Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI Harga Mati

0
965
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

NKRI itu buku referensi, teks book pertama seusia 77 tahun Kemerdekaan 17 Agustus 1945-2022.

Mengapa baru lahir?

Mengapa tidak menjadi obyek studi penelitian di Perguruan Tinggi yang bisa menjadi tesis atau disertasi yang terukur.
Menjadi panduan dalam ketatanegaraan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Sekian lama hanya menjadi narasi dan retorika politik untuk menyatakan kesetiaan kita dalam membela dan mempertahankan Kemerdekaan sebagai bangsa yang berdaulat, NKRI Harga Mati yang harus dibela dan dipertahankan.

- Advertisement -

Menjawab itu, lahirlah buku itu yang ditulis oleh Prof Dr Ir Muhamnad Jafar Hafsah, IPM dengan konsepsi teoritis dan penjabaran implementasinya yang begitu komprehensif,
Oktober 2021.

Buku setebal 446 halaman ini, dilengkapi dengan 127 pustaka dan 16 pustaka rujukan asing.

Berisi Xl Bab tentang  1. Definisi pembentukan dan tujuan bernegara, 2. Bentuk negara dari Yunani kuno, zaman pertengahan, zaman moderen dan 10 corak  pemerintahan dari monarki hingga plutokrasi, 3. Lahirnya NKRI  dari masa kerajaan, masa penjajahan (Portugis, Belanda, Jepang), 4.Wilayah geografis dan sumberdaya alam, 5. Penduduk dan sumberdaya manusia, 6. Konstitusi dan Undang-Undang Dasar 1945, 7. Pemerintahan dan lembaga negara, 8. Flora dan fauna, 9. Sumber daya alam, 10. Sosial budaya, kebhinnekaan dan kebudayaan, 11. Partai politik.

Diperkaya dengan testimoni sambutan tiga tokoh bangsa : Bambang Soesatyo S.E., M.B.A, Ketua MPR RI sebagai penasehat yang menginisiasi penerbitan buku itu.

Prof. Dr. Edie Toet Hendrartno, S.H., M.Si.,FCBArb. Rektor Univesitas Pancasila dan Dr. Ma’ruf Cahyono, S.H., M.H. Sekjen MPR RI dan pengarah buku ini.

Ketiga tokoh tersebut melihat penting buku ini terbaca oleh aktivis, Anggota Dewan Perwakikan Rakyat dan pemimpin/pejabat  publik.

Tabir Rahasia Dapur

MENGHARUKAN dan membanggakan menerima undangan yang dicantumkan namanya untuk menghadiri launching buku
mahakarya NKRI Harga Mati dari penulisnya yang kami sapa dengan  Daeng Aji Jafa.

Saya sadar bahwa acara di gedung rakyat yang mulia itu, pastilah undangannya dihadiri oleh para petinggi yang terseleksi.

Sementara melihat diri saya ini bukanlah siapa-siapa, yang hanya seorang rakyat biasa.

Menimbang hal itu bahwa ini adalah undangan kehormatan dari seorang kakak, saya hadir lebih awal dengan mengenakan jas tanpa dasi sebagai bentuk penghormatan di acara itu.

Saya temui Daeng Aji di ruang delegasi yang sedang melakukan re cheking /gladi resik dari detail acara hingga kadar volume suara.

Begitu perfek dan terkontrol serta terencana yang saya ketahui habitat Daeng Aji ini dan saya adopsi dalam perilaku apa yang saya lakukan selama ini.

Pengalaman berada di gedung Anggota Dewan Terhormat ini pertana kalinya di tahun 1980 an. Saya hadir bersama Pengurus Besar PARFI/Artis film Ratno Timoer, Wahyu Sihombing, Sopan Sophiaan, Ikranegara, Him Damsyik dan Christina Hakim beraudiensi dengan Komisi DPR RI yang membidangi Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyampaikan aspirasi, bahwa film adalah produk budaya yang mencerminkan Kultural Edukatif sebagai hiburan tontonan.

Ketika itu saya selaku Kepala Humas PB PARFI.

Di kediamanya Daeng Aji di Jatipadang Poncol, Jakarta, saya sering kali berkunjung untuk mendapatkan suasana kampung
di halaman yang asri dengan aneka  pepohonan dan rumah panggung kayu.

Di kolong rumah itu rutin menjadi pertemuan keluarga di bulan puasa, lebaran, pengajian, syukuran ulang tahun dan lain-lain. Tentu saja dengan berikut menu masakan khas dari kampung Soppeng /nasu-nasu ogi.

Dari rumah itu pula saya mengumpulkan sejumlah buku-buku Daeng Aji untuk pustaka bacaan beberapa teman di daerah dan di Jakarta.

Buku-buku referensinya tentang Pertanian dan Pangan, selain Puisi dan kata-kata mutiara.

Buku refrensinya yang utama yang menjadi rujukan antaranya  1. Politik Untuk Kesejahteraan Rakyat, 2011. 2. Mewujudkan Indonesia Berdaulat Pangan, 2011. 3. Pancasila Ideologi, Berbangsa dan Bernegara, 2014.

Dalam persiapan buku Bhinneka Tuggal Ika Dalam Keberagaman di  tahun 2022 ini.

Suatu waktu Daeng Aji mengajak saya ke ruang kerja kontemplasinya,  memperlihatkan pustakanya dan buku catatan hariannya tentang rencana kerja  tahunan yang di break down/dijabarkan per bulan dan pertanggal dengan metriknya. Tanpa diucapkan Daeng Aji sesungguhnya telah membuka rahasia yang kemungkinan benar, terbatas yang mengetahuinya.

Termasuk tentang buku yang akan ditulisnya sudah ada kerangka dasarnya.

Semua tertib terencana, dan karena itu tak mengherankan bila Daeng Aji dalam waktu yang bersamaan dapat  melakukan aktivitas secara berkesinambungan di tengah kesibukan di partai, ICMI, dosen, olahraga, perjalanan dalam dan luar negeri serta menulis.

Bagaimana Lahir Karya Besar

SESUATU tidak begitu saja lahir tampa proses.

Segala sesuatunya diawali dengan niat cita cita– doing thing right and right thing / langkah besar untuk mencapai tujuan yang baik.

Setiap orang menjalani masing-masing takdir kehidupannya dan terpilih pula orang yang mendapat amanah yang berkemampuan memikul dan menjalaninya.

Itulah pemahaman saya untuk menjelaskan bahwa sekian puluh tahun dan sekian banyak orang, mengapa buku NKRI Harga Mati baru sekarang lahirnya.

Buku NKRI Harga Mati hendaknya menjadi pemahaman masyarakat yang dibicarakan di daerah-daerah.

Dirgahayu 77 Tahun Kemerdekaan Bangsa 17 Agustus 1945- 2022.

Legolego Ciliwung,25 Agustus 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here