Memilih Jalan Sunyi, Orang Besar Roel Sanre Diam-Diam Pergi

0
163

Oleh Daeng Hamzah Milion

MEMILIH jalan sunyi, orang besar Roel Sanre diam-diam pergi. Itulah kata-kata yang tiba-tiba menyelinap di benak saya. Dia orang baik. Orang besar. Namanya harum di mana-mana. Tidak sedikit sahabat yang mengaguminya. Mengacungkan dua jempol buatnya. Di kampung halamannya di Makassar. Di Jakarta, di Bandung dan di banyak tempat yang lain.

Saya tidak dapat menahan derai airmata saya. Walaupun saya tahan sekuat-kuatnya. Karena dia sahabat karib saya. Ketika mendapatkan berita, Andi Safrullah Karaeng Mattimung bin Andi Nontji Karaeng Sanre – yang akrab disapa Roel Sanre – telah berpulang ke rahmatullah. Di rumahnya, Jalan Cenderawasih III kota Makassar. Pukul 03.00 dinihari, Senin 26 Juli 2021.

“Sahabat kita Roel Sanre telah mendahului,” begitu berita yang saya terima. Tapi yang membuat jantung saya berdegup kencang, mengapa begitu cepat dia pergi? Batinku seperti langsung bercerita: Selama ini Roel seperti menjauh dari keramaian. Memilih jalan hidup yang sunyi dan tersembunyi. Di tengah kemewahan para sahabat seperjuangannya yang berkelimpahan harta. Berkesenangan aneka jabatan yang empuk. Tragis. Hal seperti itu tampaknya memang dipilih oleh seorang idealis sejati yang kukuh pendirian. Magetteng. Mate nikalukui.

Pada akhirnya, saya sampai pada kesimpulan, orang ini memang setia sampai akhir. Sebagai seorang seniman, dia seperti sampai pada puncak keyakinan tertingginya. Sehingga harus mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia. Layaknya seorang pertapa yang seluruh sisi kehidupannya telah dibalut selimut ketenangan batin. Kebesaran jiwa. Yang tak pernah silau matanya melihat kerlap-kerlip kemewahan yang sejatinya dapat dia raih. Setelah melalui jalan berliku yang panjang. Dalam sejarah perjuangan yang membuat begitu banyak kawan karibnya kini dapat menikmati hasil material yang berlimpah.

Sejauh ini, tak pernah terdengar dirinya sakit atau masuk perawatan rumah sakit. Bahkan di sebuah aplikasi media sosial awal Juli 2021, istrinya memposting foto Kak Roel sedang aktif jogging. Guna mempersiapkan diri mengikuti “ITB 101 Virtual Run” pada 4 Juli 2021. Dia tampak enerjik. Masih memperlihatkan angan-angan untuk melakukan banyak hal yang berguna. Bukan hanya untuk diri dan keluarganya. Tapi juga untuk masyarakat yang dia cintai. Terutama masyarakat Makassar.

Tapi satu hal yang membuat dia berbeda. Dia tidak pernah mau mendekatkan diri. Apalagi untuk minta pertolongan dari kawan-kawan seperjuangannya yang telah sukses di banyak tempat. Untuk sekadar merasakan nikmatnya hasil perjuangan. Ketika membeli sepetak tanah kaplingan tidak jauh dari pantai Galesong, Kabupaten Takalar, konon dia membelinya dari uang tabungan bertahun-tahun.

“Saya pakai uang tabungan dari beberapa tahun honor menulis, narasumber, juri lomba dan lain-lain. Bisa jadi warisan buat anak-anak. Bukan ji dari hasil korupsi…hehe,” ujarnya tersenyum. Untuk mengklarifikasi dari mana uangnya.
Kenapa tidak minta bantuan teman-temannya yang sudah banyak jadi orang sukses? Ada yang jadi menteri, duta besar, rektor perguruan tinggi, pengusaha kakap dan lain-lain. Dengan senyum khasnya, Roel menjawab, “Itulah kekurangan saya.”

Roel Sanre adalah seniman, wartawan, sastrawan, budayawan dan salah seorang tokoh kebanggaan masyarakat di Tanah Bugis. Dilahirkan di Makassar, Sulawesi Selatan, 5 Oktober 1954, dia merantau ke Bandung, Jawa Barat. Setelah lulus dari SMA Negeri 2 Makassar pada 1974. Di kota sejuk yang dikenal dengan sebutan “Paris van Java” itu, dia melanjutkan kuliah di Fakultas Desain dan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB).

