati).

- Advertisement -

Kondisi ini akan berlangsung terus menerus dan korbannya adalah alam. Eksploitasi terhadap alam oleh manusia makin lama makin besar sehingga lingkungan hidup manusia pun rusak. Kondisi inilah yang dikritik Allah dalam Alquran, bahwa “manusia itu merasa sedang membangun, padahal sesungguhnya sedang merusak (QS 2: 11-12). Itulah salah karakter homo economicus yang destruktif terhadap alam. Merasa membangun, tapi sesungguhnya merusak.

Ramah Alam

Dalam memperingati hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2021, PBB secara khusus mengambil tema “Ecosystem Restoration for People, Nature, and Climate”. Tema tersebut sangat mengena ketika dewasa ini manusia tengah cemas menghadapi berbagai bencana alam akibat global warming.

Bencana global warming dalam lingkup terestrial “connecting to” bencana alam akibat kekacauan siklus hidrometeorologi di tingkat lokal. Banjir di Jakarta, longsor di Banyuwangi, dan banjir bandang di Flores Timur misalnya, merupakan dampak langsung dari kekacauan iklim akibat global warming. Dalam konteks inilah, kerisauan PBB terhadap kerusakan lingkungan makin serius.

Namun demikian, PBB masih tetap menaruh harapan — bahwa masih ada kesempatan manusia untuk merestorasi ekosistem. Untuk memperbaiki kerusakan alam dan iklim yang menjadi pemicu berbagai bencana di muka bumi.
“Dunia masih punya waktu untuk merestorasi kerusakan lingkungan yang terjadi selama ini. Namun aksi ini memerlukan komitmen politik, riset, dan pendanaan berkelanjutan,” kata Sekjen PBB Antonio Guterres melalui video dalam peringatan Hari Lingkungan Sedunia, Sabtu (5/2/2021).

Lebih jauh Guiterres mengatakan, “Kita harus terus menerus memperbaiki ekosistem yang menopang kehidupan kita sendiri. Kita telah kehilangan sumber makanan sehat, air bersih, dan sumber daya lain untuk bertahan hidup akibat kerusakan lingkungan tadi.”

Benar! Apa yang dikatakan Guiterres kini benar-benar telah muncul di depan mata kita. Hutan tropis Indonesia dan Brazil — yang luasnya lebih dari 75 persen hutan tropis dunia — kini rusak parah akibat industri kayu, kertas (pulp), dan penebangan liar. Padahal hutan tropis tersebut adalah paru-paru bumi.

Sementara itu, air laut sudah tercemar sampah beracun dan plastik. Dahsyatnya pencemaran plastik itu sudah mencapai laut dalam. Ikan-ikan yang hidup di lepas pantai dan laut dalam seperti ikan tuna, ikan lentera, viperfish, dan spesies eelpout, misalnya, kini tubuhnya sudah tercemar molekul plastik (berbagai macam jenis molekul polyethylene). Sedangkan udara sudah penuh polusi partikel beracun dan gas rumah kaca.

Bahkan gas rumah kaca — seperti karbon dioksida, natrium oksida, dan sulfur oksida yang umumnya berasal dari emisi kendaraan bermotor dan pabrik berbahan bakar hidrokarbon — kini telah menimbulkan masalah besar di atmosfir. Gas rumah kaca inilah biang keladi yang merusak atmosfir bumi, sehingga memicu global warming atau kenaikan suhu bumi.

Kondisi pencemaran lingkungan seperti gambaran di atas itulah yang membuat “bumi” — pinjam istilah Isaac Asimov — “marah”. Tulis Isaac Asimov dan Frederik Pohl dalam bukunya yang sangat terkenal “Our Angry Earth” — bumi marah kepada manusia yang telah menyakitinya. Ya, manusia telah menyakiti bumi dengan cara mengeksploitasi kekayaannya dengan serakah dan semena-mena. Akibatnya bumi pun marah kepada manusia. Banjir bandang, longsor, dan badai adalah bentuk kemarahan bumi terhadap manusia serakah yang tidak pernah puas itu.

Lalu, bagaimana meredam kemarahan bumi itu? Hiduplah dan bekerjasamalah dengan alam. Kembangkan ekonomi ramah alam. Ekonomi ramah alam adalah ekonomi yang bersahabat dengan alam dan saling menguntungkan. Manusia dan alam bisa hidup secara simbiose mutualistis. Simbiose mutualistis antara manusia dan alam tersebut hanya bisa dilakukan jika manusia mau menekan greedy (keserakahan) dan keegoisannya. Dalam hal ini, manusia hendaknya menyadari eksistensinya sebagai bagian dari alam. Bukan penguasa dan penakluk alam.

Kembali kita ingat mutiara kata dari Mahatma Gandi tadi. Alam mampu mencukupi kebutuhan manusia. Tapi tidak untuk keserakahan manusis. Kebutuhan manusia tersebut tentu saja harus dilihat dari perspektif kesederhanaan — bukan kemewahan.

Penulis Ketua Fraksi PPP DPR RI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here