Dr.Adin Bondar, M.Si. “Orang Berdaya Kaya Literasi”

0
849

Judul Buku : Literasi Berawal dari Diksi, Berakhir Pada Aksi
Penulis : Dr.Adin Bondar, M.Si.
Penerbit : Yapensi
Editor : Bachtiar Adnan Kusuma
Tahun terbit : 2023
Genre : Non Fiksi
Jumlah halaman : (xxiv) 248

PINISI.co.id- Dr.Adin Bondar,M.Si. penulis yang tumbuh dari belantara dunia literasi menghadirkan limpahan gagasannya kepada pembaca dengan sangat vulgar. Buku ini sekaligus menjelaskan bahwa pilihan sebagai pejuang literasi bukanlah hal yang mudah. Namun langkahnya jelas, melalui dunia literasi mereka akan bekerja untuk Indonesia. Memilih untuk bermakna bagi bangsa dengan jalan literasi demi membangun manusia Indonesia yang berkarakter dan maju.

Buku yang merangkum kumpulan tulisan berisi gagasan dan pemikiran yang dapat menjadi inspirasi bagi pembaca. Jejak awal penulis berkarir pada Perpustakaan Nasional tempatnya mengabdikan separuh hidupnya. Menetapkan hati berkarya di jalan literasi hingga sekarang dipercaya sebagai Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional RI.

Bagi pembaca, buku ini penting untuk memahami peta jalan berliku yang harus ditempuh oleh pejuang literasi. Jalan yang tidak mudah tentunya sehingga dunia literasi sesungguhnya juga ajang pengabdian. Dunia yang memberi kesempatan orang-orang yang punya keikhlasan tingkat tinggi untuk memberikan bakti dan bukti, bukan sekadar janji-janji. Disinilah juga menjadi nyawa buku ini, bahwa “Literasi Berawal dari Diksi, Berakhir pada Diksi”. Ini prasyarat mutlak berjuang di dunia literasi, tidaklah berharap balas budi, atau nilai ekonomi. Inilah jalan Tuhan bagi penulis. Kelak satu masa nanti, semua amanat ini wajib dipertanggungjawabkan kepadaNya.

Apresiasi yang tinggi patut diberikan kepada Adin Bondar, penulis yang telah meluangkan waktu untuk membagi pengalamannya dalam dunia literasi. Seperti disampaikannya bahwa mimpi itu sengaja ditulis, sebab kalaupun bukan di tangan ini mimpi-mimpi itu dapat terwujud, semoga di tangan generasi mendatang semua mimpi itu akan jadi kenyataan. Namun untuk mewujudkan semua mimpi dan cita-cita maka harus dibangun budaya baca yang tinggi. Sebab, tak ada satupun individu atau komunitas maupun bangsa yang maju bila masyarakatnya tidak memiliki budaya kegemaran membaca dan berliterasi tinggi. Dalam upaya membangun kemajuan bangsa, budaya literasi menjadi bekal yang sangat esensial dan fundamental agar sumber daya manusia mampu meningkatkan pencapaian pada seluruh indikator kinerja makro pembangunan.

Jika pengertian literasi masih sering berkeliaran dalam definisi yang dibangun sendiri-sendiri, maka Adin Bondar mendeskripsikan literasi sebagai kemampuan (ability) memahami, menganalisis, mensintesakan bahkan mampu menciptakan barang dan jasa, bukan sekadar kegiatan membaca, menulis, berhitung dan berbahasa. Tujuannya untuk mewujudkan masyarakat yang berpengetahuan, inovatif, kreatif, adaptatif sehingga masyarakat menjadi produktif. Karena itu ekosistem budaya membaca harus didorong karena cukup bertenaga dalam alih ilmu pengetahuan atau “Transfer of Knowledge”.

Pengayaan terhadap literasi Adin Bondar sangat menarik, bahwa aksi literasi seharusnya berdaya-dorong terhadap tumbuhnya perekonomian. Adin Bondar menguraikan basic kritikannya terhadap teori ekonomi klasik, menyebutkan pemicu pertumbuhan ekonomi adalah sumber daya alam, tenaga kerja serta modal yang banyak. Akan tetapi faktanya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, teori itu tereduksi. Sekarang yang tengah terjadi adalah “Knowledge of Driven Economy” yaitu pengetahuan menjadi kunci utama dalam pertumbuhan dan perkembangan perekonomian suatu negara. Inilah alasannya mengapa literasi harus mengakar dan dikembangkan sejak dini pada setiap individu.

Sebagai strategi pengembangan budaya literasi, penulis membagi tiga cluster utama, yaitu keluarga, satuan pendidikan, dan satuan masyarakat. Keluarga ditempatkan oleh penulis sebagai pranata sosial utama dan terdepan karena habitat membaca harus dibiasakan sejak usia anak-anak. Klimaksnya adalah tatkala mereka dewasa diyakini akan memiliki bekal kemampuan pemikiran terstruktur, imajinatif, kritis, adaptif terhadap perkembangan lingkungannya.

Gerakan literasi juga haruskan ditanamkan pada satuan pendidikan untuk setiap jenjangnya. Dengan literasi yang solutif dapat bertumbuh budaya produktif di kalangan anak muda. Terakhir adalah satuan masyarakat melalui gerakan kolosal literasi yang berbentuk social movement. Masyarakat diakui memiliki peranan esensial dalam rangka membangun budaya literasi yang kuat.

Dasar reasonal tersebut menurut Adin Bondar yang menjadi roh pengembangan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial untuk Kesejahteraan yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional. Perpustakaan menjadi ruang terbuka untuk belajar kontekstual, ruang terbuka untuk berbagi pengalaman bagi masyarakat, dan juga ruang terbuka untuk meningkatkan keterampilan hidup masyarakat. Sehingga, gerakan literasi di tengah-tengah masyarakat dapat menjadikan masyarakat menjadi cakap dalam hidupnya, bisa mendapatkan ide-ide baru dan bagus, sehingga mampu melakukan berbagai inovasi dan kreasi sesuai dengan potensi dirinya dan potensi lingkungannya.

Visi penulis menukik jauh ke depan menjadikan budaya literasi dalam ekosistem yang kontributif untuk Indonesia Maju pada 2045. Mempersiapkan anak-anak muda yang produktif bermodalkan bonus demografi 65% anak-anak muda yang akan menjadi busur Indonesia Emas. Tidak salah jika kemudian buku ini dapat menjadi rujukan bagi pustakawan, pegiat literasi dan pemerintah. Utamanya dalam menyusun strategi pengembangan dan program serta perencanaan budgeting terkait dengan perpustakaan.

Patut pula pembaca berterima kasih kepada Bachtiar Adnan Kusuma, Tokoh Literasi dan aktivis perbukuan nasional yang telah menyulam gagasan-gagasan penulis dalam sebuah menjadi buku yang indah dan menarik untuk dibaca. Akhirnya, buku ini menubuatkan, jika ingin berdaya maka perkayalah literasi.

(Herman Lilo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here