Kepemimpinan Kesehatan (5): Kepemimpinan dalam Perspektif Nilai Budaya Bugis-Makassar

0
413

Kolom Zaenal Abidin

Banyak sekali nasihat, yang dikenal dengan “pappangaja” dan “paseng” budaya Bugis Makassar. Semakin banyak lagi setelah setelah masuknya agama Islam di wilayah Sulawesi Selatan. Karena itu tidak jarang kita mendengarkan orang tua-tua Bugis Makassar memberi nasihat yang bersumber dari ajaran Islam. Misalnya saja berkaitan dengan kesepemimpin dan kepemimpinan.  Hal yang sama juga untuk nasihat yang berkaitan dengan sehat dan kesehatan, seperti:

Narekko polei saie; atikeriwi nennia uraiwi alemu (atinya: ketika wabah merajalela; waspada, jaga diri dan obati dirimu).

Salah satu ayat Al-Qur’an yang sering dijadikan sumber dalam membicarakan tentang pemimpin dan kepemimpinan:

Sesungguhnya ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang pemimpin di muka bumi (khalifah fil ardh)dan dia melengkapi Adam dengan nama-nama seluruhnya (Al asma-a kullaha) kemudian menyampaikan kepada para malaikat dan berfirman sebutkanlah kepada-Ku nama-nama itu jika kamu yang benar, Malaikat menjawab Mahasuci Engkau, tidak ada yang kamiketahui selain yang telah Engkau ajarkan kepada kamiAllah berfirman, Hai Adam, beritahulah kepada mereka nama-nama itu” (Al-Baqarah: 30-32)

Karena itu, orang Bugis Makassar meyakini bahwa manusia itu terlahir sebagai pemimpin, “khalifah fil ardh sehingga ia memiliki tugas untuk menggali potensi kepemimpinan yang bertujuan memberikan pelayanan pengabdianyang semata-mata diniatkan hanya karena amanah Allah, yaitu dengan cara berperan kita sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin).

Sebagai makhluk yang sempurna, manusia diberi keunggulan dan dibekali akal dan ilmu pengetahuan untuk mengemban tugas besar menjaga kelestarian bumi. Rasulullah bersabda, ”Setiap orang adalah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya berkaitan dengan kepemimpinannya.

Dengan demikian, semestinya manusia tampil sebagai pemimpin yang membawa kesejahteraan bagi mereka yang dipimpinnya. Ia harus menjadikan intelektual sebagai alat dan akhlak sebagai tuannya. Sebab manusia yang tidak memiliki akhlak yang baik dapat berubah menjadi berperangai seperti binatang, yang sangat berbahaya dan bahkan lebih rendah dari binatang. Mereka akan menjadi makhluk pintar dan genius tapi bertindak amoral yang pada akhirnya menciptakan kerusakan di muka bumi.

Dalam kepemimpinan ia harus bertindak sebagai manusia yang memiliki intelektualitas dan akhlak, yang dalam masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar disebutnya sebagai orang yang memiliki ‘Siri’, sebagaimana dalam ungkapan, “Mannassana Sirikaji tojeng” (bahwa sesungguhnya harga diri seseorang ditentukan oleh kemampuannya menjunjung tinggi nilai Siri’-nya).

Ungkapan lain yang sering digunakan, “Siritaji nakitau” (hanya karena Siri kita disebut sebagai manusia). “Naiya tau dee Sirina de lainna olo koloe” (kalau manusia tidak memiliki Siri maka ia tidak ada bedanya dengan binatang). Atau, “Siriemitu nariaseng tau, narekko dei sirita taniani tau, rupa taumi asenna (hanya karena siri kira disebut manusia, jika tidak ada lagi siri buka manusia tapi hanya mirip manusia). Dan sebagainya.

Nasihat Kepada Calon Pemimpin

Sebelum La Baso memangku Kedatuan Soppeng, atas permintaannya, dia memperoleh beberapa nasihat dari si nenek, Cendekiawan Luwu. Di antara nasihat itu, La Baso dipesankan mengenai syarat-syarat orang yang akan diangkat untuk menduduki suatu jabatan, sesuatu tanggung jawab.

