KKSS Eropa Membawa Nama Harum Bangsa

0
1297

Catatan Asbar Atma

Perahu pinisi ketika sudah dikembangkan layarnya pasti akan terus berjalan menuju tujuan dan pantang untuk kembali walaupun ombak dan badai menerjang tinggi. Patut dipercaya bahwa dengan berpegang semangat perahu pinisi itulah perantau (diaspora) asal Sulawesi Selatan mampu menembus penjuru dunia di belahan manapun dan survive di manapun bumi yang dipijaknya. Tidak hanya karena semangatnya yang perlu diteladani akan tetapi juga kebersamaan dan kekeluargaannya di negeri rantau tetap terpelihara.

Itulah fakta yang terlihat, ketika beberapa waktu lalu di sela waktu liburan akhir tahun 2019, kami berkesempatan mengunjungi pengurus Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Eropa di Paris, Belanda dan Jerman. Geliatnya terlihat sejak dikukuhkan pada 2016 yang lalu di Paris.

Di bawah kepemimpinan Hj. Nena Doligez, KKSS Eropa terus berbenah diri dengan mengisi berbagai kegiatan sosial dan budaya, baik yang sifatnya rutinitas tahunan maupun silaturahim sesama pengurus. Meski letaknya jauh di negeri seberang dan jarak mereka yang berjauhan, bangunan silaturahim dan promosi budaya Sulawesi Selatan tetap dikedepankan.

Hampir setiap kegiatan yang dihelat selalu menampilkan budaya khas Sulawesi Selatan. Hal ini tampak beberapa waktu lalu ketika mengadakan acara pertemuan di Swiss. Kegiatan seperti ini akan menjadi pintu masuk yang secara tidak langsung mensyiarkan kebesaran potensi Sulawesi Selatan di mancanegara. Itu pulalah yang membuat minat beberapa generasi muda di Paris dan Belanda sangat antusias untuk belajar tari-tarian dan seni Sulawesi Selatan, mencakup Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja.  

Melihat potensi dan tingginya minat tersebut, para diaspora Sulsel itu berharap agat dapat menjadi mitra promosi budaya dari Pemerintah Provinsi Sulsel dan dukungan pengurus KKSS Pusat misalnya mengirimkan guru tari dan seni dari Sulsel yang dapat mengajarkan anak-anak muda dan generasi milineal untuk latihan tarian Sulsel.

Menurut Ibu Nena, tidak hanya kegiatan budaya, kegiatan sosial pun mereka galakkan seperti pada saat terjadi tsunami dan gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah, di mana KKSS Eropa pun mengumpulkan dana dan menyalurkannya ke Palu. 

Setelah dua hari keliling Paris, kami melanjutkan perjalanan ke negeri Kincir Angin, Belanda. Disambut Wakil Ketua KKSS Eropa yang berdomisili di Belanda, Ibu Herlina Zain, kami menyambangi beberapa tempat dan juga melakukan kujungan silaturahim dengan pengurus lainnya di Denhaag.

Menurut Herlina, warga KKSS Eropa memang banyak yang menetap di Belanda, walaupun tersebar di beberapa kota tetapi kerap berkumpul apabila ada kegiatan KKSS. Itulah bukti bahwa orang Sulsel suka guyub, dan berkumpul.

Bahkan pada bulan April 2020 mendatang KKSS Eropa merencanakan satu kegiatan silaturahmi di Belanda yang akan dihadiri oleh warga KKSS se Eropa. Acaranya sendiri dirancang sebaik mungkin dan tentu bakal menarik perhatian warga Belanda, karena akan dilangsungkan di arena outdoor. Kegiatan ini mestinya sangat cocok dimanfaatkan dan menjadi momentum promosi dari pemerintah kabupaten di Sulsel dan juga Pemprov Sulsel. Baik berupa pergeleran budaya, literasi, kuliner, pariwisata dan potensi ekonomi lainnya. Demikian harapan beberapa warga KKSS di Belanda. 

Paguyuban KKSS yang dikenal sebagai paguyuban paling besar dan lengkap struktur organisasinya di Indonesia, ternyata juga harum dan eksis hingga mancanegara seperti di Eropa, Amerika hingga Afrika Selatan. 

Penulis, adalah Wakil Sekjen BPP KKSS yang melaporkan dari Denhaag, Belanda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here