Mustari Siara, Sang Penakluk New York, Dulu Pengembala di Sinjai

0
1430
- Advertisement -

Seturut mimpi pejuang kulit hitam AS, Martin Luther King lewat pidatonya… I a Have Dream, Mustari punya mimpi serupa. Hidup setara tanpa diskriminasi.

PINISI.co.id- Alih-alih orang dusun, orang Amerika sekalipun selalu berangan-angan ingin hidup di New York — kota semua kiblat: dari mode, seni, film, musik, dan semua kultur pop dan postmodern. Orang bermimpi jadi bagian kehidupan jetset di melting pot dunia ini.

Adalah Mustari Siara tak pernah membayangkan hidup di kota berjuluk Big Apple tersebut. Kalau dulu semasa kanak ia kerap menggembala kerbau berlepotan lumpur di Desa Korasa, Sinjai, kini di ibukota dunia termahal ini, — Mustari acap berpenampilan parlente guna mengusung artis dari Indonesia untuk diperkenalkan di New York.

Latar berlakang artis bukan kebetulan bagi pria kelahiran Sinjai, 20 September 1960 ini. Mustari pernah bermain dalam sejumlah film bersama Ayu Ashari, Marissa Haq, Ray Sahetapi, Alan Nuari, Joice Erna, Ray Sahetapy — artis-artis lawas yang masih dikenang. Bahkan ia menjadi pengurus Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) dekade 80-an. Di Parfi Mustari sering ngerumpi bersama geng Makassar lainnya seperti Fiam Mustamin yang jadi Humas Parfi, Muhammad Akis dan Jimmy Chaedar.

Tak heran jika artis film Indonesia ke New York, orang pertama yang dituju dan dicari adalah Mustari. Di sana, para pesohor diperkenalkan dengan orang-orang penting, selain mentas pelbagai acara. Meski Mustari aktif di Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) New York sebagai Kahumas, dan di Indonesian House of New York (INHY) dia tak jemu menggagas ide-ide kreatifnya.

- Advertisement -

Lewat Parfi, Mustari menginisasi pengumpulan donasi dalam Peranan Artis Di Tengah Pandemi Covid-19. Dari sini berhasil dihimpun dana milyaran rupiah. Sutradara beken dan peraih Citra Riri Riza, yang juga asal Makassar, ia fasilitasi untuk pemutaran film nasional di New York. Yang isitimewa, Mustari berada di belakang suksesnya Indonesian Street Festival yang dhelat setiap tahun dan mampu menggaet 6.000 turis. “Sejumlah atraksi seni budaya digelar dan sangat diminati para wisatawan akhirnya even ini masuk agenda tahunan kota New York,” ujar Mustari.

Semula, acara yang mendapat apresiasi KJRI ini digelar dalam ruangan, namun Mustari menyarankan agar dipanggungkan di sisian jalan dan ternyata berhasil menyedot pengunjung meski digelar hanya sehari. “Kami pernah tampilan Ayu Azhari, Glenn Fredly Deviano Latuihamallo, Ray Sahetapy, lewat konser dan pertunjukan seni budaya termasuk klunier, musik, tarian hingga film,” ucap Mustari.

Selebihnya bersama komunitas diaspora Indonesia lainnya dipromosikan aneka produk Indonesia khususnya kuliner nusantara. Gelaran pertama pada Agustus 2021 sekaitan HUT Kemerdekaan RI 1945. “Kegiatan yang sama akan digelar tahun ini di Green Point Terminal Market Manhattan New York,” imbuh Mustari.

Pun kepada sutradara kondang Hollywood asal Indonesia Livi Zheng, Mustari menyusupkan idenya untuk tidak saja membuat film bergenre laga, tetapi juga berkonten budaya. Dan Zeng membuktikan lewat film Bali: Beats of Paradise; film dokumenter yang bercerita tentang kebudayaan gamelan dan musik Bali di kancah internasional.

