Nikmatnya Berpuasa di Bulan Suci Ramadhan — Nyamengna Pappeneddingnge

0
530
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

MEMBAYANGKAN bulan suci Ramadhan saja sudah memberikan kesenangan.

Apa saja kesenangan itu, antaranya kita akan menemukan kegembiraan bersama dengan tradisi di kampung adanya pawai/ kirab obor dari bambu.

Anak-anak, remaja dan orang tua berkeliling kampung dengan shalawatan dan bacaan lain mengungkapkan suka citanya. Ada juga yang membawa rebana.

Saya menikmati suasana ini di permukiman dekat bantaran kali Ciliwung yang setiap musim penghujan berlangganan dengan banjir yang menggenangi rumah.

- Advertisement -

Kesenangan lain, adanya suara beduk sahur dari remaja yang berkeliling gang membangunkan untuk sahur.

Lalu susana buka bersama di mushallah dengan nasi uduk, lontong sayur, aneka gorengan takjil dan teh hangat manis.
Bayangkan betapa nikmatnya saat menunggu waktu berbuka puasa dengan doa yang dijabah.

Jangan membayangkan menahan kehausan dan kelaparan akibat berpuasa, pikirkan kenikmatan saat berbuka yang tidak ditemukan di bulan lain.

Kesyukuran

NIKMAT kesyukuran puasa Ramadhan tahun ini, kita dapat shalat tarwih berjamaah. Lebih dari semua itu, kita yang ada diberi karunia usia dan kesehatan dapat dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan.

Hamba pilihan dari sekian banyak yang telah berpulang akibat terpapar pandemi Covid 19.

Puasa yang Menyenangkan

SEPERTI apakah puasa yang menyenangkan?

Puasa/shiyam/shaum ialah menahan/ mengekang nafs keburukan, lahiriah haus dahaga dan lapar menuju perbuatan kebaikan (taqwaahaan). Haus dahaga itu pasti dialami bagi yang menjalani puasa.

Untuk bagaimana bisa tetap melakukan aktivitas ibadah lain dalam keadaan berpuasa. Bukan hanya berdiam/berbaring sejak berbuka hingga sahur lagi.

Saya mendapatkan tayangan yang membuka rahasia adab berpuasa yang perlu dipahami tentang asupan yang dianjurkan. Disebutkan perlunya pemahaman dalam adab makan dan minum dalam berpuasa.

Yang disampaikan oleh salah seorang ustadz dapat dicerna oleh tingkatan pemahaman tassau/ marifat
tentang keberadaan dan kebutuhan metafisik dalam diri manusia dari unsur Tubuh/hati/watakkale, Nyawa dan Ruh/ rahasia.

Dengan mereka yang memahami dan menjalankan syariatnya tidak mengalami hambatan pisik dengan haus dahaga untuk tetap menjalankan ibadah dan aktiitas rutinitas lainnya.

Ilmu itu dapat dipelajari dan dipraktikkan atas bimbingan gurunya. Tidak memadai bila hanya mengetahui dari bacaannya saja, tidak ada bimbibingan dari
penuntun yang bisa berakibat Nabettu syarafe/ tak terkendali pemahamannya.

Yang tak terkendali dari berperilaku di luar kewajaran umum di masyarakat.

Legolego Ciliwung 2 April 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here