Empat Tahun di Tenda Pengungsian, Warga KKSS Serangan Bali, Kembali Mencari Pondokan Baru

0
620
Tenda dan gubuk pengungsian warga KKSS Serangan, Bali akan dikosongkan pemiliknya setelah empat tahu menumpang di lahan ini.

PINISI.co.id- Saat banyak warga di sejumlah daerah dan luar negeri merayakan HUT KKSS ke 44 dengan suka cita, sebaliknya warga KKSS di Desa Serangan, Denpasar Selatan, Bali, diliputi kecemasan akan masa depan tempat tinggalnya.

Hal itu tampak di tenda-tenda dan rumah gubuk pengungsian warga KKSS di Serangan sehubungan lahan yang dihuni selama empat tahun itu akan dikosongkan oleh pemiliknya.

Menurut Usman (47), tokoh dan juru bicara warga KKSS Serangan, pada Desember bulan depan tenda harus dibongkar dan dikosongkan. Sebab, si empunya lahan akan menjual tanahnya, sementara pembeli tidak ingin melihat tenda-tenda yang centang perenang ini di lahan miliknya.

- Advertisement -

“Sebagian warga sudah pindah. Ada yang cari kontrakan. Di lahan baru nanti, mungkin warga akan kembali membangun tenda atau gubuk,” kata Usman menambahkan.

Menurut pria asal Soppeng yang lahir di Bali ini, lahan yang sudah disiapkan pemerintah buat warga pengungsi seluas kurang lebih 4.500 meter persegi. Ada sekitar 50 kepala keluarga atau 150 jiwa yang hidup di pengungsian. Lahan seluas ini bisa menampung 36 unit rumah sederhana,” kata Usman kepada PINISI.co.id, Selasa (10/11/20).

Apalagi, di musim penghujan dan masa pandemi kian menyulitkan kehidupan warga yang rata-rata adalah nelayan. “Banyak tangkapan ikan, tapi sulit untuk dijual, restoran dan warung di kawasan wisata masih banyak yang tutup,” ucap Usman yang juga seorang nelayan tangkap.

Semula lahan ini akan dibangun rumah susun seperti yang dijanjikan pemerintah, namun ketentuan adat melarang rumah susun lebih tinggi daripada pura yang ada di sekitar lahan warga. Karena itu, Usman meminta rumah bantuan nantinya tidak bertingkat seturut kebiasaan nelayan Bugis Makassar yang lebih nyaman dengan rumah tapak.

Usman juga berharap uluran tangan warga KKSS  lainnya yang berkecukupan untuk meringankan warganya. “Ketua KKSS Bali Pak Zaenal Tayeb, sering membantu,” imbuh Usman.

Lahan Bersertifikat  

Terkait peruntukan lahan buat warga nelayan desa Serangan ini, masyarakat adat Serangan sudah menyepakati dan menerima warga Kampung Bugis Serangan, untuk berdomisili di wilayah setempat.

Wakil dari Kampung Bugis dan Wakil Masyakarat Adat Bali berkomitmen bersama sebagai sesama warga bangsa di depan Kepala Kantor Pertanahan Denpasar Sudarman Harja Saputra di Denpasar, Bali, 19 September 2019 lalu.

Waktu itu Ketua Dewan Kehornatan KKSS Jusuf Kalla yang masih menjabat wakil presiden mengutus Muchlis Patahna menjadi penghubung warga Kampung Bugis dan Pemerintah Provinsi Bali untuk dicarikan solusi.

Menurut Muchlis, warga Kampung Bugis pengungsian akan menempati rumah permanen yang dibangun di Serangan. “Saat ini sudah ada pembuatan jalan menuju akses ke permukiman warga Serangan,” ujar Muchlis saat dikonfirmasi PINISI.co.id.

Lebih dari itu, kata Muchlis, lahan warga telah mendapat sertifikat kepemilikan lahan yang sudah diterbitkan bersamaan pada Hari Agaria Nasional, 24 September 2019 lalu, Sertifikat lahan ini atas nama Yayasan Kampung Bugis,” jelas Muchlis Patahna

Seperti diketahui, 14 September 2019 di pantai Jimbaran Bali, Muchlis yang saat itu Wakil Ketua Umum KKSS mempertemukan utusan warga Kampung Bugis bersama Kepala Kanwil BPN Bali Rudi Rubijaya dan Kepala Kantor Pertanahan Denpasar Sudarman Harja Saputra

Empat tahun terkatung-katung, warga Kampung Bugis di Bali bakal lebih tenang. Mereka akan menempati permukiman di Serangan yang dalam proses pengerjaan infrastruktur.

Kasus sengketa lahan ini menjadi silang rebutan antara warga Kampung Bugis dengan oknum di kampung Bugis.  

Warga akhirnya menetap sementara di pesisir pantai, akibat tergusur oleh pihak yang memenangkan gugatan di pengadilan. 

Warga di situ kemudian menggugat balik dengan alasan bahwa lahan seluas 94 are itu sendiri adalah pemberian Raja Pemecutan untuk pelaut-pelaut Bugis yang bermigrasi ke Bali sejak abad 17.

Menurut Muchlis, selama ini Pemprov Sulawesi Selatan dan Makassar Golf Club Jakarta dan Gemilar KKSS, rutin menyumbang logistik berupa beras dan bahan kebutuhan pokok lain untuk warga di pengungsian. 

Selain di Serangan, orang Bugis juga mudah dijumpai di kawasan pesisir di Suwung, Kepaon, di Kabupaten Badung, Tuban, Tanjung Benoa hingga di Pulau Nusa Pedina. Orang Bugis juga dikenal sebagai pembawa ajaran Islam di Pulau Dewata itu. (Lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here