Najwa Shihab “Iron Lady” Indonesia

0
1157

Kolom Ruslan Ismail Mage

Integritas sejati adalah melakukan hal yang benar, mengetahui bahwa tidak ada yang akan tahu apakah Anda melakukannya atau tidak, (Oprah Winfrey). Dalam acara Golden Globes 2018, Oprah Winfrey memberikan pidato yang sangat inspiratif. Perempuan hebat dunia ini memberikan pesan yang begitu kuat untuk semua perempuan di dunia bisa lebih berani “bersuara” menyuarakan kebenaran.

Menyuarakan kebenaran tentu jauh lebih susah dibanding melakukan kebenaran itu sendiri. Mengapa demikian? Karena melakukan kebenaran itu hanya melibatkan diri sendiri. Hanya komitmen jiwa dan perjanjian batin sendiri untuk berlaku benar. Sementara menyuarakan kebenaran melibatkan banyak hal, mulai dari sistem, cara, hubungan antar manusia, lembaga, pemerintahan, kepemimpinan, bahkan sampai negara.

- Advertisement -

Karena itu ketika berani menyatakan kebenaran terlebih menelanjangi ketidakbenaran, berarti berani menanggung resiko.

Kadang yang kita dapati bukannya penerimaan melainkan penolakan, bukannya kesadaran dan pertobatan melainkan kebencian dan permusuhan. Itulah sebabnya terlalu sedikit orang yang mau menyuarakan kebenaran.

Satu diantara sangat sedikit itu adalah Srikandi Pers Indonesia Najwa Shihab. Sejak menekuni dunia jurnalistik khususnya newsroom, perjuangannya menyuarakan keadilan dan kebenaran tidak pernah berhenti. Baginya menjadi jurnalis perempuan tidak membuatnya gentar menyampaikan berita yang seharusnya diketahui publik. Ia selalu memilih berdiri di tengah-tengah jika sedang terjadi perang informasi antar kubu yang sudah terpolarisasi. Sikap pemberaninya, dan ucapannya yang lugas, padat, dan menusuk dalam setiap mewawancarai narasumber, menjadikannya jurnalis perempuan yang banyak dicintai dan dirindukan penggemarnya.

Keberanian Najwa Shihab memburu berita dan membongkar ketidakbenaran, mengingatkanku kepada Perdana Menteri Inggris priode 1975 hingga 1990 Margaret Thatcher. Karena ketegasan pribadi dan pandangan politiknya, ia dijuluki “Iron Lady” atau Wanita Bertangan Besi. Cintanya kepada negerinya teramat kuat. Ia patriot dan selalu berjuang untuk kepentingan Inggris. Thatcher dikenal sebagai sosok tangguh dan blak-blakan menerapkan reformasi di Inggris.

Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan atau menyamakan Najwa Shihab dengan Margaret Thatcher. Satu mantan Perdana Menteri negara semaju Inggris, dan satunya Srikandi Pers di negara yang masih sibuk memperdebatkan dasar negaranya. Tetapi paling tidak ada sinergisitas krakter dan prinsipnya. Keduanya perempuan tangguh, mencintai negaranya, memiliki sikap tegas dalam memegang prinsip, dikenal pemberani, blak-blakan menyatakan dan menelanjangi kebenaran, dikagumi dan dicintai banyak orang.

Bahkan Najwa Shihab secara alami, sadar atau tidak sadar mulai berjalan menuju perempuan berpengaruh. Hal ini ditandai dengan mulai terpilihnya menjadi perempuan paling dikagumi di Indonesia. Sebagaimana survei online yang dilakukan oleh YouGov, sebuah lembaga survei independen dari Inggris, yang menobatkan Najwa Shihab sebagai perempuan paling dikagumi di Indonesia tahun 2020. Mengalahkan seluruh perempuan yang ada di Indonesia, baik dari politisi perempuan, pemimpin perempuan, atau pengusaha perempuan. Sebagai perempuan yang dikagumi, Najwa meminta masyarakat terutama perempuan berani mengambil pendirian dalam banyak persoalan, diimbangi dengan terus melihat, mendengar, dan membaca. Cari tahu sebanyak-sebanyaknya yang memang perlu, lalu lantangkan suaramu, tulisnya.

Setelah menjadi perempuan paling dikagumi, berarti selangkah lagi menjadi perempuan berpengaruh. Dari snilah menjadi menarik kalau dihubungkan dengan pendapat John C. Maxwell penulis buku The 21 Irrefutable Laws of Leadership, yang mengatakan “kepemimpinan itu adalah pengaruh. Tidak kebih dan tidak kurang”. Dari semua itu, saya menyebutnya Najwa Shihab telah berproses secara alami menjadi Margaret Thathcer-nya Indonesia. Sama-sama “Wanita Bertangan Besi”. Margaret Thatcher bertangan besi dalam menjalankan kepemimpinannya, sementara Najwa Shihab bertangan besi dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan dalam pemberitaannya.

Penulis : Akademisi, Inspirator dan Penggerak, Founder Sipil Institute Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here