Kayla dan Bacaan Al-Qurannya

0
706
- Advertisement -

Kolom Zaenal Abidin

Sebetulnya tulisan ini adalah tulisan kedua yang mestinya merupakan kedua dari tujuh artikel, namun sengaja saya menunggu Kayla menamatkan bacaan Qur’annya sampai 30 juz  dulu baru diselesaikan.

Kayla begitulah kami sering memanggilnya. Nama aslinya Kayla Azka Ufairah. Sebelum  ia mempunyai guru mengaji kami sempat khawatir bila kelak tidak sanggup mendampinginya mengaji. Apalagi saat itu kami berdua selaku orangtua sibuk. Sebagai ayah saya sering bertugas di luar kota. Sementara bundanya, selain praktik sebagai dokter spesialis gizi klinik di rumah sakit, ia juga mengajar para calon dokter di kampusnya. Kami khawatir bukan karena tidak bisa mengaji. Tapi soal ketersediaan waktu yang cukup dan metode Iqro yang terbilang baru bagi saya pribadi. Maklum waktu masih kecil belajar mengajinya dengan cara tradisional. Alhamdulillah, rupanya bunda Kayla diam-diam cukup paham metode Iqro ini.

Di perumahan kami, Griya Madani I Jatiasih Bekasi, memang ada guru yang sering mengajar anak-anak mengaji namun hanya untuk kakak-kakak yang laki-laki. Belajarnya setelah shalat magrib. Sementara anak perempuan belajar di rumah masing-masing dan belum punya guru sendiri. Karena itu, saya katakan ke bunda Kayla, “coba tanya ibu-ibu yang ada anak perempuan kecilnya siapa tahu ada kenalannya yang bisa ajari Kayla dan anak perempuan lain mengaji.”

Beberapa hari kemudian, bunda Kayla sampaikan informasi dari bundanya Almirah, ada guru yang mau mengajari anak perempuan. Waktunya dua kali seminggu, setelah magrib sampai setelah shalat Isya berjamaah. Kayla sangat senang punya guru mengaji apalagi ia bisa mengaji bersama teman sebayanya. Bersama kakak Almirah, kakak Najlah, adik Achi. Karena gurunya masih mahasiswi maka Kayla dan temannya tidak memanggilnya guru atau ibu guru. Mereka memanggilnya kakak. Kakak Ana namanya.

- Advertisement -

Saya dengar belajar mengajinya menggunakan Metode Ummi. Metode ini pun belum ada waktu saya belajar mengaji di kampung. Tempat mengajinya berpindah-pindah. Kadang di rumah kakak Almirah, di rumah Kayla, kadang pula di rumah kakak Najlah. Sayang sekali mengaji dengan kakak Ana tidak berlangsung lama sebab kakak Almirah harus pindah  ke Belanda mengikuti ayahnya yang bertugas sebagai Diplomat di Negeri Kincir Angin itu. Dan tidak lama berselang Covid-19 pun menjadi pandemi di Indonesia. Grup mengajinya bubar sendiri.

Mengaji di Rumah Karena Pandemi

Ketika Covid-19 masuk di Indonesia kemudian menjadi pandemi, Kayla masih duduk di  TK. Azzahra. Tepatnya bulan-bulan terakhir di kelas B TK tersebut. Tidak lama setelah masuknya Covid-19, bulan Ramadhan (1441 H.) pun tiba. Sambil pakai masker, Kayla dan teman-temannya berkeliling komplek sambil menyanyi, “Ramadhan tiba-Ramadhan tiba; Tiba-tiba Ramadhan.” Walau ada pandemi, Kayla dan teman-temannya tetap terlihat ceriah. Setiap sore mereka tetap naik sepeda keliling komplek perumahan yang tidak terlalu luas. 

Berhubung suasana pandemi, kami orang tua lebih banyak bekerja di rumah, rapat pun di rumah secara online. Karena bertepatan bulan Ramadhan, kami juga tadarus Al-Qur’an. Jadi Kayla melihat orang tuanya mengaji. Saat itu Kayla belum bisa membaca Al-Qur’an, sebab gurunya baru menjarakan menghafal surat-surat pendek saja. Kayla hanya mengulang-ulang hafalan surat yang telah dipelajarinya.

