Kisah Putri Bungsu Terpapar Omicron di Melbourne

0
193

Catatan Ilham Bintang

Ini ujian di akhir tahun. Baru Minggu ( 2/1/22) pagi kami bisa menarik lepas lega. Setelah Suri Adlina, putri bungsu kami melaporkan kondisinya sudah pulih kembali melalui video call. Ia terpapar Covid19 Omicron di Melbourne, Australia sejak Minggu (26/12).

” Tapi Nona, masih butuh istirahat seminggu lagi, sampai betul- betul pulih, baru masuk kantor. Nona juga mau pastikan dengan tes PCR dulu,” ucap Nona, panggilan akrab Suri Adlina.

- Advertisement -

Minggu lalu Nona mengeluh sakit kepada ibunya. Keluar keringat dingin. Tenggerokan gatal, disertai batuk. Yang paling menonjol : kepalanya pusing. Ibunya minta dia istirahat. Banyak minum air putih hangat, dah konsumsi vitamin. “Mungkin kecapekan saja,” hibur ibunya. Tapi, di dalam hati, ibunya, atau kami, sebenarnya sudah was-was. Tapi, ah, jangan sampailah terpapar Covid19.

Saya mengecek data kasus Covid19 Melbourne di internet. Waduh. Datanya memang mencemaskan. Tiba-tiba kasusnya melonjak dua pekan terakhir. Bertengger di atas 2000, sehari kemudian 5000 kasus. Setelah itu, saya tidak berani lagi membukanya. Padahal, dua minggu sebelumnya Melbourne masih 1200 kasus perhari.

Kami aktif melongok data Covid19 di Australia, karena berencana akan ke sana menengok Nona, apabila Australia sudah buka border untuk pengunjung asing. Namun, sejak varian Omicron merebak di berbagai negara, Pemerintah Australia pun menunda pembukaan itu dari rencana semula bulan November.

Kami sudah dua tahun tidak ketemu Nona. Terakhir, akhir Desember 2019 sampai pertengahan Januari 2020 lalu. Selama studi di sana, kami rutin mengunjunginya, sedikitnya, enam bulan sekali.

Kenapa begitu sering? Harap maklum. Dia anak bungsu, satu-satunya perempuan. Ibunya, urang awak, orang Minang pula. Senin (27/12) kami trip ke Bandung membawa lima -cucu untuk bergabung dengan 3 cucu yang tinggal di sana. Maksudnya mau berlibur, tapi apa hendak dikata?

Kami ” tertawan” 24 jam, selama beberapa hari, menantikan perkembangan keadaan dari Si Bungsu. Dalam proses itu, ada selisih persepsi. Nona butuh tidur lama untuk meredam pusing dan lemas, sementara kami butuh informasi detik demi detik. Nona ketakutan jika ibunya menghubungi, dia masih terlelap tidur. Bagi Nona sering menghubungi dia itu manifestasi tingkat kecemasan kami. Dia tidah mau orang tuanya stress memikirkan dia. Sedangkan bagi kami, mana pula bisa tenang anak terpapar Covid19 di negeri orang.

Jalan tengahnya: kami terpaksalah memaksakan diri tampak tenang dan berhias senyum tiap kali berkomunikasi via video call. Begitulah.

Beginilah keterbatasan manusia. Tepatnya keterbatasan orang tua : bayangan buruk dia terpapar Covid terus menghantui. Tanpa bisa diusir dengan apapun. Bagaimana cara membantunya? Dia tinggal sendiri di apartemen. Kami memang banyak kenalan di sana. Ada juga saudara. Tetapi di masa pandemi mereka juga punya keterbatasan. Pasti membatasi mobilitas.

Hari Senin ( 27/ 12) Nona menjalani Swab PCR. Putusan itu diambilnya karena pusing kepala terus mendera. Batuknya juga. Ditambah badan lemas pula. Swab PCR nya di Kementerian Kesehatan Melbourne. Gratis. Tapi hasilnya baru dikirim Rabu: positif Covid19.