Karena si nenek adalah seorang cendekiawan, maka kalimat yang digunakan tidak dialamatkan kepada diri La Baso semata, yang akan menduduki jabatan Kedatuan Soppeng. Mungkin pada dirinya sudah terasa bahwa syarat-syarat yang akan dikatakan itu sebenarnya bukan saja bermanfaat bagi orang lain tetapi terlebih-lebih bagi dirinya sendiri.  Syarat-syarat itu ialah:

Orangnya harus punya kejujuran;

Orangnya harus berfungsi akalnya;

Orangnya harus punya keberanian;

Orangnya harus kaya.

Selanjutnya, si nenek pun menjelaskan maksud dari keempat pesanya di atas, berikut ini. Adapun tandanya kejujuran itu ada empat: (a) Jika orang berbuat salah kepadanya, dia lantas memberi maaf; (b) jika diserahi amanat, dia tidak berbuat khianat; (c) jika bukan bagiannya, dia tidak menserakahinya; dan (d) jika kebaikan hanya bagi dirinya itu bukan kebaikan, sebab  baginya kebaikan itu ialah yang dinikmati bersama.

Adapun tandanya orang yang punya pikiran  ada empat pula: (a) orangnya cinta kepada perbuatan yang bermanfaat; (b) orangnya suka kepada kelakuan yang menimbulkan kemaslahatan; (c) orangnya jika menemui persoalan selalu berusaha mengatasinaya; (d) orangnya jika melaksanakan segala sesuatu selalu berhati-hati.

Adapun tandanya orang yang berani ada empat pula: (a) orangnya tidak gentar mendengar berita buruk dan berita menyenangkan; (b) orangnya tidak suka mendengarkan kabar angin walaupun dia tetap memperhatikannya; (c) orangnya tidak takut ditantang; dan (d) orangnya tidak membeda-bedakan lawan yang banyak dan lawan yang sedikit.

Adapun tandanya orang yang kaya juga ada empat: (a) orangnya kaya kata sebab dia tidak pernah kehabisan kata yang disertai kepatutan; (b) orangnya kaya buah pikiran; (c) orangnya kaya usaha; (d) orangnya kaya belanja, lagi murah hatinya.

Ketulusan hati La Baso menyebabkan dia menanyakan pula syarat-syarat yang dapat memperbaiki pemerintahan. Si nenek memberi tahu kepadanya delapan syarat: (a) kejujuran; (b) kata benar; (c) keteguhan; (d) perhatian; (e) murah hati; (f) ketulusan; (g) berani; dan (h) ketenangan.

Sebelum La Baso melompat ke atas kudanya untuk balik kembali ke Soppeng, si nenek memegang bahunya sambil membisikkan kepada cucunya, “Jangan sampai engkau terlalu manis; jangan sampai juga engkau terlalu pahit. Sebab jikalau engkau terlalu manis, orang akan menelan engkau; jikalau engkau terlalu pahit, orang akan memuntahkan engkau. Pegang baik-baik apa yang telah kupesankan kepadamu, hai cucuku !

Sikap Pemimpin Terhadap Rakyatnya

Menurut La Toa, dalam hubungan antara sesama manusia, pemerintah dengan yang diperintah, pemimpin dengan yang dipimpin mempunyai kedudukan yang sama. Karena itu, dalam hubungan sesama manusia tidak boleh mempergunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak yang satu terhadap yang lain. Kekerasan hanyalah milik binatang. Hanya binatanglah yang melakukan kekerasan terhadap sesamanya. Hanya pada binatang berlaku hukum rimba, yakni hukum bahwa siapa yang kuat dialah yang menang.

