Diskusi Hari Anak Nasional Tahun 2020. Gizi dan Sehat untuk Anak Indonesia

0
983
- Advertisement -

Mewujudkan Generasi Emas Indonesia Sejak Usia Dini

PINISI.co.id- Setiap23 Juli kita peringati Hari Anak Nasional.  Ini yang menggugah Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Departemen Kesehatan BPP. KKSS, Bakornas LKMI PB. HMI dan, www.sadargizi.com., menghelat diskusi virtual dengan tema Gizi dan Sehat untuk Anak Indonesia, Mewujudkan Generasi Emas Indonesia Sejak Usia Dini, (4/7/20).

Penyelenggara diskusi Ketua Departemen Kesehatan BPP KKSS dr. Zaenal Abidin mengutip rekomendasi diskusi publik yang pernah dilakukan sembilan tahun silam. Saat itu Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi dan Lembaga Kajian Kesehatan dan Pembangunan (LKKP) menyelenggarakan diskusi dalam rangka Hari Anak Nasional bertajuk: “Gizi Salah, Otak Kosong, Bangsa Sakit, Siapa yang Bertanggung Jawab?”

Rekomendasi ini dimuat di PINISI.co.id pada 5 Juli 2020.

Pada diskusi ini, Dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK., sebagai dokter spesialis gizi klinik mengupas dari sisi gizi dan kesehatan, sementara Dinuriza Lauzia , M.Psi., sebagai psikolog membahasnya dari aspek seorang psikolog.

- Advertisement -

Moderator dr. Muh. Fachrurrozy Basalamah, Direktur Bakornas Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam PB HMI.

Lewat paparannya, Tirta Prawita Sari memulainya dari fase sembilan bulan semenjak hamil hingga dua tahun setelah dilahirkan.  Gizi optimal tidak disiapkan baru ketika anak lahir, tetapi ia disiapkan jauh sebelumnya. Karena itu ketika akan melahirkan generasi unggul, generasi emas maka harus disiapkan jauh sebelum anak itu lahir.

“Sesungguhnya kehidupan seseorang kita melihatnya sebagai siklus sehingga saling berkaitan. Apa pun yang terjadi pada seseorang dalam suatu waktu pada umur tertentunya maka perkembangan pada umur tententu tersebut akan dibawah kepada kelompok umur berikutnya,” kata Tirta.

Hal yang paling nyata, menurut Tirta, anak yang dilahirkan dalam keadaan baik, in syaa Allah dan sesungguhnya ia telah mendapatkan perawatan kesehatan, mendapatkan asupan gizi, mendapatkan kasih sayang semenjak sebelum ia dilahirkan, yakni ketika masih dikandung oleh ibunya selama sembilan bulan.

Menurut Tirta, pelayanan/asupan gizi dan pemberian kasih sayang yang dilakukan selama sembilan bulan ini tentunya telah pula disiapkan oleh sang ibu jauh sebelum ia mengandung. Yaitu, pada saat ia mulai remaja, mulai pubertas, saat organ-organ reproduksinya mulai terbentuk. Pada saat inilah merupakan masa awal, di mana seorang ibu berinvestasi menyiapakan diri untuk melahirkan generasi unggul.

“Contoh yang patologisnya, bayi yang memiliki berat badan lahir rendah (BBLR) sebenarnya merupakan hasil dari ibu yang ketika ia hamil menderita kurang energi kronik dan sepanjang kehamilannya kenaikan berat badannya sangat rendah sehingga anaknya dilahirkan dengan BBLR. Kemudian tumbuh menjadi balita yang kurang energi protein, lalu berkembang menjadi anak usia sekolah, remaja yang mengalami ganguan pertumbuhan dan seterusnya, seperti sebuah siklus yang bila tidak segera diputus maka akan menjadi lingkaran setan yang berulang-ulang,” urainya. 

