Hasanuddin Massaile, Ayah yang Bijak dan Menuntun

0
1645
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

PENUTURAN kata-katanya yang lembut dan menuntun menjadi motivasi untuk ingin selalu bersua dengan beliau.

Itu kesan saya, sesaat setelah beliau terpilih sebagai Ketua Umum BPP KKSS pada Mubes KKSS di Samarinda tahun 2004.

Mendengar dan menyaksikan itu, sesaat saya mengingat masa kecil, para tetua yang sedang bercakap-cakap di sebuah majlis di kampung.

Saya tidak banyak berinteraksi dengan beliau pasca Ketua Umum KKSS Mohammad Taha yang digantikan oleh Hasanuddin Massaile.

- Advertisement -

Beberapa hal yang terkesan saya ingat dan catat antara lain…”di mana jarum di situ benang mengikutinya… “

Hal ini diucapkan menjelang Pilpres pertama dengan kandidat Capres dan Cawapres terkuat pasangan SBY dan JK.
Kita menangkap isyarat bahwa pilihan terbaik secara ikatan kultural dan emosional pada pasangan SBY dan JK.

Di lain kesempatan saya menghubungi beliau dalam sebuah urusan hukum.

Seorang permaisuri mendiang Sultan yang terhukum terpisahkan jauh dengan dua orang anak kembarnya yang masih kecil dan ia membutuhkan perawatan khusus karena sakit yang sedang dideritanya.

Keinginan sang permaisuri yang terhukum itu ingin dekat dengan anaknya dan berobat di Jakarta.

Lalu saya diarahkan untuk menghubungi salah seorang pejabat di lembaga yang berkompeten untuk menyampaikan perihal pindahan/mutasi ke Lapas di Tangerang.

Singkat cerita, saya menemui Ibu pejabat yang dimaksud.

Sekitar 15 menit Ibu itu dengan cepat dan tangkas menghubungi pihak yang berkompeten dan urusan itu klir selesai.

Menjelang pamit, saya tanya, Bu .. siapa yang disapa ayah itu? Dibalas dengan senyum.

Di perjalanan pulang saya membatin … begitu idealnya bila semua aparat bekerja cepat dan terukur seperti Ibu itu.

Dalam hitungan seminggu sudah terbit persetujuan mutasi.

Kesan lain, dari cerita sahabat bahwa Pak Hasan ini banyak membuka peluang kepada orang yang akan masuk menjadi pegawai negeri di Kementerian Hukum dan HAM selama menjabat Sekretaris Jenderal Kementerian itu sejak tahun 2000.

Selama itu pula beliau mendorong para pegawai untuk melanjutkan pendidikan ke strata lebih dari sarjana S1 untuk meningkatan kualitas SDM nya yang berdampak pada kualitas pelayanan dan tunjangan tentunya. Hal itu dilakukan selama menjabat Sekjend mendampingi Menteri.

Sampai beliau pensiun ada sekitar 3000 an pegawai berpredikat doktoral S.2 dan S.3 seluruh daerah yang dipromosikan.

Dengan itu, saya teringat pesan leluhur Bugis dari Wajo mengatakan .. aja naitai bati naparagandai to Wajoe …

Yang arti harfiahnya bahwa betapa besarnya pengaruh dari kata paraganda ( promosi ) untuk usaha perniagaan.

Makna filosofisnya adalah motivasi/ support moral untuk jalan kebajikan yang bernilai harkat dan martabat seperti yang dimotivasikan okeh Pak Hasan, wija tulen to Wajo.

Beliau masih diinginkan oleh menterinya untuk menjabat Sekjend menjelang masa pensiunnya. Namun, beliau berpikir lain, bisa mengukur diri (Naisseng Alena).

“Sudah tiba masa giliran untuk orang lain,” ungkapnya kepada saya.

Kemudian beliau melanjutkan pendidikan doktoralnya di bidang ilmu Pemerintahan di Universitas Pajajaran Bandung.

Menjalani masa pensiun dan mensyukuri yang sudah ada bisa berarti bagi diri dan orang lain.

Subhanallah … bijaknya ayah ini.

Legolego Ciliwung 26 Februari 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here