Erwin Kallo Terobsesi Bikin Studio Film di Makassar

0
177

PINISI.co.id – Keberhasilan The Lawyers Pokrol Bambu memicu semangat Erwin untuk terus berkarya pada film-film berikutnya.

Produser dan pemain film Erwin Kallo terobsesi membuat studio film di Makassar. Kelak, film-film produksi anak Makassar bisa mengambil lokasi suting di studio miliknya tanpa perlu lagi ke Jakarta. Pengacara hukum properti itu beralasan mengingat Makassar dikenal sejak dulu banyak melahirkan film nasional layar lebar khususnya pada era tahun 70-an. Erwin sendiri waktu itu adalah aktor cilik yang telah membintangi sejumlah film lokal dari Makassar, seperti Senja di Pantai Losari (1975) lewat artis utamanya Emilia Contessa. Kemudian, Embun Pagi (1977), dan Jumpa di Persimpangan (1978).

Selain itu, Erwin juga aktif sebagai aktor panggung drama Teater Angkasa Makassar dan aktor drama TVRI Makassar pada tahun 1978 hingga 1990.

Kini pruduksi film-film anak-anak Makassar kembali meramaikan perfilman nasional ditandai dengan bumingnya film Uang Panai pada 2016 yang mampu menyedot penonton hingga 600.000 dan ditayangkan di seluruh Indonesia sebulan lamanya. Di samping itu, beberapa film pendek anak-anak muda Makassar meraih penghargaan di berbagai festival film internasional.

“Saya optimis film dari Makassar akan berbicara lebih banyak pada masa-masa datang. Pemain-pemain lokal penuh talenta dan misi ini juga ingin menggalakkan kembali film dan kesenian daerah” kata Ketua Dewan Kesenian Makassar ini.

Erwin yang mengaku passionnya ada di perfilman, terdorong membuat film perdananya lewat The Lawyers Pokrol Bambu yang tayang di bioskop Kelompok 21 di seluruh Indonesia dan mampu bertahan hingga dua pekan, dimulai pada 16 Mei hingga 26 Mei. Sebagai langkah awal, ini sebuah pencapaian yang lumayan bagus berhubung film-film nasional kerap diturunkan dari layar 21 dalam dua hari apabila tidak dapat menarik penonton.

Film The Lawyers merupakan film Indonesia pertama yang mengangkat tentang profesi pengacara dan dunia hukum lainnya. Lewat sutradara Azar Fanny, film ini bercerita tentang kehidupan profesi pengacara dengan sepak terjangnya dikemas dalam bentuk cerita komedi satir melalui proses produksi selama dua tahun sejak 2017 oleh rumah produksi PT Erwin Kallo Films.

“Intinya film ini adalah gambaran situasi nyata dunia hukum dan kehidupan lawyer yang lucu saat ini, yang dibalut dalam cerita komedi satir,” kata mantan Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI), Yogyakarta ini.

Menurut Erwin, kehidupan nyata para pengacara punya sisi lucu dan belum terungkap dalam industri hiburan Tanah Air. Oleh karenanya, The Lawyers berusaha membuka tabir kehidupan para pengacara apa adanya. Dialog yang disajikan adalah komedi cerdas. Persiapan “The Lawyers” telah lama dilakukan untuk mendapat hasil dan kualitas yang optimal.

Keberhasilan The Lawyer memicu semangat Erwin untuk terus berkarya pada film-film berikutnya.”Cerita lokal kita di Makassar sangat kaya temanya dan menarik untuk dijadikan sebuah film,” kata Erwin yang kerap jadi narasumber di Indonesian Lawyer’s Club (ILC) TV One itu.

Erwin sendiri telah menyiapkan sejumlah skenario cerita sejarah lokal dan nasional yang bakal dibuat film eduaktif, sekaligus menghibur. “Kami akan memproduksi kembali cerita-cerita film yang berkualitas dan komersil,” kata pemilik Erwin Kallo & Co Property Lawyers Jakarta, Bali & Makassar itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here