Suri Adlina lulus program S2 jurusan desain di Royal Melbourne Institute Tehnology ( RMIT) sejak Juli lalu 2020. Karena pandemi, wisuda ditunda bulan Desember tahun itu. Sementara menunggu wisuda, dia mulai bekerja sebagai design researcher di perusahaan Craig Walker, Melbourne. Mula-mula part timer. Sejak pertengahan 2021, baru diangkat sebagai karyawan tetap.
Sampai hari ini Nona belum diwisuda, namun sejak pertengahan tahun ini, ia juga mengajar sekali sepekan sebagai asisten dosen di RMIT.

Positif Omicron

Kementerian Kesehatan Melbourne memberi tahu virus Covid yang menulari Nona adalah varian Omicron. Ya, ampun. Panduan petugas, Nona diminta isolasi mandiri di rumah hingga tanggal 7 Januari. Petugas akan memantu terus keadaannya lewat email. Petugas mengirimi Panadol untuk meredakan sakit kepalanya. Itu saja obatnya.

Obat itu sudah dianjurkan ibunya dan dr Yassin, kakak Nona sejak pertama kali. Dr Yassin tidak menganjurkan minum macam-macam obat atau antibiotik. Kalau pusing, minum Panadol saja. Kalau batuk, minum obat pereda batuk saja. Sedangkan dari ibunya, Nona disarankan konsumsi vitamin, terapi air putih, banyak makan dan banyak istirahat. Selain itu, tentu saja harus rajin Salat. Ibunya meyakinkan, Salat itu akan menenangkan jiwa. Jiwa yang tenang, sudah separuh kesembuhan.

Saya sendiri bertugas memompa semangatnya. Saya beberkan data kongrit terkait Covid19. Meskipun virus menulari ratusan juta warga dunia, tetapi angka kesembuhannya tetap tinggi, 97-98 %. Data Covid19 di Australia pun seperti itu. Malah tingkat kesembuhannya tinggi. Yang penting, Nona tenang. Jangan panik. Padahal, saya dan ibunya sebenarnya yang panik. Hanya, tidak kelihatan, yah seperti sudah diceritakan di atas.

Covid Palsu

Beginilah anak muda zaman milenial.
Ditanya apa yang dirasakan selama terpapar Covid19 Omicron? Yang bikin pemerintah hampir seluruh dunia panik dan menggigil? Jawabnya : ” Ini kayak Covid 19 palsu. Tidak seperti di gambarkan banyak orang, gambaran Nona juga,” katanya.

Bercanda? ” Yang Nona rasakan begitu. Jauh lebih berat kalau terkena flu,” sambungnya lagi. Ini kronologis tiga hari Nona terpapar Omicron itu. Hari Minggu (26/12), pertama kali dia merasakan tenggerokan gatal disertai batuk. Hari kedua, merasakan pusing kepala, lemas dan keluar keringat dingin. Hari ketiga, batuk mulai berkurang, pusing kepala mulai ringan, meskipun lemas. Nona mengatasi itu dengan banyak tidur, makan banyak, minum air hangat, dan terus menkonsumsi vitamin C, D, E, seperti yang dianjurkan ibunya. Meski merasakan gejala ringan, namun apa yang Nona rasakan mungkin tidak spesifik sebagai efek Omicron. Sebab, ada juga kawannya yang terpapar Omicron alami sesak nafas. Nona sudah menerima dua kali vaksin. Tak dijelaskan Nona , apakah kawannya itu juga sudah mendapat vaksin lengkap.

Dari perkiraan sumbernya? Nona sudah mencoba tracyng dua minggu aktifitas sebelum terpapar Omicron. Semua kawan kerjanya yang sempat ketemu tatap muka, baik-baik saja. Dia sekali ke super market belanja mingguan. Tapi rasanya bukan di situ. Akhirnya mengerucut ke TaxiGrab. Supirnya memang memakai masker. Namun, sepanjang perjalanan dari kantor ke rumah, supir itu tak berhenti batuk. Mendengar jejak itu, ibunya menyesal.

Saya yang melarang dia naik trem karena memperhitungkan biasanya penumpangnya berdesakan. Saya suruh dia naik Grab saja. Tidak tahunya, justru di situlah Nona tertular,” ungkap ibunya, yang baru hari ini merasa plong.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here