Sambil menunggu tahun ajaran baru di SD Daar El Salam, akhirnya ada panggilan dari Kepala TK Azzahra bahwa Kayla sudah dinyatakan lulus TK. dan sudah bisa datang untuk mengambil surat tanda lulusnya untuk digunakan mendaftar di SD yang dipilihnya. Artinya pula tidak akan ada acara penamatan dan perpisahan seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

Pelajaran Mengaji di SD Daar El Salam

SD Daar El Salam adalah sekolah pilihan Kayla sendiri. Memang sebelum ke SD Daar El Salam, skami mengantarnya mengunjungi 2 SD lainnya. Kami ingin agar Kayla sendiri yang memilih sekolah yang ia suka. Ketika sampai di SD Daar El Salam, kami melapor ke sekuriti kemudian diantar langsung bertemu dengan ibu kepala sekolah. Bunda Kayla tidak ikut ketika itu karena urusan di kampusnya. Eyang yang yang menemani kami. Saat itu belum ada Covid-19 di tanah air.

Ibu kepala sekolah menerima kami dengan sangat ramah. Sebelumnya beliau memperkenalkan diri. “Nama saya, Ibu Yati. Yati Nurhayati”, katanya mengenalkan diri.  Kami pun ikut mengenalkan diri. Setelah kami saling berkenalan dan ngobrol sejenak, kami minta izin untuk dapat melihat ruang kelasnya. Dengan senang hati Ibu Yati mengantar kami mengunjungi ruang kelas I. Ketika sampai di depan ruang kelas, kami bilang bahwa tetangga kami ada yang di kelas I. Ibu Yati, balik tanya, “siapa namanya?” Saat itu Kayla yang jawab, “kakak Najla, Bu.” Seketika ibu Yeti menanyakan ke guru kelas yang sedang mengajar, apakah ada murid kelas I bernama anak Najlah? Seketika, Najlah yang duduk di kursi belakang angkat tangan dan maju ke depan menemui Kayla. Najla sempat bertanya,”Kayla mau sekolah di sini?” Kayla hanya tersenyum.

Dalam perjalanan pulang saya menanyakan “Kayla suka sekolah yang mana?” Kayla menjawab, “Kayla mau di Daar El saja, ayah”. Mungkin karena senang diterima ibu Kepala Sekolah yang ramah atau mungkin juga karena di Daar El bertemu Kakak Najlah (tetangga dan teman bermainnya di Griya Madani I). Atau bisa juga karena keduanya.

Setelah kami mengisi formulir pendaftaran dan memenuhi semua persyaratan maka Kayla secara resmi terdaftar di SD Daar El Salam pada Tahun Ajaran Baru 2020/2021. Bersyukurnya karena di sekolah barunya ini ada kurikulum belajar Iqro dan murojaah. Artinya, Kayla pelajaran mengaji Kayla in syaa Allah tetap berlanjut.

Di kelas I SD Daar El Salam, jadual pelajaran mengaji ada dua: iqro dan murojaah dengan guru yang berbeda. Pada pelajaran Iqro 1 sampai 6, Kayla termasuk cepat memahami dan bisa membaca lancar. Dengan demikian, ia cepat pindah ke Al-Qur’an kecil (Juz Amma). Di Juz Amma pun cukup cepat selesai hingga pindah ke Al-Qur’an besar (QS. Al-Baqarah dan surat seterusnya). Setiap malam Kayla rutin mengaji di rumah. Kami yang mendampinginya. Sekalipun hari libur atau kami berlibur atau menginap di suatu tempat, sebelum tidur malam Kayla selalu minta ditemani mengaji. Secara kebetulan memang guru Iqronya, meminta agar setiap murid melaporkan bacaan Al-Qur’annya. Ada juga baiknya ada laporan ini sebab dengan cara ini kami akan tahu ayat dan surat telah dibaca.

Suatu waktu, di kelas I, Kayla pernah ditujuk mewakili kelasnya (Imam Syafii) untuk ikut lomba hafal berantai (beregu) secara online. Saat itu regu Kayla berhasil meraih juara III. Alangkah senangnya Kayla ketika itu karena mendapakan piala dari sekolah. Untuk diketahui, selama Kayla duduk di kelas I semua pembelajarannya berlangsung secara online. Dan pada saat di kelas I  pula Kayla dipertemukan dengan Ramadhan kedua (1442 H.) dengan suasana pandemi Covid-19, yang amat mencekam. Covid-19 varian Delta yang amat berbahaya.

