Maluku Manise, Tanah Pusaka, Satu Nama dan Satu Gandong Kantong Semua Bersudara

0
234

Kolom Fiam Mustamin

DI MALAM Lebaran Senin 1 Syawal 1443 Hijriah, mendapatkan kiriman WA lagu yang syairnya dilantunkan oleh penyanyi wanita asal kelahiran Serang.

Dari ujung Halmaherah sampe ke Tenggara jauh, katong semua bersudara …

- Advertisement -

Beginilah salah satu cara ungkapan teman di grup itu untuk berbagi kesenangan.

Menikmati lagu itu bersama suasananya yang terbangun di panggung menampakkan bahwa gelar musik itu di sebuah gedung besar yang dihadiri oleh berbagai daerah dari negeri seribu pulau.

Sebagian pengunjung diundang ke panggung untuk nyanyi bersama.

Kenangan Bersama Senior Asal Maluku

DENGAN lagu itu saya mengenang lima sahabat senior yaitu Des Alwi, produser film dokumenter, Nico Pelamonia dan Buce Malawou, sutradara Film, Ray Sahetapi, aktor film kelahiran Donggala Sulteng, Freddy Latumahina, politikus senior Golkar dan Sudirman, tokoh masyarakat Maluku, Ketua Institut Lembang Sembilan Provinsi Maluku.

Di tahun 1980 an, Des Alwi produktif membuat film dokumenter tentang potensi sumber daya alam budaya dan wisata yang disertakan dalam Festival Flm Dokumenter Internasional.

Beliau digelari sebagai Duta Budaya dan Pariwisata saat itu.

Saya terlibat di salah satu pembuatan film dokumenter tentang pemakaman / Puya, orang Toraja.

Dengan Nico Pelamonia yang berperawakan atletis sering menemuinya di komunitas sineas lulusan Moscow Syumanjaya dan Ami Priyono.

Demikian halnya dengan Buce, anak muda dari almamater seminari Makassar, tidak menjadi pendeta ia lebih tertarik menjadi seniman, sutradara film. Kami bersahabat sering bertemu dan berdiskusi di Taman Ismail Marzuki.

Di salah satu karya filmnya ia menampilkan adegan Pala Gandong sebagai simbol kebersamaan dalam menyelesaikan segala masalah.

Kemudian dengan brader Fereddy Latumahina, yang diseniorkan oleh 11 tokoh masyarakat dari kawasan Indonesia Bagian Timur.

Menjadi penasehat bersama Theo Waimuri Papua, Harun Al Rasyid NTB, Anton Lesiangi NTT, Theo l. Sambuaga Sulut, Abd Kahar Dangka Sulteng, Muslimin Mt Sulsel, Syamsuddin Nane Sultra, Awang Faruk Kaltim dan dari Timtim, Bali dan Gorontalo.

Memandu terciptanya wadah Badan Koordinasi Sosial Budaya Pemuda Indotim / BAKORSUDA Intim untuk memperjuangkan adanya kesetaraan/ perimbangan pembangunan kawasan, Indonesia Barat (IB) dengan Indonesia Timur (IBT).

Kenangan Mengharukan

DOKTER Sudirman kami panggil Ka Sudi, beliau sahabat JK alumnus Unhas. Ka Sudi meninggal di Makassar sebelum Pilpres 2004.

Bertepatan saya sedang di Makassar, dan Pak Alwi Hamu Ketua Tim pemenangan Capres dan Cawapres SBY dan JK mendapat tugas Ke Batam untuk menemui Presiden Taiwan. Kemudian saya yang ditugaskan mengurus jenazah Kak Sudi sampai ke Ambon.

Saya hadir memandikan jenazah hingga ke pesawat. Dari bandara Pattimura, saya jalan kompas boat laut ke kota Ambon.

Di rumah saya menyampaikan duka cita dan ucapan terima kasih atas upaya perjuangan almarhum atas nama tim pemenangan SBY dan JK

Mengantar ke pemakaman peristirahatan abadi Ka Sudi di pinggir pantai kota Ambon manise itu.

Syair lagu itu pengikat batin …
katong semua bersudara, satu nusa dan satu bangsa jangan pernah terpisah.

Legolego Ciliwung 8 Mei 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here