Kenangan Masa Kecil Berpuasa di Kampung Bagi Generasi 50 dan 60-an

0
660
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

MASA-masa sulit kehidupan bagi generasi yang kelahiran pada tahun itu.

Mereka saat ini di usia 70 dan 60 tahun, dan kakek nenek generasi milineal dan Z.

Kesulitan itu menyeluruh dalam pemerintahan akibat munculnya gerakan pemberontakan Permesta dan Darul Islam Tentara Islam Indonesia dikenal dengan DI TII.

Kesulitan yang dialami di Sulawesi Sehatan dan Tenggara seperti pangan. Pangan yang dikonsumsi adalah beras campur namanya Pule. Beras yang dicampur dengan jagung (lelu atau bessang) singkong, pisang muda dan sukun/baka.

- Advertisement -

Mengapa, karena tidak ada jaminan keamanan untuk keleluasaan menggarap sawah dan ladang yang jauh dari pemukiman.

Selain itu, terbatas pula pasokan minyak tanah yang hanya terbatas untuk lampu penerangan rumah/minyak tana’.

Beras campur/nanre pule ini masih sering kami komsumsi untuk merasakan suasana masa kecil dengan sayur daun kacang/kelor dan ikan kering yang dibakar, disiram minyak kelapa/minyak boka yang diolah secara tradisional.

Persiapan Puasa Ramadhan

ORANG orang di kampung penuh kegembiraan dalam menyambut datangnya bulan puasa Ramadhan

Membersihkan ruang dalam dan luar rumah, mencuci perabot rumah dan menyiapkan kayu bakar yang memenuhi kolong rumah kayu. Tradisi ini masih terus dipelihara di pemukiman orang Bugis Makassar.

Tarweh dan Takbiran.

PERISTIWA yang membantin itu adalah ahur bersama, sholat Subuh dengan ceramah kajian dan malam takbiran.

Ada rasa haru yang menggumpal untuk menguraikan momen nemorial itu, mengingat orang tua dan keluarga yang telah banyak berpulang.

Duduk bersama menghadapi makan sahur di keheningan malam yang sunyi, masing-masing masing berdoa berpuasa semata karena Allah swt.

Di masjid shalat Subuh berjamaah, imam tampil membawakan uraiaan hakikat keberadaan makhluk manusia dari mana, di alam dunia dan tujuan akhir di akhirat secara bersambung selama puasa.

Imam mesjid itu, imam Syafa dari Mangokoso, pesantren DDI Anre Gurutta KH Ambo Dalle.

Bermain di Sungai dan Berdiam dan Masjid

SELAMA puasa sungai tempat mandi dan berenang yang menjadi favorit untuk mengatasi kehausan dengan berendam.

Yang biasanya dilakukan antara pukul 10 sampai 11. Seterusnya ke masjid untuk shalat Dhuhur hingga Ashar kadang sampai buka puasa dan shalat Magrib.

Hingga saat ini tak terlupakan.

Malam takbiran, kami anak-anak sebaya bekeliling kampung bertakbir tanda akhir Ramadhan dan esoknya melaksanakan shalat dhul Fitri.

Betakbir sampai larut malam di masjid dan balik ke rumah untuk persiapan shalat Ied

Burasa dan ketupat yang dimasak dalam belanga di kolong rumah sudah dipadamkan apinya. Pagi itu kita berbondong bondong mendatangi masjid khusyuk mendengarkan khotbah sembari mengamati sekitar pohon dan burung pada berdiam saat khotbah dibacakan.

Usai itu kami bersalaman bertangisan satu sama lain.

Kami berjalan melewati bekas rumah tinggal para orangtua kami, yang terbayang wajah-wajah senyum mereka yang bermakam di tanah leluhur maupun di luar perantauan sana, kuhaturkan doa suratul Al Fatiha, amiin …

Legolego Ciluwung 4 April 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here