Secara umum tidak ada yang berbeda dari seorang “anak seberang” – istilah bagi mahasiswa perantau dari Sulawesi Selatan – yang melanjutkan pendidikannya ke tanah Jawa. Tapi patut dicatat, tahun kedatangannya ke kampus ITB itu pada 1974 adalah tahun pergolakan mahasiswa yang begitu menggelora. Setelah terjadinya kerusuhan besar yang dikenal dengan peristiwa Malapetaka Limabelas Januari (Malari) 1974. Ketika begitu banyak bangunan yang terbakar akibat amuk massa. Mobil-mobil keluaran Jepang dijungkirbalikkan di jalan-jalan. Sebagai puncak dari kemarahan kaum demonstran. Yang berawal dari aksi protes mahasiswa. Khususnya di Jakarta, Bandung dan beberapa kota lainnya. Sehingga pemerintah membungkam gerakan mereka dengan aksi penangkapan terhadap sejumlah tokoh pergerakan mahasiswa.

Tak Membuatnya Takut

Aksi pembungkaman menggunakan kekuatan militer oleh pemerintahan Orba Soeharto sejatinya menakutkan banyak orang. Tapi tidak bagi seorang Roel Sanre. Pergerakan politik mahasiswa di kampus Ganesha itu justru merupakan titik awal baginya, untuk menunjukkan jati dirinya sebagai mahasiswa pergerakan. Untuk menunjukkan bukti pedulinya terhadap penderitaan rakyat. Di sanalah pula dia mulai banyak mengenal para tokoh pergerakan mahasiswa. Termasuk Rahman Tolleng. Seorang aktivis politik mahasiswa yang di era itu sangat moncer namanya. Yang juga berasal dari Sulawesi Selatan seperti dirinya.

Dari seorang mahasiswa yang awalnya dikenal pendiam, Roel mulai terlibat aktif dalam berbagai aksi parlemen jalanan yang menentang rezim Orde Baru. Menyampaikan orasi secara vokal dan kritis seputar aspirasi dari semangat Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera). Slogan perjuangan gerakan mahasiswa sebelumnya. Yaitu angkatan 66. Roel dan kawan-kawan tidak henti menyuarakan protes mahasiswa dengan suara lantang. Utamanya di lapangan basket ITB. Kampus yang perguruan tinggi pertama yang didirikan penguasa penjajah di Hindia Belanda sejak tanggal 3 Juli 1920. Sehingga namanya juga dikenal luas di kalangan mahasiswa. Sejajar dengan sejumlah aktivis lainnya. Seperti Irzaldi Mirwan, Mahin Inka, dan Yayak Kencrit. Sama juga seperti Nirwan Dewanto, M.Fadjroel Rachman, Arya Gunawan, Kurnia Effendi, Sujiwo Tejo, dll. Yang tergabung dalam Grup Apresiasi Sastra (GAS) ITB.

Puncak dari aksi-aksi pergerakan mahasiswa di era 1970-an adalah berlanjutnya aksi pembungkaman gerakan mahasiswa oleh pemerintahan Orba. Dengan diberlakukannya ketentuan Nasionalisasi Kehidupan Kampus / Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) pada 1978. Sebagai upaya lanjutan bagi pengekangan kegiatan politik mahasiswa. Tapi semua itu tidak menyurutkan semangat perjuangan Roel Sanre dan kawan-kawan. Bersama Kemal Taruk dan Rizal Ramli antara lain dia hadir dalam menggulirkan Gerakan Anti Kebodohan di kampus ITB Bandung.

Bahkan menjelang Pemilu 1977, bersama aktivis mahasiswa lintas kampus dia ikut memproklamirkan diri sebagai DPR Sementara (DPRS). Sebagai salah satu bentuk DPR jalanan. Mengkritisi kondisi parlemen kala itu. Yang dinyatakan guna mengisi kevakuman satu pilar kekuasaan berasas triaspolitika. Dengan suara lantang mereka melancarkan kritik pedas: DPR lama sudah (di)bubar(kan), DPR baru yang belum terbentuk. Para pentolan gerakan mahasiswa ITB kala itu antara lain adalah Roel sendiri, bersama Alhilal Hamdi, Hafids Zamawi, M Iqbal, Indro Tjahyono. Sedangkan dari UI (Universitas Indonesia ) ada almarhum Bram Zakir dan dari IPB ( Institut Pertanian Bogor ) ada almarhum Farid Faqih.