Kayla naik kelas II

Seperti sekolah lainnya, murid-murid naik kelas tanpa pernah tatap muka. Hal ini juga dialami Kayla dan teman-temanya pada Tahun Jaran 2021/2022 ini. Naik ke kelas II tanpa pernah merasakan duduk tatap muka di kelas I. Setelah di kelas II, meski situasi pandemi belum usai, namun kondisinya tidak separah setahun sebelumnya. Sekolah sudah dibolehkan tatap muka 50%. Nama kelas Kayla, kelas II Amr bin Ash. Dalam penerapan tatap muka 50% ini murid kelas II Amr bin Ash dibagi dua. Sebagian tatap muka dan sebagian lainnya belajar online di rumah.

Di kelas II pelajaran Iqro (membaca Al-Qur’an) dan murojaah tetap dilakukan dibawah bimbingan guru Irqro dan guru murojaahnya. Bila sedang tatap muka maka pelajaran Iqro dan murojaah dilaksanakan di sekolah. Mengaji rutin di rumah setiap malam juga tetap berlangsung seperti biasa. Mengaji setiap malam sudah menjadi agenda dan tata tertib tak tertulis bagi Kayla, walau hanya 2 atau 3 halaman. Untuk komitmen dan keteguhan mengaji, sama seperti pada shalat 5 waktu, in syaa Allah Kayla sangat dapat diandalkan.

Menjelang Ramadhan 1443 H.

Saya selalu memberi semangat kepada Kayla agar bisa menamatkan bacaan Al-Qur’annya sebelum memasuki bulan Ramadhan tahun ini. Saya katakan, bila Kayla tamat sebelum Ramadhan tahun ini artinya kita bisa mengaji atau tadarusan bersama. Kita berempat, yaitu ayah, bunda, Kyala dan eyang. Saya optimis sebab dua bulan menjelang Ramadahan bacaan Al-Qur’an Kayla sudah hampir memasuki Juz 30.

Dan, Alhamdulillah, persis pukul 19.37 WIB., hari Sabtu (26 Februari 2022 M./ 26 Rajab 1443 H) Kayla menyelesaikan bacaan Qur’an 30 juz. Artinya, target akan khatam Qur’an sebelum memasuki Ramadhan tahun ini tercapai. Sejak memasuki juz 30 Kayla terlihat sangat bersemangat, bahkan sedikit bernafsu. Biasanya setiap malam hanya membaca dua atau tiga halaman, berubah menjadi 5 halaman. Bahkan pada malam terakhir Kayla membaca sepuluh halaman. Setelah membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing tigak kali ia  lanjutkan membaca doa khatam Al-Qur,an. Wajahnya tampak sumringah kemudian memeluk ayah dan bundanya yang duduk mendampinginya. Kami berpelukan bertiga. Setelah itu, Kayla keluar kamar menuju kamar eyangnya, cari om Dhiemas, tante Adha, dan kakak Adhis, yang kebetulan ada di rumah untuk memberitahu kalau ia sudah tamat 30 juz.

Sekalipun bacaan Qur’an Kayla sudah tamat, bukan berarti ia tidak pernah mengalami kendala. Seingat saya ia pernah dua menangis serius karena sulit menghafal surah yang ditugaskan oleh gurunya. Ia sudah berulang kali mencobanya tapi selalu gagal. Ada saja ayat yang kelupaan. Kejadian pertama ketika masih di TK dan kejadian kedua saat kelas I SD. Di TK Kayla mendapat tugas untuk menyetor video hafalan Qs. Ad-Dhuha dan di kelas II SD karena esok harinya akan ada pengambilan nilai hafalan QS. Al-Lail secara online. Pada kedua peristiwa tersebut, kami tanya Kayla, “kenapa menagis nak?” Kayla jawab, “Kayla menangis karena sedih. Kayla sudah berusaha tapi belum hafal-hafal juga.”

Untuk kedua kejadian tersebut kami berikan dua pilihan. Pertama, Kayla istighfar dan baca taawwuz minta perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk; dan Kedua, Kayla boleh istirahat dulu sebab sudah jam 22.00, besok dilanjutkan setelah shalat subuh. Dan pada kedua kejadian tersebut Kayla mengambil pilihan yang sama. Kayla istighfar dan taawwuz lalu lanjut mengulang-ulang bacaannya sampai akhirnya hafal. Air matanya tetap menetes membasahi pipinya. Karena itu, saya menulis lagu berbahasa Bugis: “ininnawa sabbarae”, ketulusan dan kesabaran di status facebook saya, kemudian memasang foto Kayla sedang mengaji. Billahi Taufiq Walhidayah.

Jatiasih, 27 Februari 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here