In Memoriam Rima Melati, Artis dengan Lingkup Pergaulan dari Presiden hingga Pelayan Resto

0
142

Catatan Ilham Bintang

Mendiang Rima Melati dikenang banyak orang bukan hanya sebagai artis film senior. Tetapi lebih dari itu, sebagai manusia seutuhnya yang selama rentang waktu kehidupannya menciptakan banyak karya fenomenal di bidang yang dia geluti: Menyanyi, model, perarawati, aktris film, dan resto.

Di awal tahun 70 an bekerja sama Pemprov DKI Rima membuka Jaya Pub, yang dari namanya saja waktu itu masih asing di telinga awam. Jaya Pub berlokasi di jalan Thamrin, Jakarta Pusat, adalah Pub pertama yang menopang Jakarta sebagai kota Metropolitan. Pub adalah singkatan dari “Public House” dan merupakan tempat minum umum bergaya Inggris. Arti kata pub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tempat hiburan khusus untuk mendengarkan musik sambil minum-minum yg dibuka pada waktu malam (sampai larut malam).

- Advertisement -

Tidak cuma itu. Rima juga memotori di awal sekali membuka resto untuk pengunjung asing dengan nama “La Bistro” melengkapi Jakarta sebagai kota dunia. Bistro atau bistrot dalam perwujudan aslinya di Paris, adalah sebuah rumah makan kecil yang menyajikan makanan sederhana dengan harga menengah dan juga alkohol. Jangan lupa pula La Bodega. Yang terakhir ini nama restonya yang konsepnya dari Spanyol. Bodega adalah sebuah toko kelontong kecil yang biasanya berada di lingkungan hispanik. Toko-toko ini sebenarnya mirip dengan warung yang ada di Indonesia namun lebih modern dan besar.

Begitulah cara Rima dan tentu saja bersama suaminya mendiang Frans Tumbuan, (wafat 2015) mempelopori atau menjadi trend setter gaya hidup di era global.

Sebelum itu, Rima mempelopori dunia mode dan fashion menjadi industri. Basicnya, dia memang model dan peragawati lalu mengembangkan kegiatan pagelaran busana secara rutin dan teratur sehingga menjadi sentra ekonomi yang menyerap lapangan pekerjaan bagi banyak skill di bidang itu. Untuk melengkapi, Rima mendirikan IMA ( Indonesia Model Agency ) demi merekrut tenaga -tenaga terdidik memasuki dunia fashion secara professional. Di dunia fashion yang jadi mentornya tak lain Non Kawilarang, ibunya sendiri, yang pelopor butik, salah satunya yang terkenal di Hotel Borobudur — di kala butik juga masih asing di telinga sebagian awam di masa itu.

Rima Melati wafat Kamis (23/6) petang pukul 15.14 WIB ( bukan 15.25 seperti banyak ditulis) di RSPAD Jakarta. Meski menderita sakit cukup lama akibat konplikasi pelbagai penyakit, tetapi kepergiannya tetap saja sebuah kehilangan bagi Indonesia. Ditinggal pergi seorang yang multitalent dan multitasking yang sangat dibutuhkan negeri ini.,

Sejak berita kematiannya menyebar di media pers, media sosial, terutama di group WhatsApp, praktis sejak itulah menyebar ungkapan berkabung atas kepergian seniman lintas jaman dan lintas pergaulan. Mulai dari Presiden RI pertama Bung Karno hingga pelayan resto dan tukang parkir kedai minumnya ( Pub) atau tukang lampu produksi film.

Meski sudah sekitar empat tahun menderita sakit dan seperti menarik diri dari peredaran di publik, tetapi masyarakat awam generasi sekarang pun masih mengenal namanya, mengenal perjuangannya. Rima adalah penyintas penyakit kanker, yang berkat tekad dan kegigihannya kanker berhasil sembuh sekitar 30 tahun lalu di Amsterdam. Para penggemar itu lewat caranya sendiri menyatakan berkabung. Antaranya, itu tadi, mengunggah foto-foto dokumentasi Rima Melati. Benar kata pepatah. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia meninggalkan kesan mendalam atas perbuatan baiknya.

“Ya, semua kenangan baik tentang Mbak Rima itu, benar. Dia orang yang sangat baik kepada semua orang, zonder pilih–pilih. Dia membantu siapapun,” kenang Widyawati, artis senior sahabat Rima Melati dalam percakapan Jumat ( 24/6) pagi.