Sampai kini Mustari berteman baik dengan selebritas Amerika, sebutlah Judith Hill, penyanyi pemenang Grammy Awards yang memulai kariernya sebagai penyanyi latar Michael Jackson, Stevie Wonder hingga Rod Stewart. Ia juga berkenalan dengan aktris Brooke Shield yang tenar dalam The Blue Lagoon, dan Endess Love, serta Leonardo DiCaprio, aktor praih Oscar. “Saya juga bintang film lho dari Indonesia,” kata Mustari percaya diri kepada pesohor Hollywood, selagi ia perkenalkan diri. “Saya ingin menjembatani potensi film di Indonesia dengan pasar di Amerika. Misalnya bila ada peluang di dunia film Hollywood,” jelasnya.

Mappamula, Mappatepu

Lika-liku hidup memperkaya perjalanan hidup Mustari. Sejak kecil ia pindah sekolah ke Palu, Makassar, Jakarta. Setamat SMA, ia kuliah di YAI Akuntansi Jakarta, selepasnya menjadi pekerja proyek hingga ke Balikpapan. Kembali ke Jakarta, ia aktif sebagai pemain film. Ia lantas dikuliahkan di IKJ (Institut Kesenian Jakarta).

Titik balik hidupnya dimulai sejak tahun 1999. Krisis ekonomi dan politik membuat hidupnya tak keruan. Film lesu. Ia tiba-tiba teringat, pada seorang keluarganya yang bekerja di New York. Pucuk dicinta ulam tiba, ia terbang selama 24 jam untuk sampai di kota impian. Saat pertama di New York, Mustari bekerja serabutan. Ia jadi loper koran terkenal Wall Street Journal. “Jam tiga dini hari saat salju membeku, saya sudah harus mengantar koran. Siang hari saya bekerja lagi di restoran,” kenangnya.

Inilah yang mengasah naluri Mustari menjadi chef kuliner Vietnam hingga kini, di luar kegiatannya sebagai pekerja kreatif, EO (event organizer) termasuk di KKSS serta di KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) sebagai mitra. Dia memanfaatkan keahliannya di bidang seni, khususnya film. Bersama teman-teman diaspora asal Indonesia, Mustari mempromosikan kekayaan seni budaya Indonesia di New York. Praktis, sejumlah even yang digelar para diaspora acap melibatkan Mustari. Resep Mustari untuk bertahan di New York adalah adaptasi. Karena itu,

Mustari membangun jaringan, mengembangkan kolaborasi kepada siapa saja, lintas bangsa dan sosial, seraya merawat komunikasi terus menerus. Dengan mengaplikasikan nilai-nilai mappamula; ia mengambil inisiatif sebagai pemula. Setelah itu, mappatepu – yang merampungkan sebuah tugas, atau menjalankan amanat dengan tanggung jawab. Itulah modalnya. “Saya juga mengambil prinsip mali siparappe –– saling menguatkan,” katanya berkiat.

Setelah menaklukkan New York, ia berjodoh pada 2004, dengan wanita Padang yang mendampinginya dengan karunia dua anak, laki dan perempuan. Satu sarjana IT dan lainnya bisnis. Lengkap sudah pasangan ini hidup bahagia.

Seraya merajut mimpi barunya, Mustari memandang kerlap kerlip lampu di Manhattan, laksana menyaksikan kunang-kunang, mirip cerita Seribu Kunang-kunang di Manhattan, karangan Umar Kayam. Dia terkenang kampungnya, sebuah dusun udik, di Sinjai, nun jauh ribuan kilometer yang terakhir dikunjungi pada 2004.

Seturut mimpi pejuang kulit hitam AS, Martin Luther King yang abadi lewat pidatonya… I a Have Dream di Lincoln Memorial Washington, Mustari punya mimpi serupa. Mimpi untuk hidup setara tanpa diskriminasi.

[ Alif we Onggang ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here