Tirta menunjuk riset kesehatan dasar 2018 (Riskesda 2018), yang menyebutkan masalah yang dihadapi Indonesia dikerucutkan pada satu pada satu persoalan yang terus-menerus digaungkan dan dikampanyekan untuk menjadi perhatian bersama. Masalah gizi Indonesia yang paling terkenal yakni stunting.

Stunting buka hanya masalah gizi yang dialami oleh orang Indonesia, tapi dialami sebagian besar penduduk di dunia, terutama negara-negara berkembang. Stunting mendapat perhatian khusus karena ia memiliki dampak, dan ia juga merupakan indikator yang paling penting untuk menunjukkan masalah gizi secara keseluruhan pada suatu negara. Stunting pada Riskesdas 2018, baik pendek maupun sangat pendek ditemukan sebesar 30,18%, mengalami sedikit penurunan dari sebelumnya,” ungkap Tirta.

1000 Hari Pertama

Sementara Dinuriza Lauzi, ketika berbicara 1.000 hari pertama pada bayi maka memang tidak bisa fokus kepada si bayinya saja, karena bayi 0-2 tahun itu sangat bergantung dengan ibu. Karena ibu adalah figur utama yang menjadi sumber kebergantungan bayi pada periode awal pertumbuhan dan perkembangannya. Ibu dan bayinya adalah satu paket. Maka memperhatikan kondisi mental ibu menjadi penting seiring kondisi asupan mental pada bayi usia 0-2 tahun. 

“Pada periode awal bayi khususnya usia 0-5 bulan, ibu adalah penyedia asupan gizi utama bagi bayi melalui asi eksklusif sebelum adanya MPASI. Ibu yang memiliki kondisi psikologis yang bahagia dan positif akan mudah memberikan asupan mental yang positif terhadap bayinya. Bayi akan merasakan kasih sayang ibu, penerimaan juga kedekatan emosional yang terbangun melalui aliran ASI,” tuturnya. 

Untuk mendapatkan kondisi psikologis ibu yang positif, maka lanjut  Dinuriza,  kita runut ke belakang sejak  masa kehamilan. Karena proses psikologis seorang ibu terhadap bayinya sudah dimulai sejak ibu pertama kali melihat hasil tes pack. Perasaan bahagia ibu yang melihat 2 strip hasil tes pack, kemudian disusul dengan perjalanan kondisi kehamilan mulai dari trimester pertama hingga trimester akhir akan menjadi dasar bagaimana kondisi psikologis ibu saat melahirkan bayinya.

“Perasaan yang berkecamuk antara bahagia, cemas, khawatir, takut, senang dan sebagainya akan dirasakan ibu selama proses hamil dan diawal kelahiran bayinya. Hal ini khususnya bila ibu baru pertama kali punya pengalaman memiliki anak,” ucapnya menambahkan. 

Kalau mengikuti kondisi psikologi si ibu, hingga hari kelahiran, kata Dinuriza, di situlah 1000 hari pertama kehidupan si bayi dilihat. Akan dilihat bagaimana pola pengasuhan, pola pendidikan kepada si bayi tersebut. 

“Jadi, asupan mental pada bayi 0-2 tahun sangat penting, karena kita sedang berbicara tentang manusia dimana manusia memiliki konsep-konsep yang sangat dinamis dan kompherensif yang tidak hanya terdapat aspek fisik saja tapi juga ada aspek mental psikologis yang masuk ke perkembangan seorang anak atau seorang individu,” bebernya.

Karena itu, 1.000 hari pertama, menurut Dinuriza, kehidupan anak dimulai sejak usia 0-2 tahun merupakan masa-masa kita menanamkan pondasi dasar pembentukan karakter.  Pada fase inilah bayi belajar untuk menguasai aspek-aspek fundamental perilaku yang akan berlanjut ke fase selanjutnya dalam tumbuh kembang anak tersebut.

“Di sini bayi mulai belajar untuk adaptasi, pengendalian juga disiplin. Tiga aspek dasar yang secara signifikan memberikan pondasi pembentukan kepribadian anak di masa yang akan datang di fase perkembangan selanjutnya,” kunci Dinuriza. [Man]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here