Berita kematian Rima pertama kali memang diposting oleh istri almarhum aktor dan politikus Sophan Sophiaan itu di WAG komunitas artis senior Indonesia. Setelah itu saya lmengontak dia. ” Benar. Baru lima menit lalu saya terima kabar dari putranya Aditya yang sedang berada di RS,” kata Widya memastikan keraguan, Kamis (23/6) petang. Sebelumnya, sekitar seminggu lalu, ketika baru beberapa hari diopname di RSPAD merebak berita hoax tentang kematian Rima.

Rima Melati memang sejak awal Mei dirawat di RS akibat komplikasi penyakit. Dia pertama kali dirawat di RS Pondok Indah Bintaro. Sekitar sebulan. Setelah itu pindah ke RSPAD karena kebutuhan cuci darah dimana peralatannya lengkap dimiliki RS tentara itu.

Nama Pemberian Bung Karno

Rima Melati terlahir dengan nama Marjolien Tambajong (EYD: Maryolien Tambayong) 22 Agustus 1939 di Hindia Belanda. Ia adalah putri kedua dari empat bersaudara pasangan Marinus Van Rest dan Non Kawilarang (27 Oktober 1917 – 27 Juni 1997). Ibunya, Non Kawilarang, seorang perancang dan perintis dunia mode Indonesia. Ia merupakan saudara kandung dari Dorothea Tambayong yang merupakan ibu dari aktris Debbie Cynthia Dewi.

Wanita yang kecantikannya dinilai sangat khas Indonesia itu membuat Presiden RI Soekarno memberinya nama : Rima Melati. Nama itulah yang tampaknya membawa keberuntungan, yang melekat hingga akhir hayatnya.

Banyak penggemar yang mengunggah foto dokumentasi mendiang yang khusus mengagumi kecantikan Rima Melati. Ungkapan Presiden Jokowi ” sangat cantik sekali dan kharismatik” kepada Ibu Megawati Soekarno tiga hari lalu, boleh dipinjam untuk mendeskripsikan kecantikan serupa pada Rima Melati.

Semasa hidupnya Rima telah membintangi puluhan judul film Nasional, mengantongi beberapa Piala Citra atas prestasinya di dunia seni peran. Penghargaan serupa dari Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI) bahkan diraih tiga kali berturut- turut di awal tahun 70 an. Piala Citra FFI, lambang supremasi tertinggi atas seni peran, diraih pertama kali pada FFI 1973 lewat film” Intan Berduri” yang dibintangi aktor Benyamin Suaeb yang juga berhasil meraih Piala Citra.

Empat tahun lalu Rima masih berusaha comeback untuk melepas kangen. ” Ia mencoba bermain dalam sinetron, namun kondisi kesehatannya tidak lagi memungkinkan. Dia pun stop,” cerita Widyawati.

Berbicara mengenai Rima tidak hanya tentang kecantikan, tetapi juga mengenai pribadinya sebagai manusia yang luar biasa memikat. Ini yang layak diteladani. Sejak muda dia sudah menjadi artis papan atas, namun dalam kehidupan sehari-hari tetap bersikap ” humble” sederhana dan populis. itulah yang menonjol dan dikenang banyak orang sepeninggalnya.

Saya mengenal pasangan Rima dan Frans Tumbuan puluhan tahun lalu. Ketika itu saya masih wartawan pemula, Rima sudah sudah artis sangat terkenal kelas papan atas, dan sukses pula sebagai enterpreuner di Indonesia. Tetapi hingga puluhan tahun sikap itu tidak lekang. Tetap ramah dan ramai. ” Bergudil -gudil” ungkapan khas dan ciptaannya sendiri untuk menunjukkan keakraban dengan siapapun. Frans Tumbuan juga begitu sampai usia perkawinan mereka menginjak 43 tahun ( Frans Wafat 2015) tidak berubah.

“Itu ungkapan khasnya. Artinya lebih kurang enjoy saja, kita ngobrol yang ringan-ringan saja ” terang Widyawati.

Radio Elshinta yang mewawancarai semalam dalam perjalanan menuju taping talkshow Indonesia Lawyers Club milik Karni Ilyas, saya ceritakan pribadi Rima seperti dalam ungkapan ” bergudil-gudil” itu.

Rima Melati telah pergi. Mendiang wafat dalam usia 82 tahun. Meninggalkan 5 anak dan 13 cucu. Saat ini jenasah disemayamkan di Rumah Duka Kamboja, RSPAD. Sejak Kamis petang, pelayat dari berbagai kalangan telah berdatangan ke rumah duka untuk menyampaikan rasa berkabung.

Rencana pemakamann akan dilaksanakan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan, satu liang lahat dengan Non Kawilarang, ibundanya yang tercinta. Namun, waktunya masih menunggu konfirmasi putrinya, Hanneke Adinda Tumbuan, yang saat ini berada di Jerman.

Selamat jalan Mbak Rima.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here