Dialog Imajiner dengan Ibu Pertiwi

0
970
- Advertisement -

Kolom Ruslan Ismail Mage

Sebagai akademisi ilmu politik sekaligus inspirator, saya sudah menulis dan menerbitkan lima buku motivasi kehidupan sejak musim pandemi Covid-19 melanda negeri ini. Pertama, Pena Cinta Sang Inspirator (Rekontruksi Ulang Perjalanan Cinta Sawerigading ke Negeri Cina Menemui Kekasihnya We Cudaik). Kedua, 21 Hukum Kesuksesan Sejati (edisi revisi). Ketiga, Kado Buku untuk Sahabat (Transformasi Satu Dasawarsa Gerakan Pencerahan Ruslan Ismail Mage). Keempat, XYZ Writing (Panduan Menulis Praktis bagi Siswa, Mahasiswa, dan Aparatur). Kelima, Sumpah Pena (Why, How, and What Generations Write). Dan masih ada dua naskah buku motivasi yang siap masuk “Bengkel Narasi” lagi, untuk dilajutkan ke penerbit Elfatih Media Insani.

Entah kenapa, tanggal 20 Mei 2021 (Hari Kebangkitan Nasional) jiwaku tersentak dari lamunan. Seperti ada sesuatu yang kurang dalam pikiranku sebagai akademisi ilmu politik yang selama satu dasawarsa terakhir ini konsisten mengamati, mencatat, mengkritisi, dan menulis hampir semua masalah sosial, budaya, politik, ekonomi, dan hukum, yang melanda negeri ini.

Hari kebengkitan nasional kali ini sepertinya membangkitkan kembali nyaliku dan daya kritisku dalam menulis tentang politik, keadilan dan penegakan hukum, khususnga demokrasi bangsaku yang sedang dikudeta dari dalam. Saya sepertinya disentil Ibu Pertiwi karena dianggap sudah mulai mengabaikannya.

Dalam dialog imajinerku, Ibu Pertiwi menjelaskan kondisinya. Ia mengatakan, kalian sebagai anak bangsa yang selama ini kritis, setia menjagaku dan memeliharaku, jangan mengira aku ini dalam keadaan sehat-sehat saja. Kondisiku dalam keadaan terpuruk, bahkan bisa jadi aku mati dan hilang dalam peta dunia. Lebih menyedihkanku lagi, karena mahasiswa kini lebih memilih jalan sunyi, para aktivis mulai membisu, orang terdidik berlomba menjadi bangian dari propaganda politik atas nama kapitalis, kehidupan pers tengkurap, petinggi-petinggi kampus hanya sibuk memikirkan hidup dan mengabaikan kehidupan. Para pemeluk agama berlomba menceramahi ribuan manusia tapi melupakan kemanusiaan.

- Advertisement -

Air mataku sudah kering, suarakupun sudah habis berteriak, wahai anak bangsa! Selamatkan ibu pertiwimu ini (tanah tumpah darahmu), tetapi kalian lebih memilih diam membisu dan hanya mampu menggerutu. Kalau kalian kaum terdidik hanya diam dan membisu membiarkan tanah negeri yang subur ini dihabisi tikus-tikus peliharaan manusia serigala, jangankan pintu surga, pintu neraka pun tidak akan terbuka untukmu. Karena engkau tidak menjaga kekayaan alam negerimu yang telah dianugrahkan melimpah oleh Allah Swt.

Astaghfirullah hal adzim, kataku membatin. Baru sadar kalau ternyata sebagai anak bangsa kita memiliki dua ibu yang wajib dijaga dan dihormati, yaitu “Ibu kandung” yang melahirkan, dan “Ibu Pertiwi” tanah tumpah darah kita. Tempat kita dilahirkan, bertumbuh, dan berkembang.

Bertepatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2021, saya bersumpah kembali untuk konsisten menjaga kedua ibuku dengan pedang penaku yang tajam setajam silet. Pedang yang paling ditakuti oleh semua panglima perang terkejam di dunia sekali pun. Sebagaimana kata Machivelli, “Aku lebih memilih berhadapan dengan ribuan tentara musuh dibanding harus berhadapan dengan satu orang penulis (wartawan).

Hasil dialog imajinerku dengan Ibu Pertiwi, membuat pedang penaku kembali menggeliat, menggali data, merangkum fakta, menulis dan menerbitkan buku “Radikalisme, Demokrasi, dan Kemiskinan (Merenung Kebijakan Merenda Kesejahteraan).” Menyusul dua naskah buku lagi. Pertama, Pers Madu Racun Demokrasi (Kado Buku untuk Jurnalis). Kedua, Kado Buku untuk Demokrasi (Catatan Kritis Pemilu 2019 dan Pemilukada Serentak di Tengah Pandemi).

Penulis : Akademisi Ilmu Politik, Inspirator dan Penggerak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here