Embun Pagi di Kali Ciliwung dan Wisata Getek Betawi Tempo Dulu

0
326

Kolom Fiam Mustamin

DIBALIK seringnya banjir lumpur yang meluap menggenangi perumahan warga dan merusak semua barang yang  tergenang.

Saya menyaksikan embun pagi di permukaan air kali Ciliwung.

- Advertisement -

Kota Jakarta/ Betawi di tahun 1950 an, kali Ciliwung airnya jernih dan bersih dipakai untk mandi dan mencuci pakaian.

Saya menyaksikan pemandangan embun di permukaan air Ciliwung  yang tenang  di waktu olahraga pagi usai sholat subuh.

Selain itu, kali Ciliwung juga digunakan sebagai sarana transportasi untuk mengangkut dagangan buah-buahan dan sayuran dari Pasar Minggu ke  perumahan elit Menteng, kawasan Kota, Sunda Kelapa dan Jatinegara.

Saya bermukim sudah 20 tahun di kampung Keramat Cililitan dekat dengan kali Ciliwung.

Di wilayah itu bermakam Habaib, penyiar agama dari Arab Timur TengahTengah, antaranya Syech Al Hawi. Di wilayah itu bermakam Datuk Tonggana di kampung Makassar. Datuk Giong, Merah dan Ibrahin leluhur orang Betawi, Bugis dan Makassar bermakam di Condet yang tak berjauhan.

Di pagi hari, udara sejuk tumbuh pepohoanan yang rimbun di bantaran kali secara liar dari biji yang terbawa oleh banjir.

Babe dan Nyak di Beranda Rumah Kayu

DALAM penerawangan suatu perjalanan, saya menghidupkan kehidupan orang Betawi di tahun 1950 an.

Saya star memulai perjalanan mengayuh getek dari Depok menyusuri kali Ciliwung  untuk menyaksikan aktivitas orang Betawi di sekitar permukiman bantaran kali.

Saya menyaksikan Babe/ bapak dan Nyak/ ibu sedang duduk berdua di balai beranda rumah kayu beralas/berubin tanah.

Babe mengenakan pakaian baju kaus oblong putih, celana cingkrang bercorak batik, kopiah warna kemerahan dan sarung yang disandang di bahunya, melilitkan sabuk ikat pinggang lebar dengan menyelipkan sebilah golok.

Sementara Nyak mengenakan kebaya Encing, bersarung panjang ornamen batik dan berkerudung.Mereka berdua duduk bersila mencicipi dengan lahap hidangan lontong sayur, sambel terasi cabe kecil, rebusan singkong dan ubi.

Di areal kiri dan kanan rumah Babe adalah kebonnya yang penuh dengan tanaman buah antara lain : Duku, Rambutan, Mangga, Manggis, Kecapi, Kenari, Jamblang, Jambu, Pisang,  Pepaya,  Singkong dan Ubi.

Hajatan Perkawinan

BEBERAPA kilometer dari jarak rumah Babe daerah Pasar Minggu, dari kejauhan terdengar alunan musik dan riuh pengunjung. Di perkampungan itu sudah terpasang umbul-umbul, janur dan monster ondel-ondel menandakan sedang ada perhelatan rakyat.

Di area terbuka itu terbangun panggung untuk pertunjukan musik Tanjidor, Gambang Kromong dan Pencak Silat berbalas pantun.

Di panggung lain untuk pertunjukan teater Lenong dan tarian khas Betawi seperti Jali-Jali.

Di keramaian itu tersaji aneka makanan dan kue-kue kering dan basah seperti Lontong Sayur, Kerak Telor, Soto Betawi,  Ketan Kuning bumbu serundeng, Kering Kentang, Manisan Gado Gado, Tape Uli, Akar Kelapa, Kembang Goyan, Kue Dongkal, Ceplak, Rangi, Wajik Ketan warna-warni dan minuman Bir Pletok dengan 9 macam ramuannya, berkhasiat untuk meningkatkan imunitas dan vitalitas tubuh.

Getek terus digayuh mendekati areal Batu Ampar, boca- bocah perempuan itu meloncat dari getek yang ditambatkan berenang mencari ikan-ikan kecil untuk dijadikan ikan hiasan disimpan dalam stoples.

Tak jauh dari situ di pertigaan kali yang lebih dalam, bocah-bocah laki-laki yang bertelanjang berebut memanjat pohon untuk meloncat dengan aksi salto.

Loncatan dan aksi yang sempurna mendapat tepuk tangan yang menyaksikannya.

Tak lama kemudian sampailah di dermaga akhir di aliran kali yang berbentuk U, bisa disebut sebagai delta Ciliwung berdekatan dengan permukiman Kalibata Indah dan Kalibata Mall.

Mengakhiri tulisan penerawangan imajinatif  ini saya melihat kemungkinan Kali Ciliwung itu menjadi obyek wisata menarik seperti judul di atas.

Getek bukan lagi bambu yang disusun dan dirakit tapi dimodifikasi seperti kafe  terapung mempunyai restoran mini yang digerakkan dengan mesin dan bisa berfungsi sebagai restro/kafe untuk melepas kepenatan kesumpekan di tengah sungai.

Yuk jalan jalan ke pasar minggu.

Mencari buah kecapi dan jamblang.

Bila tak ada urusan penting tetap saja berdiam di rumah.

Menjaga diri dan keluarga
dari wabah virus korona yang semakin mengganas.

Referensi nama aneka kuliner khas Betawi ini dari Jeng Ayu, karyawan senior Sriwijaya Hotel, alumnus Akademi pariwisata Yogya.

Beranda Inspirasi Ciliwung 4 Juli 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here