Maknyus, Hidangan Coto Makassar di Connecticut, Amerika Serikat

0
291

PINISI.co.id– Di ujung dunia manapun warga Sulawesi Selatan tidak pernah melupakan kuliner kampungnya. Ini lantaran makanan adalah hal yang melekat dan merupakan bagian dari kehidupan sejak kecil.

Begitu pula buat diaspora yang tinggal di Amrika Serikat. Di kota Hartford, Connecticut misalnya, pada Sabtu malam, 11 September 2021, diaspora asal pulau Sulawesi mengadakan pertemuan pertama di kota Hartford, Connecticut, salah satu negara bagian di Amerika, bertetangga dengan New York dan Massachusets di rumah Rusdi Geno’, menghidangkan menu spesial coto makassar.

Pria asal Soppeng yang telah tinggal di Hartford sejak September 1991 setelah menikah putri pribumi Amerika, Melanie dan kini telah memiliki tiga putri blasteran Bugis-Amerika.

Pertemuan pertama ini melalui WAG oleh Debby Zakka-Pongoh, asal campuran Filipina, Bugis-Sinjai, dan Ambon-Portugis, yang juga sebagai Direktur Program Indonesian Association of Connecticut ( IAC), hadir bersama suaminya Hanny Pongoh, seorang akademisi dan pengusaha asal kota Yogyakarta, dan Sekretaris IAC.

Hadir pula Ibu Dedet Sjamsi Lili asal kota Makasar, Jeneponto-Manado bersama suaminya Budi Nasution yang telah tinggal sejak tahun 2005 di kawasan Milford, kota Hartford, dan Precillia Tendean-Sumigar, Bendahara IAC asal kota Manado, dan M. Saleh Mude bersama istri dan putrinya, Novi Andriani dan Elgiva Novsa Mude.

Acara malam itu terasa cukup berkesan karena para tamu menikmati menu ala Makassar, selain coto plus ketupat, sambal lengkap taucoknya, resep Ibu Debby; pallumara (nasu bale) bikinan Novi Andriani Saleh, dan mie titik dan mie goreng olahan Ibu Dedet.

Tetamu menyantap hidangan bersama keluarga Rusdi Geno di samping api unggun, dikelilingi pohon-pohonan yang rindang, dan udara dingin di awal musim Fall, sambil berbagi kisah awal kedatangan, dan suka-duka selama tinggal di kota Hartford. Mereka sailing bertukar cerita, termasuk Saleh dan keluarganya yang sedang studi di negeri Paman Sam.

Sebelum makan dan berpisah, mereka berbagi foto, dan bikin video, dan berharap suatu hari akan menggelar acara pementasan budaya, Indonesian Night atau Sulawesi Night. Terbersit juga keinginan mengundang rombongan Pemerintah Provinsi atau Rektor-rektor kampus terkemuka yang ada di Indonesia Timur untuk mengadakan perjalanan dinas dan tur, dengan membawakan serta rombongan kesenian daerah masing-masing, misalnya tim kesenian dari Sulawesi Selatan.

(SM/Aco)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here