Dalam menjalankan pemerintahan, raja terhadap rakyat, dan pemimpin terhadap yang dipimpinnya hendaklah bersikap manusia. Adapun manusia dalam menjalankan tanggung jawabnya juga terhadap negara menurut La Toa, mendasarkan diri kepada lima landasan sikap:

  1. Takwa kepada Allah Taala;
  2. Siri’ terhadap sesama manusia;
  3. Takut melakukan dusta;
  4. Kasih sayang terhadap rakyat yang menjadi tanggung jawabnya;
  5. Menegakkan kepastian hukum, dengan kejujuran terhadap siapa pun.

Untuk menegakkan kemuliaan dan kejayaan negara dan mengokohkan persatuan rakyat, dalam melakukan sikap dan tidakan-tindakan kekuasaannya penguasa hendaklah jujur dalam kesanggupan (keahlian)-nya dalam tiap jabatan negara. Sebaliknya, suatu negara bagaimanapun besar dan kuatnya, akan mengalami kehancuran, jika penguasanya melakukan kewajiban-kewajibannya secara ceroboh, tak mau dikeritk dan dinasihati, meniadakan peranan orang cerdik pandai, para hakim dan penegak hukum lainnya menerima sogok, dan membiarkan kemaksiatan berkecamuk dalam negeri sementara negara kehilangan kasih sayang terhadap rakyatnya.

Menjadi pemimpin (leader) bukanlah pekerjaan yang mudah, bukan pula pekerjaan sulit, tetapi pekerjaan yang penuh dengan tanggung jawab. Kepemimpinan (leadership) adalah kemampuan untuk mempengaruhi atau mengarahkan. Sehingga dapat pula dikatakan bahwa sejauhmana kemampuan kepemimpinan kita dapat dilihat dari sejauhmana pengaruh kita.

Dalam kempemimpinan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagaimana pesan (pappasengna) Nene Allomo Ri Sidenreng, yakni:

     “O Arung Mangkau, Narekko massuroko riatammu, aja mupasilaongngi sai ininnawa, matei ritu atae. Narekko mappangajako riarammu enrengnge risiajimmu, aja mupasilaongngi sai, iyatu rekkuwa mupogau, aja mupasilaongngi sai ininnawa, paddeppa wanua, paddeppa deceng.

Artinya; Wahai raja, kalau engkau memerintah bawahanmu atau rakyatmu, jangan disertai dengan kemurkaan/kemarahan, karena rakyat akan merasa mati atau tertekan. Kalau menasihati bawahanmu atau rakyatmu serta keluargamu, jangan disertai kemurkahan/kemarahan. Juga kalau ada yang kamu perbuat, jangan pula disertai dengan kemarahan/kemurkaan. Adapun kemurkaan dan kemarahan itu merupakan perusak negeri, perusak kebaikan.

Seorang pemimpin memiliki tanggung jawab untuk membawa orang yang dipimpinnya mencapai tujuan yang diinginkan dengan cara yang benar. Perhatikan pesan (pappaseng Puang Takkebuku – Arung Enrekang, berikut ini:

Patampuwangengngi adecengenna arungnge, sewwani tuli mario atinna mitai pabbanuanna, maduanna tenna pampawaiwi taue tennaulle, matellunna napabbiasai alena silele pabbanuae, maeppana tuli nasapparangngi deceng pabbanuanna.

Artinya: Ada empat jenis kebaikan raja. Pertama, hatinya selalu gembira melihat rakyatnya. Kedua, tidak membebani atau menugasi seseorang yang tidak dapat dilaksanakan. Ketiga, membiasakan diri bergaul dengan rakyatnya. Keempat, selalu berusaha untuk kebaikan rakyatnya.

Nilai, prinsip, nasihat, dan sikap kepemimpinan yang telah diuraikan di atas bila dipahami dengan baik tentu saja dapat memberi kontribusi yang sangat baik bagi kepemimpinan nasional, secara spesifik untuk kepemimpinan di sektor kesehatan dan pelayanan kesehatan.

Penulis adalah Ketua Umum PB. Ikatan Dokter Indonesia, periode 2012-2015 dan salah satu pendiri Yayasan Gema Sadar Gizi , 2010)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here