Meskipun tekanan penguasa semakin keras, namun Roel dan kawan-kawan dalam gerakan mahasiswa tidak ciut nanyalinya. Bahkan seperti mengulang hari bersejarah 15 Januari 1974 (Malari), gerakan mahasiswa kembali memperlihatkan puncak pembangkangannya pada 15 Januari 1978 (Malari) 78. Ketika Ketua Dewan Mahasiswa ITB, Heri Akhmadi (sekarang Dubes RI di Jepang), menyatakan sikap menolak pencalonan kembali Jenderal Soeharto sebagai Presiden. Akibatnya terjadi pendudukan kampus ITB oleh TNI Angkatan Darat. Lalu tokoh-tokoh mahasiswanya ditangkapi dan ditahan di Rutan Militer di Jl Jawa dan Penjara Sukamiskin. Roel Sanre sebagai Pemred Koran Kampus “Integritas” tak ketinggalan diangkut oleh aparat militer.

Seiring waktu, terutama saat jatuhnya orde baru yang dengan sengit ditentangnya, sebagaimana pernah diungkapkan oleh penulis tanah Bugis Rusman Madjulekka, Roel menepi dari hiruk pikuk panggung politik. Ia memilih pulang kampung. Di Makassar ia menghabiskan waktu dan menyibukkan diri sebagai seniman dan penyair. Pamornya sebagai aktivis tenggelam bersamaan dengan tumbangnya kekuasaan Soeharto yang dianggapnya jauh dari kata demokrasi.

Dengan disiplin keilmuan Seni Rupa ITB dan memiliki kapasitas jurnalistik, Roel akhirnya berlabuh sebagai pegiat kebudayaan yang intens. Dia kemudian bahkan sempat terhubung dengan pegiat budaya serumpun di ASEAN, khususnya Malaysia.

Tapi terlepas dari itu, Roel sebenarnya sedang menjalani suatu proses transformasi dengan gaya hidup yang tetap asketis. Layaknya seniman pada umumnya. Menepi keluar dari hiruk-pikuk duniawi. Meski demikian, dia dirasakan tetap sebagai sahabat yang selalu diakrabi oleh banyak tokoh. Terutama di tanah Bugis. Bagaimanapun, dalam dunia jurnalisme yang dulu melekat padanya, Roel tetap terhubung erat dengan para jurnalis kawakan dari Makassar. Seperti S. Sinansari ecip, Syahrir Makkuradde, Aidir Amin Daud, Hamid, Baso Amir, dan Abun Sanda. Beberapa nama yang lebih junior seperti Rusman Madjulekka, Andi Bachtiar Sirang, Andi Wanua Tangke dan lain-lain, adalah para jurnalis tanah Bugis yang menaruh hormat kepadanya.

Hidup sebagai seniman bersama seorang istri dan dua orang puteri di tanah kelahirannya, Butta Mangkasara, dia tetap eksis memandori Seniman Bugis Makassar. Dalam suatu badan yang disebut Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (dulu DKM). Dia adalah juga yang menginisiasi Lembaga Kebudayaan Sulawesi Selatan (LKSS) ITB. Sebagai wadah silaturahmi para mahasiswa dan pelajar asal Sulawesi Selatan yang menempuh pendidikan di Bandung.

Roel Sanre memiliki banyak angan-angan sebagai aktivis pergerakan. Tapi sebagai manusia tentu dia memiliki keterbatasan. Sepetak tanah kaplingan yang dia beli dengan uang tabungan sendiri, sedikit demi sedikit, di pinggir pantai Galesong, di wilayah perbatasan Gowa-Maros, sebenarnya ingin diperuntukkannya sebagai “markas” orang-orang merdeka. Untuk membicarakan apa saja dengan bebas. Yang akan dilengkapi dengan perpustakaan. Terbuka untuk umum. Sehingga setiap gagasan tidak boleh dibungkam.

Sayang, Allah Swt. memanggilnya begitu cepat! Roel Sanre telah meninggalkan kita semua. Untuk selama-lamanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here