Bagaimana Kabar HMI, di 74 Tahun?

0
405

Kolom Jumrana Salikki

Tawa
Tangis berderai,
Tawa karena hitungan angka begitu besar. Perkaderan tak ada henti.
Uang tak tergenggam kegiatan bergulir mengalir begitu rupa tanpa hambatan.
Apalah di HMI.

Kader HMI menapakkan kaki berjingkrak di hampir semua sektor hamparan di bumi pertiwi. Bergumul bertahan menggelindang terkadang menari, menyanyi sekalipun ada bernarasi sumbang memekakkan telinga.

- Advertisement -

Di HMI pluralisme selesai.
Tak ada kasta diperdebatkan
Anak siapa atau cucu siapa?
Feodalisme tersingkir
Yang penting Islam.

HMI 74 tahun hari ini. Kematangan berbangsa dan bernegara terjalani. Era digital kini memudahkan lembaran lama yang bisa jadi dianggap kusam tentang sepak terjang kader HMI. Tatkala bangsa Indonesia di persimpangan, ada dan nyata berdiri tegak menegakkan panji keIndonesiaan.

HMI ada saat ada di dalam. Tak ada senyap.
Apalagi tertidur pulas.
HMI ada tanpa memicingkan mata. Apalagi kedipan.
Narasi terbangun indah pada pusat kuasa. Duduk bersama tertinggikan. Ada harkat tertandai karena takkan ada berbayar di dalamnya. Sadar akan panji HMI begitu sakral untuk dijaga, dikibarkan di saat kondisi sesulit apa pun.

HMI ada saat ada di luar lintas batas, tak ikut bercokol di kekuasaan. Hadir sebagai penyelaras. Gendang ditabuh lebih elok bernarasi mimpi masa depan akan generasi bangsa Indonesia.

Karena keindahan bangunan itulah segala liriknya didengar, ditimbang angguk. Ke titik damai. Untuk selanjutnya esok HMI diharap terdepan ada dan nyata saat negara berselancar tanpa titik tuju jelas. Abai pada Pancasila dan UUD 45.

Hari ini dan hari esok
Masihkah ada hari-hari itu?
Adakah kearifan lokal terjaga
Adakah bangunan kesejarahan masih sebagai pijakan?
Adakah Pancasila terjaga.
Gema “Saya Pancasilais”, “NKRI harga mati” semakin menggema memekik di siang bolong.
Adakah menelisik sebuah harga parade yang akan maha dahsyat?
Ikut dalam barisan
Bernarasi tajam menjadi pengumpan balik karena ketidakmampuan dalam mengolah.
Tersandera dengan tubuh ke dalamnya acap dan akhirnya menggolkan ke gawang sendiri.

Apalah kuasa ketersanderaan pada kuasa diri tak terelakkan, jiwa sesungguhnya hampa berontak. Memuka cermin menata dagu dan tatapan yang sulit menyatu. Apalagi tangan dan bibir tak bertuan.
Mata dan alis tak seirama.
Tingginya diri
Insan akademis tertanggal tercibir oleh petani, nelayan dan pengangguran pada diskusi dan saling anggukan kecil di masa pandemi tak berujung ini.

Kerinduan narasi, lirik lagu didendangkan entah dangdut, melayu, koplo, pop atau apalah hari ini sungguh membuncah. Ada pembawa lirik handal berdiri tegak sembari menghirup nafas islami, membuka mulut ditandai basmalah mendendangkan syair pengobat.

Pandemi entah kapan usai.
Kegalauan di rumah, ke luar untuk sesuap nasi.
Adakah pasti pintu-pintu rumah masih utuh ataukah sudah rontok?

Kegalauan yang membuncah ketidakpastian nafas ke depan. Hari ini atau esok masihkah yang Kuasa memberi ruang untuk hirup udara bebas di negeri maha subur ini?

Tersenyum bahagia, sesulit apapun ekonomi perdapuran tak ada serah. Yang penting bilik sebagai rakyat jelata anak negeri tetap aman berdiri tegak sebagai bangsa Indonesia.

Lalu bagaimana kabar HMI di Usia 74 tahun ini?
Semoga Yakin Usaha Sampai tidak terhenti di titik nol. Narasi dan liriknya sungguh dirindukan oleh rakyat dan bangsa Indonesia hari ini. Istiqhorah ke mana langkah ditegakkan.
Yakusa akan kering tanpa nafas Alquran hadist sebagai penuntun gerak langkah kebajikan terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Catat-cacatlah sebuah nama pada catatan sejarah di hari esok. Banggakan anak cucu, generasi bangsa Indonesia. Hijau hitam panji Himpunan Mahasiswa Islam tetap eksis di Bumi Pertiwi sampai kapan pun. Bergegas dalam coretan kelam peradaban bangsa.

Hari ini bangga menjadi HMI
Kejuangan dan perjuangan terajarkan. Komitmen Keislaman dan Keindonesiaan adalah keutuhan dalam berpikir dan bertindak.

Perbedaan usai di HMI.
Tapi kebenaranlah jiwa setiap langkah kejuangan hidup, menghidupi, abdi dalam pengabdian. Membangun harkat martabat diri, keluarga, lingkungan kerja , komunitas, organisasi, dll. Pantulan cermin kebaikan para pendahulu. Bahwa kami ada di HMI karena di HMI ada kebaikan. Kebaikan, kejuangan dan Keindonesiaan itulah sejatinya dirajut untuk segala kebaikan mengokohkan bangsa Indonesia hari ini dan ke depan.

Lafran Pane, 74 tahun telah menorehkan sejarah bangsa dengan HMI. Andai beliau masih berjiwa, adakah tawa, deraian air mata menatap bangga, tertawa ataukah tangis duka tak tertahankan karena tujuan HMI semakin jauh dan jauh untuk ternikmati anak negeri pemilik bangsa Indonesia?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here